DesemberSynaxarion

Ketiga Martir Kudus Menas, Hermogenes, Dan Eugraphus Dari Aleksandria [313]

Diperingati oleh Gereja Orthodox pada tanggal 23 Desember (kalender sipil) / 10 Desember (kalender Gereja)

Para Martir Kudus Menas, Hermogenes dan Eugraphos menanggung derita demi iman mereka kepada Kristus di bawah pemerintahan kaisar Maximian.

Menas berasal dari keluarga pagan di Athena. Setelah mempelajari Injil dan berbagai tulisan Kristen, ia menemukan kebenaran dan berpaling dari penyembahan pagan. Sebagai seorang kepala bangsawan, Menas diutus kaisar Maximian yang mengira dia masih seorang penganut pagan untuk pergi ke Aleksandria. Ia diutus untuk menindas orang-orang Kristen sehingga pertikaian yang timbul di antara orang-orang Kristen dan orang-orang agama pagan bisa reda. Dengan kemampuan retorikanya yang menonjol, ia malah secara terbuka mengkhotbahkan Iman Kristen dan mempertobatkan banyak orang-orang pagan kepada Kristus. Mengetahui hal ini, Maximian mengutus Hermogenes ke Aleksandria untuk mengadakan pengadilan bagi orang-orang Kristen dan menghalau mereka dari kota itu. Meskipun Hermogenes adalah seorang penganut pagan, ia sangat menonjol karena pembawaannya yang dihormati. Karena takjub dengan ketahanan Martir Menas yang disiksa dan mukjizat kesembuhannya setelah penyiksaan, Hermogenes justru menjadi percaya kepada Kristus.

Akhirnya, Maximian sendirilah yang datang ke Aleksandria. Adanya keteguhan iman dari para janasuci Menas dan Hermogenes, serta mukjizat-mukjizat yang nyata terjadi dari Allah di kota ini, ternyata tidak mampu melembutkan hati kaisar, namun malah semakin membuatnya tersiksa. Kaisar sendiri menikam Eugraphos yang menjadi juru-tulis Menas, lalu memerintahkan agar memenggal kedua Martir Kudus Menas dan Hermogenes.

Tubuh para Martir Kudus ini dilemparkan ke laut dalam sebuah peti besi. Bukannya peti besi itu tenggelam ke dasar laut, malah mengapung terbawa ke wilayah Byzantium di sebuah pantai yang dikenal dengan nama Acripolis. Melalui sebuah visi, seorang malaikat menampakkan diri kepada Episkop dan menyuruhnya untuk menyambut relik para Martir Suci. Sang episkop memanggil banyak orang Kristen pada tengah malam, dan mereka pergi ke pantai menyambutnya. Di sana mereka melihat cahaya terang di laut lepas, seperti tiang yang naik ke surga. Di samping cahaya ada dua pria bercahaya yang dengan sikap hormat berdiri di kedua sisi. Lalu atas petunjuk malaikat, Episkop menyimpan dan merawat peti tersebut sampai kematian Kaisar Maximinus. Umat ‚Äč‚ÄčKristen menghormati relik dan menempatkannya di suatu gereja, seperti yang diinstruksikan oleh para malaikat. Ketika Maximinus meninggal, Episkop menguburkan relik di bawah tembok Acropolis, sehingga para Orang Suci dapat menjadi patron penjaga kota.

Hampir lima ratus tahun kemudian, pada masa pemerintahan Kaisar Basil I (867-886), suatu malam Js. Menas menampakkan diri kepada seorang pria bernama Philommatis, yang adalah seorang prajurit di korps militer Ikanaton (penjaga istana), dan dia menunjukkan padanya lokasi relik sucinya di bagian pantai yang dikenal sebagai Acropolis, sambil menunjuk ke sana dengan jarinya. Filommatis yang saleh dan setia bangkit dan mengungkapkan secara rinci visinya kepada temannya Markianos, yang merupakan komandan resimen Noumera, dan dia pada gilirannya memberi tahu kaisar bahwa di pantai Nicomedia, dekat pantai Acropolis, relik suci Orang Suci dikubur di bawah bumi. Dia mengirim tentara ke tempat itu, di mana mereka menemukan peti mati besi yang berisi relik suci. Sebuah plakat ditempelkan ke peti mati, yang menunjukkan bahwa itu berisi relik Sang Suci, serta lokasi di mana mereka harus ditempatkan. Perlu dicatat bahwa peti besi itu hanya berisi peninggalan Js. Menas. Diduga, relik Js. Hermogenes ditempatkan di tempat lain. Kemudian relik dipindahkan ke Konstantinopel. Kaisar Basil kemudian membangun sebuah Gereja dengan nama Martir Kudus Menas dari Alexandria ini. Js. Yusuf Sang Pengidung menyusun suatu Kidung Kanon untuk menghormati para Martir Kudus. Saat ini, relik lidah Js. Menas yang utuh dapat dijumpai di Biara Leimonos di Lesvos, dan bagian lain dari reliknya ada di Biara Docheiariou di Gunung Athos dan di Museum Benaki di Athena. Pada tanggal 10 Desember 2006 Museum Benaki memberikan sebagian dari tengkorak Js. Menas kepada Kota Suci Fthiotida. Peringatan penemuan relikwi dirayakan pada 17 Februari (kalender Gereja).

Kidung Troparion – Irama Delapan

Setelah mempermalukan wujud dan gerakan hawa nafsu yang membara dengan berpantang, hai para martir Kristus, engkau menerima rahmat untuk menghalau penyakit dari mereka yang lemah, dan, hidup bahkan setelah kematianmu, untuk membuat mukjizat-mukjizat!, Ya keajaiban yang sungguh amat mulia!, Tulang belulangmu mengalirkan kesembuhan! Kemuliaan hanya bagi Allah dan Sang Pencipta!

Kidung Kontakion – Irama Empat

Tuhan mengambilmu dari pasukan duniawi, menjadikanmu sesama pewaris keabadian, hai Menas, dengan mereka yang menderita dan mati bersamamu; dan Dia memberimu mahkota yang tak dapat binasa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *