Homili

Harta dalam Bejana Tanah Liat

Oleh Archimandrite Romo Daniel B.D. Byantoro (12 September 2004)

Bacaan Injil:    Matius 22: 35-46

Epistel:            2 Korintus 4: 6-15

Bismil Abi, wal Ibni, War Ruhul Quddus, Al-Ilah Wahid. Amin

Shallom Aleikhem be Shem Ha-Massiakh

Saudara-saudara yng terkasih dalam Kristus,

Di mana-mana di seluruh dunia nyanyian-nyanyian populer yang dinyanyikan orang kebanyakan bertemakan masalah cinta dan kasih. Dalam nyanyian tadi manusia menyanjung makna kasih sebagai penyebab kebahagiaan namun juga penyebab segala macam derita dan kesakitan, jika kasih atau cinta itu tidak mencapai tujuannya, gagal atau pun dikhianati.

Cinta dan kasih itu selalu didambakan manusia. Semua agama mengaku mengajarkan cinta kasih ini. Islam mengajarkan bahwa Allah itu ar-Rahman (Maha Pengasih) dan ar-Rahim (Maha Penyayang), dan kaum Sufi menyebut Allah itu sebagai Sang Kekasih dan hubungan antara manusia dengan Allah itu dilandasi pada cinta tadi. Agama Budha mengajarkan tentang Meta-Karunia (Cinta kasih tanpa Batas). Agama Hindu mengenal konsep Maitri dan Karuna yang bermakna cinta kasih, terutama dalam konsep Tat Twam Asi (Aku adalah engkau). Cinta kasih telah menjadi titik temu dari semua harapan manusia dan ajaran setiap Agama.

Iman Kristen Orthodox menjadikan kasih sebagai pusat pemahamannya akan Allah dan karya-Nya serta mengajarkan bahwa kasih itu adalah esensi dari Allah itu sendiri, karena Kitab Suci mengajarkan bahwa Allah itu kasih (1 Yoh. 4: 8), artinya Allah itu bukan hanya sekadar Tindakan-Nya yang bersifat Pengasih, namun pada hakekatnya, Dzat-Nya itu sendiri adalah Kasih yang mutlak.

Ini disebabkan sejak kekal, yaitu sejak dunia belum dijadikan, Allah (Bapa) selalu mengasihi Firman (Anak-Nya) yang berada satu di dalam dzat hakekat-Nya sendiri (Yoh. 17:24), dan kasih yang kekal itu tercurahkan kepada Firman Allah oleh Roh Kudus Allah, karena memang Roh Kudus itu bersifat kekal (Ibr. 9:14) di dalam diri Allah sendiri (1 Kor. 2: 10-11), serta fungsinya adalah mencurahkan kasih Allah kepada sasaran dari kasih Allah (Rm. 5:5), yang tak lain dalam kekekalan sasaran kasih itu adalah Firman (Anak) Allah sendiri. Dalam Allah yang Esa terdapat lingkaran kasih dari Allah kepada Firman-Nya melalui Roh-Nya di dalam dzat hakekat-Nya yang satu, sehingga kasih itu merupakan hakekat terdalam dari Allah itu sendiri, oleh karena Kitab Suci menyebut Allah sebagai Kasih itu sendiri.

Manusia, diciptakan menurut gambar Allah (Kej. 1: 26-27) yang adalah kasih. Sehingga mendambakan kasih adalah sesuatu yang kodrati bagi manusia, karena manusia diciptakan akibat dari kasih Allah itu, dan bagi kasih akan Allah itu. Karena hakekat kasih di dalam diri Allah yang kekal terkait dengan kasih Bapa (Allah yang Esa) kepada Putra (Firman-Nya yang kekal yang ada pada Diri Allah yang Esa), maka pemahaman Injil akan kasih terkait erat dengan Pribadi dan Karya Kristus. Jadi bukan konsep moral abstrak yang bersifat etika umum.

Itulah sebabnya dalam bacaan Injil ini kita membaca tentang masa menjelang akhir pelayanan Kristus di muka umum sebelum disalibkan, di mana konflik Sang Kristus dengan para pemimpin Agama Yahudi makin menajam. Seorang ahli Taurat bertanya kepada Sang Kristus mengenai Hukum yang terutama (Mat. 11: 35-36), karena bagi kaum Yahudi Hukum yaitu Torah/ Taurat adalah pusat dari keberagamaan mereka. Namun Sang Kristus pun menegaskan bahwa hukum yang terutama dan yang pertama (Mat. 22: 38) adalah kasihilah Tuhan, Allahmu (Mat 22: 37) dan kasihilah sesamamu manusia (Mat. 22: 29).

Sang Kristus menegaskan hubungan pribadi dengan Allah dan sesama itu lebih penting daripada segenap aturan Torah yang sering tidak menyentuh hati, jiwa dan akal budi pelakunya. Sebaliknya malah menimbulkan kemunafikan, dan bisa berakibat merendahkan orang lain. Padahal orang lain itu harus dianggap sama seperti dirimu sendiri (Mat. 22: 39).

Dengan begitu Sang Kristus mengarahkan ahli Taurat untuk mengerti bahwa inti Torah dengan segala aturannya adalah kasih, dan itu sebenarnya hanya merupakan jalan secara konkret bagaimana caranya agar manusia dapat mengasihi Allah dan sesamanya. Jadi Torah dan aturan-aturannya itu bukan akhir pada dirinya sendiri, tetapi merupakan aturan cara untuk mengasihi Allah dan sesama. Itulah sebabnya seluruh kebenaran Allah baik dalam Torah maupun kitab para Nabi tergantung pada kasih ini dalam mengerti maknanya. Sebagaimana yang ditegaskan Sang Kristus: ”Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi” (Mat. 22: 40).

Namun karena baik Torah maupun kitab para Nabi adalah firman Allah yang sumber kekalnya adalah Sang Firman Allah (Yoh. 1: 1) itu sendiri, yang Sang Firman akhirnya turun ke bumi menjadi Manusia sebagai Ha-Massiakh (Mesias, Kristus, Yang Diurapi), maka Torah dan para Nabi hanya akan menemukan penggenapannya di dalam diri Ha-Massiakh atau Mesias itu sendiri. Setelah Mesias datang maka Torah dan kitab para Nabi harus tunduk kepada makna Pribadi dan Karya Mesias itu sendiri bagi pemahamannya yang benar.

Dan kedatangan Mesias di kalangan umat Yahudi pada abad pertama saat Kristus melayani menjadi suatu harapan yang amat dinanti-nantikan oleh umat Yahudi untuk melepaskan mereka dari jajahan Romawi. Karena bagi mereka Mesias itu adalah pemimpin politik, keturunan Raja Daud yang akan mengusir bangsa Romawi, yang akan mengalahkan semua bangsa-bangsa non-Yahudi dan menjadikan bangsa Yahudi penguasa atas bangsa-bangsa lain. Jadi Torah dan Masiakh adalah dua keyakinan utama yang menjadi landasan keagamaan umat Yahudi di zaman itu.

Pemahaman mereka tentang Mesias yang sempit dan keliru serta yang bersifat politik, nasionalistik dan kesukuan ini dikoreksi secara tajam oleh Sang Kristus, pada saat orang-orang Farisi sedang berkumpul di mana Yesus bertanya kepada mereka (Mat. 22: 41), mengenai pemahaman mereka tentang Mesias, jawaban mereka secara pasti adalah bahwa Mesias itu Anak Daud (Mat. 11: 42) dengan konotasi bahwa Mesias itu seorang tokoh politik dan figur manusia biasa tak lebih dari nenek moyangnya, yaitu Raja Daud sendiri.

Tanpa menolak bahwa memang Mesias adalah Anak Daud, Sang Kristus ingin membuka mata orang-orang Farisi bahwa Mesias itu lebih dari hanya sekedar Anak Daud saja, karena Mesias disebut Daud sebagai Tuannya dan ia menyebutnya karena diilhami Roh Kudus (Mat. 22: 43-44). Sebenarnya kata Tuannya ini adalah Tuhannya, karena kutipan Mazmur 110:1: “Tuhan telah berfirman kepada Tuanku” itu adalah Yehuwah telah berfirman kepada Adonay. Dan kata Adonay itu artinya Tuhanku dan juga sebagai pengganti kata Yehuwah itu sendiri. Sebab pada saat orang Yahudi membaca Torah, setiap kali terdapat kata YHWH (Yehuwah) maka itu diucapkan sebagai Adonay.

Dengan demikian Sang Kristus mengajarkan bahwa Mesias itu ilahi, oleh karena itu tak mungkin Mesias hanya sekadar Anak Daud secara manusia saja, sebab ternyata Mesias itu adalah Tuhannya Daud juga (Mat. 22: 45).

(Bersambung)

.

.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *