Dogmatika

MINGGU KETIGA PUASA CATUR DASA (PRA-PASKAH):MINGGU GREGORIUS PALAMAS

RENUNGAN SETIAP HARI DARI FIRMAN ALLAH MENURUT BACAAN GEREJA ORTHODOXOleh: Janasuci Theophan Sang PenyendiriPenterjemah: Arkhimandrit Daniel B.D.Byantoro

1)Ibrani 1:10-2:3; Markus 2:1-12

“Akulah pintu; barangsiapa masuk melalui Aku, ia akan selamat” (Yohanes 10:9).

Tuhan kita mengatakan hal yang sama di tempat lain:” Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku” (Yohanes 14:6) Dia bahkan dengan lebih ringkasnya meneguhkan hal ini ketika Ia mengatakan:” Di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.” ( Yohanes 15:5) Seorang Kristen adalah seorang pribadi yang sepenuhnya di dalam Kristus dan yang setiap sifat-sifat baiknya itu juga berasal dari Kristus. Pembenarannya oleh Kristus, dan tubuhnya juga berasal dari Kristus. Orang yang sedang diselamatkan itu sedang diselamatkan karna dia dijubahi dengan Kristus, Sang Bapa itu hanya dapat didekatiolehnya, jika dia didalam keberadaan seperti itu. Kita telah terjatuh dari Allah, dan karena itu tunduk pada murkaNya. Hanya kalau kita mendekat di dalam Kristus, demi Kristus saja, penghakiman Allah diundurkan dan belas-kasihanNya menjangkau kita dan menerima kita sementara kita mendekatiNya. Meterai Kristus itu tercetak di seluruh kodrat dari seorang Kristen, dan orang yang membawa meterai ini akan berjalan melewati lembah bayang-bayang maut dan tak takut apa yang jahat (bdk, Mazmur 23:4).Agar menjadi seperti ini kita memiliki Sakramen-Sakramen – Baptisan dan Perjamuan Kudus, yang mana Sakramen Pengakuan Dosa berfungsi sebagai pengantara bagi mereka yang berbuat dosa setelah Baptisan. Tetapi ini adalah karunia dari pihak Tuhan. Kita harus menjalankn bagian kita untuk mengolah roh penerimaan: a) iman yang mengakui :”Aku terhilang dan hanya dapat diselamatkan oleh Tuhan Yesus Kristus”;b) kasih yang dengan penuh semangat berjuang keras untuk membaktikan diri segala sesuatunya kepada Tuhan dan Sang Juruselamat itu; c) tak menyayangkan apapun, d) mengharap yang tidak mengaharapkan dalam dirinya sendiri; tetapi hanya dalam jaminannya bahwa Tuhan tidak akan membiarkan kita dan akan menolong kita dalam setiap jalan, baik secara batiniah maupun secara jasmaniah.sepanjang hidup kita, sampai harapan kita membawa kita ketempat dimana Dia sendiri berada. 1) Janasuci Gregorius Palamas : adalah seorang Episkop dari Tesalonika, Yunani Utara. Sebelumnya beliau adalah seorang rahib (biarawan) di Gunung Athos yang terletak di Semenanjung Khaldiki, Yunani Utara, 2 jam dengan kendaraan dari kota Tesalonika. Ini adalah suatu pusat kehidupan ke-Rahib-an yang amat terkenal dalam dunia Orthodox, yang sudah lebih dari 1000 tahun menjadi pusat kehidupan rohani dari Gereja Orthodox seluruh dunia. Para rahib di Gunung Athos mempraktekkan doa yang disebut “Doa Puja Yesus” dengan menjadikan nama Yesus Kristus sebagai fokus doa. Ini dilakukan sambil mengucapkan secara pelahan-lahan nama Yesus Kristus secara terus-menerus:” Tuhan Yesus Kristus, Anak Allah, kasihanilah hamba, orang berdosa ini”. Doa ini sekarang menjadi praktek semua umat Orthodox, bukan hanya Rahib saja, di seluruh dunia. Ketika kata per kata dari doa ini diucapkan, diikuti dengan pengendalian atas keluar-masuknya nafas, orang yang berdoa itu membawa pikiran pelan-pelan kebawah dipusatkan kedalam hati yang ada di dalam dada. Kesatuan antara pikiran dan hati ini, disatukan dengan Nama Yesus Kristus yang diucapkan itu, dengan mata diarahkan kebawah dada sebagai pemusatan pikiran tadi. Dengan hadirNya Yesus Kristus, melalui NamaNya yang diseru terus-menerus dalam doa ini, energia Allah oleh karya Roh Kudus bekerja dalam hati orang yang berdoa tersebut. Sehingga setelah mereka yang mempraktekkan Doa Puja Yesus ini, yang disertai dengan kerendahan hati, perlawanan terhadap hawa-nafsu yang muncul dalam pikiran, hati, perasaan, dan angan-angan, serta mempraktekkan cinta kasih dan kekudusan, dengan mentaati Puasa-Puasa serta kehidupan Sakramental yang menjadi praktek Gereja Orthodox dan mempelajari.mendalami serta menterapkan firman Allah dari dalam Alkitab, dan terlatih dalam praktek Doa Puja Yesus ini begitu lama, melalui bimbingan dan ketaatan kepada seorang bapa rohani yang sudah menapak jalan kekudusan dan berpengalaman dalam praktek Doa Puja Yesus ini, oleh kasih-karunia Allah, sebagian dari orang-orang ini mengalami melihat apa yang disebut sebagai Energi Ilahi, dalam bentuk “Cahaya Tak Tercipta”. Sehingga mereka melihat Allah melalui kehadiranNya dalam EnergiNya. Pada saat abad ke 14 itu ada seorang Uskup “Uniat” (“Orang yang mempraktekkan bentuk luar Ibadah dan Tradisi Orthodox, tetapi yang tunduk kepada Paus di Roma, dan mengikuti sistim pemikiran theologia Gereja Barat-Roma Katolik”) dari Calabria, Italia, bernama Varlaam, dan mempunyai seorang murid yang ber-etnis Yunani bernama: Akyndinos. Mereka mengkritik praktek para Rahib Orthodox di Gunung Athos tersebut. Mereka menghina dan mengejek para Rahib Orthodox itu sebagai “Perenung-Perenung Pusar” karena praktek para Rahib yang mengarahkan mata mereka ke dada bagian bawah itu, waktu melakukan Doa Puja Yesus tersebut. Juga mereka, sesuai dengan pemikiran theologia Barat, mengatakan bahwa “kasih-karunia” itu adalah sesuatu yang diciptakan Allah, maka terang atau cahaya yang dilihat oleh para rahib Orthodox dalam pengalaman Doa Puja Yesus yang mereka alami itu hanyalah symbol dan bersifat tercipta, bukan Terang Tak Tercipta, dan bukan menjadikan mereka betul-betul mengalami kehadiran dan melihat Allah sendiri. Menjawab ejekan dan kritik dari Varlaam dan Akyndinos ini, maka Janasuci Gregorius Palamas mengangkat pena, dan berpolemik dan mendebat kritik Varlaam dan Akyndinos tersebut. Inti dari perdebatan itu adalah penegasan bahwa “Terang” yang dilihat oleh para orang kudus Gereja itu bukanlah Sesutu yang tercipta, namun “Energi ILahi yang Tak Tercipta” yang melaluinya kita manusia itu betul2 dapat mengalami Allah, karena melalui Energi Ilahi yang jika dilihat oleh mata batin berwujud “Cahaya Tak Tercipta” ini manusia mengalami “di dalam Dia kita hidup, kita bergerak, kita ada, seperti yang telah juga dikatakan oleh pujangga-pujanggamu: Sebab kita ini dari keturunan Allah juga.” (Kisah Rasul 17:27), sedangkan dalam Essensi/HakikatNya “ tidak ada orang yang tahu, apa yang terdapat di dalam diri Allah” (I Korintus 2:11), karena Allah itu “bersemayam dalam terang yang tak terhampiri. Seorang pun tak pernah melihat Dia” ( I Timotius 6:16).Perbedaan antara Essensi/Hakekat Allah dan Energi Allah, yang menjadi ciri khas Iman Kristen Orthodox dlam memahami mengenai Allah dalam diriNya sendiri (Essensi/Hakekat Allah) yang tak dimengerti makhlukNya, dan Allah dalam kehadiran di luar diriNya (Energi Allah), dalam interaksinya dengan makhlukNya, dimana Energi Allah itu disalurkan oleh Roh Allah/Roh Kudus sendiri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *