FebruariSynaxarion

Makarius Agung yang Kudus dan Terhormat dari Mesir [390]

Diperingati Gereja Orthodox pada 1 Pebruari (kalender sipil) / 19 Januari (Kalender Gereja Purba)

Makarius Agung lahir di kampung Ptinapor di Mesir Bawah. Atas kehendak orangtuanya ia menikah, namun segera menjadi seorang duda. Setelah menguburkan istrinya, ia berkata kepada dirinya sendiri, ‘Perhatikanlah, Makarius, dan jagalah jiwamu, karenanya sepantasnyalah engkau meninggalkan kehidupan duniawi.’ Ia berdoa agar Tuhan mengaruniakan seorang penuntun dalam Jalan Keselamatan, dan Tuhan mengutus seorang Penatua Rahib yang menerima dan menuntunnya. Episkop setempat tiba di Ptinapor dan mentahbiskannya menjadi Klerus, namun ia secara rahasia mengundurkan diri ke tempat lain.

Iblis berusaha memerangi Makarius. Ia difitnah berbuat dosa dengan seorang gadis dari kampung berdekatan. Ia diseret dan dicemooh, namun hal itu ditanggungnya dengan kerendahan hati. Makarius bekerja memelihara gadis itu dan tidak membela dirinya dari tuduhan. Kemudian, karena tidak bisa melahirkan, gadis itu mengakui telah memfitnah Makarius dan mengungkapkan ayah yang sebenarnya dari anak itu. Makarius pergi menetap di Pegunungan Nitreia di gurun Pharan selama tiga tahun. Ia pergi bertemu Antonius Agung dan menjadi muridnya.

Setelah waktu yang lama, ia pergi ke Skete di barat-daya Mesir. Sebab usia mudanya dan pengalaman hikmatnya yang begitu menojol, ia disebut sebagai Penatua Muda. Makarius sedang membawa cabang-cabang palem dari gurun untuk menganyam keranjang. Iblis yang menemuinya di perjalanan berupaya menyayatnya dengan arit namun tidak sanggup dan berkata, ‘Makarius, aku sangat menderita kesusahan besar darimu sebab aku tidak sanggup menaklukkanmu. Zirahmu yang dengannya engkau terlindungi dariku, adalah kerendahan-hatimu.’

Ketika berusia empat-puluh tahun, ia ditahbiskan menjadi seorang Imam dan diangkat menjadi Bapa-Monasteri Skete gurun. Makarius sering mengunjungi Antonius dan hadir saat wafatnya, serta menerima tongkatnya sebagai penerusnya. Ia menyembuhkan banyak orang yang datang kepadanya dari berbagai tempat. Makarius menangkap seorang pencuri yang sedang memuat barang-barang miliknya ke atas seekor keledai yang sedang berdiri dekat ruangnya. Tanpa menunjukkan bahwa ia pemilik barang-barang itu, ia mulai dengan diam membantunya memuat. Kemudian Makarius berkata kepada dirinya sendiri, ‘Kita tidak membawa apapun ke dunia ini, jelaslah tidak juga mungkin membawa apapun darinya. Terberkatilah Tuhan dalam segala sesuatu!’

Makarius sedang berjalan di perjalanan dan melihat ada tengkorak kepala di atas tanah, dan ditanyainya, ‘Siapakah engkau?’ Tengkorak itu menjawab, ‘Aku dulunya kepala pendeta kaum pagan. Ketika engkau, ya Abba, berdoa bagi mereka yang ada di Neraka, kami menerima sedikit kemudahan.’ Makarius bertanya, ‘Apakah siksaan-siksaan itu?’ ‘Kami duduk dalam Api Besar,’ jawab tengkorak, ‘dan kami tidak melihat satu sama lain. Ketika engkau berdoa, kami mulai agak melihat satu sama lain, dan ini memberi kami suatu penghiburan.’ Makarius mulai meratap dan bertanya, ‘Ada lagikah siksaan-siksaan ganas lainnya?’ Tengkorak itu menjawab, ‘Di bawah kami adalah mereka, yang telah mengenal Nama Allah, namun menolakNya dan tidak menjalankan perintah-perintahNya. Mereka menanggung siksaan yang lebih mengerikan lagi’.

Saat berdoa Makarius mendengar suara, ‘Makarius, engkau telah mencapai pencapaian sedemikian seperti dua perempuan yang tinggal di kota.’ Ia membawa tongkatnya, pergi ke kota, menemukan rumah di mana kedua perempuan itu tinggal, dan mengetuk. Mereka menerimanya dengan sukacita. Makarius berkata, ‘Karena kalianlah aku telah datang dari gurun yang jauh, dan aku ingin tahu mengenai perbuatan-perbuatan baik kalian, ceritakanlah tanpa merahasiakan apapun.’ Mereka menjadi takjub, ‘Kami tinggal bersama suami-suami kami, dan kami tidak memiliki kebajikan apapun.’

Namun Makarius terus bertanya, sehingga mereka menjawab, ‘Kami memasuki pernikahan dengan dua bersaudara kandung. Selama hidup bersama ini kami tidak pernah mengatakan perkataan jahat atau menghina apapun terhadap satu sama lain, dan kami tidak pernah bertengkar satu sama lain juga. Kami meminta suami-suami kami untuk melepaskan kami ke Monasteri perempuan, namun mereka tidak menyetujuinya, dan kami telah bersumpah tidak akan mengucapkan sepatah perkataan duniawipun sampai maut datang.’

Makarius memuliakan Allah dan berkata, ‘Sungguhlah benar bahwa Tuhan bukan mencari anak-dara maupun perempuan yang menikah, bukan juga Rahib atau orang-orang duniawi, namun Dia menghargai niat bebas orang yang dari kehendak bebasnya sendiri mempersembahkan syukur kepada Roh Kudus, Yang bertindak dan memerintah hidup setiap orang yang mendambakan agar diselamatkan’.

Pada masa pemerintahan Valens, Makarius Agung dan Makarius dari Aleksandria ditawan oleh pengikut-pengikut episkop Arius yaitu Lukas. Mereka dikirim ke pulau liar yang didiami orang-orang pagan. Oleh doa mereka, anak perempuan seorang pendeta pagan disembuhkan sehingga seluruh pulau itu menerima Baptisan Kudus. Mengetahui hal ini, Lukas menjadi dipermalukan dan mengizinkan mereka untuk kembali ke Monasteri masing-masing.

Kebaikan Makarius begitu besar sehingga dikatakan mengenainya, ‘Sebagaimana Allah menutupi dunia, begitu juga Abba Makarius menutupi segala pelanggaran yang dilihatnya, seolah-olah tidak dilihatnya, dan didengarnya, seolah-olah tidak didengarnya’. Makarius hidup hingga usia sembilan-puluh tujuh tahun, dan tidak lama sebelum wafatnya, Antonius Agung dan Pakhomius tampak kepadanya menyampaikan pesan sukacita perpindahannya ke Rumah Sorgawi Terberkati. Setelah menasihati dan memberkati murid-muridnya, Makarius memohon pengampunan dari semuanya dan mengucapkan perpisahan dengan perkataan, ‘Kedalam TanganMu, ya Tuhan, kuserahkan rohku’.

Troparion Irama I

‘Sebagai seorang penduduk gurun, seorang Malaikat dalam daging, dan seorang Pengerja-Mukjizat engkau telah nyata, ya Bapa kami yang Membawakan-Allah Makarius, sebab setelah mendapatkan Karunia-Karunia Sorgawi melalui Puasa, Berjaga dan Doa, engkau menyembuhkan mereka yang lemah, dan jiwa-jiwa mereka yang mencari pertolonganmu dengan Iman. Kemuliaan kepadaNya yang telah mengaruniakanmu Kekuatan! Kemuliaan kepadaNya yang telah memahkotaimu! Kemuliaan kepadaNya yang mengerjakan Kesembuhan bagi semua orang melaluimu!’

Kontakion Irama I

‘Setelah dalam hidup mencapai akhir suatu Hidup yang Terberkati bersama Bala Kidungan Para Martir, engkau berdiam di Negeri Orang-Orang yang Lemah-Lembut, sebagaimana selayaknya, ya Bapa yang Membawakan-Allah Makarius, dan setelah memenuhi gurun seperti suatu kota, engkau telah menerima dari Allah Rahmat Mukjizat. Karenanya, kami menghormatimu’

.

.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *