FebruariSynaxarion

Hierark Kudus Gregory Teolog dari Konstantinopel

Diperingati Gereja Orthodox pada 7 Februari (kalender sipil) / 25 Januari (Kalender Gereja Purba)

Bapa dan Pengajar Agung Gereja yaitu Gregory Teolog lahir pada tahun 329 di Arianzus, Kapadokia. Ayahnya, Gregory, menjadi Episkop Nazianzus dan ibunya adalah Nonna. Saudara-saudarinya adalah Caesarius dan Gorgona. Gregory belajar di Kaisarea, Palestina lalu di Aleksandria dan akhirnya di Athena.

Saat berlayar dari Aleksandria ke Athena, terjadi badai hebat yang membahayakan nyawa dan keselamatannya, sebab ia saat itu belum dibaptis. Dengan penuh air mata dan bersungguh ia memohon Allah agar menyelamatkannya dan bersumpah akan mengkhususkan diri kepadaNya dan badai itupun reda.

Di Athena, Gregory disertai oleh kenalannya yaitu Basil Agung. Seorang rekan murid lainnya di Athena adalah Pangeran muda Julian, yang kemudian sebagai Kaisar disebut Pemurtad karena ia menyangkal Kristus dan melakukan segala sesuatu yang sanggup dilakukannya untuk memulihkan paganisme. Bahkan di Athena, sebelum Julian menanggalkan topeng kesalehannya, Gregory melihat betapa kacau pikirannya dan berkata, ‘Betapa jahatnya hal yang dipelihara oleh Kekaisaran Romawi ini’.

Setelah belajar di Athena, Gregory menjalani hidup pertapaan bersama Basil di Pontus. Ayahnya menahbiskannya menjadi Imam Gereja Nazianzus dan Basil menguduskannya menjadi Episkop Sasima, yang termasuk dalam Keuskupan Agung Kaisarea. Hal ini menjadi sumber duka yang besar bagi Gregory dan sebab kesalahpahaman antaranya dan Basil, namun kasih persaudaraannya bagi Basil tidak berubah.

Pada tahun 379, Gregory memberi pertolongan kepada Gereja Konstantinopel yang telah disusahkan selama empat-puluh tahun oleh kaum Arius. Dengan perkataannya yang berhikmat dan berbagai pekerjaannya ia menghalau kebinasaan bidat dan dipilih menjadi Episkop-Agung kota itu oleh Sinode Semesta Kedua, yang berkumpul di sana tahun 381 dan yang mengecam Makedonius dari Konstantinopel, musuh Roh Kudus.

Ketika Gregory datang ke Konstantinopel, kaum Arius telah merampas semua Gereja dan ia terpaksa melayani di Kapel rumah yang dikhususkan kepada Martir Kudus Anastasia. Dari sana ia mulai mengkhotbahkan kelima khotbahnya yang termahsyur mengenai Tritunggal, yang disebut Triadika. Ketika ia meninggalkan Konstantinopel dua tahun kemudian, kaum Arius tidak memiliki bahkan satu gereja pun di kota itu. Episkop Meletius dari Antiokhia, yang memimpin Sinode Semesta Kedua, wafat saat Sinode itu berlangsung dan Gregory dipilih untuk menggantikannya.

Setelah memerintah Gereja hingga tahun 382, ia menyampaikan ucapan perpisahannya, yaitu Syntakterion, di mana ia mengumandangkan KeAllahan Sang Anak di hadapan seratus lima-puluh Episkop dan Kaisar Theodosius Agung. Ia meminta dan menerima dari semuanya, izin untuk mengundurkan diri dari Tahta Konstantinopel. Ia kembali ke Nazianzus, di mana ia hidup hingga akhir hidupnya, dan wafat dalam Tuhan pada tahun 391 setelah hidup selama sekitar enam-puluh dua tahun.

Troparion Irama I

‘Seruling Gembala Teologimu menaklukkan kericuhan para pembicara, sebab Keindahan Perkataan ditambahkan kepadamu yang menyelami Kedalaman Sang Roh. Ya Bapa Gregory, mohonkanlah Kristus Allah, agar jiwa kami diselamatkan’

Kontakion Irama III

‘Ya Yang Mulia yang telah menghancurkan jerat para pembicara dengan lidah Teologimu, engkau telah menghiasi Gereja dengan Jubah Teologi yang dirajut dari Tempat-Tinggi, dan dengan berpakaikannya, Gereja berseru bersama kami, anak-anakmu, Bersukacitalah, ya Bapa, engkau Akal Teologi yang Tertinggi!’

.

.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *