Dogmatika

MINGGU PENGHAKIMAN AKHIR

RENUNGAN SETIAP HARI DARI FIRMAN ALLAH MENURUT BACAAN GEREJA ORTHODOX

Oleh: Janasuci Theophan Sang Penyendiri

Penterjemah: Arkhimandrit Daniel B.D.Byantoro

I Korintus 8:8-9:2, Matius 25:31-46

Penghakiman yang Mengerikan dan Menakutkan! Sang Hakim datang di awan-awan, dikelilingi oleh suatu rombongan dari para kuasa sorgawi yang tak berbadan jasmani – para malaikat – yang tak terhitung jumlahnya. Sangkakala-sangkakala berbunyi bersahut-sahutan ke segenap penjuru dunia untuk membangkitkan orang-orang mati. Kerumunan orang-orang yang dibangkitkan dari mati yang tak terhitung jumlahnya itu bertumpah ruah ke tempat yang telah ditetapkan sebelumnya, yaitu ke hadapan Tahta Sang Hakim, dengan memiliki firasat akan ketetapan penghakiman apa yang akan mereka dengar di telinga mereka. Karena perbuatan tiap-tiap orang itu tertulis di dahi kodrat keberadaan mereka, dan penampilan-penampilan wajah mereka itu sendiri akan sesuai dengan perbuatan-perbuatan dan akhlak mereka. Pembagian dari mereka yang berada di sebelah kananNya dan mereka yang berada di sebelah kiriNya dicapai di dalam dan pada dirinyasendiri. Pada akhirnya semuanya telah ditetapkan. Kesenyapan yang amat sepi mencekam semua. Pada saat cepat yang lain, ketetapan penghakiman Sang Hakim yang menentukan pun terdengarlah: kepada sebagian orang ” Marilah!”, dan sekelompok orang yang lain :”Pergi-Menyingkirlah!” “ Kasihanilah kami, ya Tuhan, kasihanilah kami!” “Kiranya belas-kasihanMu, ya Tuhan, berada diatas kami!” mereka akan berkata, tetapi pada saat itu akan sudah terlambat untuk memohon kepadaNya. Kita perlu menyibukkan diri kita sekarang untuk membasuh bersih jejak-jejak kekotoran hawa nafsu dan dosa yang tertulis dalam kodrat kita. Pada Hari Penghakiman, kita boleh saja siap untuk mencurahkan sungai air mata yang deras bagi membasuh bersih diri kita, tetapi itu tak akan memberikan apapun yang baik buat kita pada saat itu. Marilah kita menangis sekarang – jika bukan sungai air mata, maka setidak-tidaknya, parit airmata, jika bukan parit, maka paling tidak tetesan air mata. Jika kita tak dapat menemukan sebanyak itu, makamarilah kita menjadi penuh tobat dalam hati, dan mengakui dosa-dosa kita kepada Tuhan, memohon padaNya untuk mengampuni dosa-dosa itu, dan berjanji untuk tak membuatNya untuk tak berkenan lagi pada kita melalui pelanggaran perintah-perintahNya. Maka marilah kita dengan semangat untuk secara setia menggenapi janji ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *