FebruariSynaxarion

Martinian yang Kudus dan Terhormat dari Kaisarea di Palestina [422]

Diperingati oleh Gereja Orthodox pada 26 Februari (Kalender Sipil) / 13 Fabruari (Kalender Gereja Purba)

Js. Martinian pergi untuk hidup di hutan belantara pada usia delapan belas tahun, tidak jauh dari kota Kaisarea di Palestina. Selama dua puluh lima tahun, ia mengabdikan dirinya pada kehidupan dan keheningan pertapa, dan ia diberikan karunia menyembuhkan penyakit dan mengusir setan. Namun, Musuh umat manusia tidak akan berhenti mengganggu pertapa dengan berbagai godaan.

Suatu ketika seorang wanita cabul membuat taruhan dengan beberapa orang yang tak bermoral bahwa dia dapat merayu Js. Martin, yang ketenaran kehidupan salehnya telah menyebar ke seluruh kota. Dia datang kepadanya suatu malam berpura-pura telah tersesat dalam badai, dan meminta tempat berlindung. Orang suci itu membiarkannya masuk, tidak mampu mengusirnya dalam badai seperti itu. Dia pergi ke kamarnya dan mengunci pintu. Tamu jahat itu berganti pakaian yang indah dan mulai menggoda pertapa itu.

Ketika pagi tiba, Js. Martinian keluar untuk mengusir wanita itu.  Meskipun tergoda oleh kecantikan wanita itu, dia bertekad untuk tidak jatuh ke dalam dosa.  Dia menyalakan api, dan melangkah ke dalamnya, berkata, “Engkau ingin aku terbakar dengan godaan, tetapi aku tidak akan menyerah padanya .. Sebaliknya, aku memilih untuk terbakar dalam api ini untuk menjaga kemurnianku dan untuk melarikan diri dari api yang tak terpadamkan yaitu api Neraka.”

Wanita itu takjub akan keteguhan iman Js. Martinian dan dia menyadari betapa jahatnya dia. Dia bertobat dan meminta orang suci itu untuk membimbingnya menuju jalan keselamatan. Js. Martinian menyuruhnya pergi ke Betlehem, ke Js. Paula (26 Januari/ 8 Februari). Di sana dia hidup sebagai biarawati selama dua belas tahun dalam asketisme ketat sampai akhir hidupnya. Nama wanita itu adalah Zoe.

Js. Martinian pergi ke sebuah pulau berbatu yang tidak berpenghuni, dan tinggal di sana di bawah langit terbuka selama beberapa tahun, dipelihara oleh perbekalan yang dibawa oleh seorang pelaut dari waktu ke waktu. Sebagai imbalannya, biarawan  itu menenun keranjang untuknya.

Suatu kali badai dahsyat menghancurkan sebuah kapal, dan seorang wanita bernama Photina terapung di atas puing-puing ke pulau Js. Martinian. Js. Martinian membantunya bertahan hidup di pulau itu. “Tetaplah di sini,” katanya, “karena di sini ada roti dan air, dan dalam dua bulan sebuah kapal akan datang.”

Kemudian dia melompat ke laut dan berenang. Dua lumba-lumba membawanya ke tanah kering. Setelah itu, Js  Martinian menjalani kehidupan pengembara. Kemudian, dia datang ke Athena dan jatuh sakit. Merasakan sudah mendekati kematian, dia pergi ke Gereja dan berbaring di lantai. Tuhan mengungkapkan kepada Episkop Athena siapakah Js. Martinian itu, dan Episkop menguburkan tubuhnya dengan hormat. Ini terjadi sekitar tahun 422.

Troparion Irama VIII

‘Dengan aliran air matamu engkau telah memadamkan nyala api pencobaan, ya Yang Terberkati, dan menjinakkan gelombang-gelombang laut dan amuk binatang-binatang liar, engkau telah berseru, Mahamulia Engkau, ya Sang Mahakuasa, Yang menyelamatkanku dari api dan badai!’

Kontakion Irama II

‘Sebagai seorang Pertapa Kesalehan yang Mahir, seorang Petanding Terhomat atas kehendakmu sendiri, dan seorang Penduduk gurun, kami memuji Martinian yang Selalu-Terhormat dalam Kidungan, sebagaimana layaknya, sebab ia telah menginjak-injak si Ular di bawah kakinya’

oca.org/saints/lives/2019/02/13/100513

.

.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *