Terapan

Haram dan Halal (Kosher dan Trefah) Bagian 2

Memang bagi kita orang Kristen kalau adat istiadat budaya yang secara terang-terangan bertentangan dengan ajaran Kitab Suci, misalnya: penyembahan nenek moyang, penyembahan berhala, percaya pada pelebegu (Batak) atau pada perdukunan, jimat, mantra, sajen-sajen (Jawa) atau pada “opo-opo” (Manado), atau pada “swanggi” (Timor), atau menggunakan “hu “ dan “pat kwa” bagi melindungi rumah dari gangguan Setan dan menggunakan “ciamsi” bagi menanyakan nasib atau bertanya pada “suhu yang kerasukan dewa” serta percaya “hong sui/ feng shui” untuk membawa “hokki” dan percaya pada ramalan berdasarkan “shio” untuk mengetahui apa yang akan terjadi (Tionghoa), serta percaya pada sihir, tenung, santet, dan lain-lain, itu dengan tegas harus disingkirkan dari kehidupan kita.


Namun tidak semua adat-istiadat budaya itu bertentangan dengan Kitab Suci. Itulah sebabnya kita harus memiliki hikmat dan pemahaman Kitab Suci yang mendalam dan benar bagi menentukan dalam terang ajaran dari Kitab Suci mana yang boleh dipertahankan dan mana yang harus ditinggalkan dalam adat-istiadat budaya kita itu.

Karena dalam beberapa budaya Indonesia, terutama di tanah Batak, terdapat budaya memakan darah yang disebut “sangsang” (baca: sak-sang) yang merupakan “adati stiadat Batak”, maka di antara orang-orang Kristen terutama yang bersuku-bangsa Batak ini, dengan melihat apa yang tertulis dalam Matius 15:2-6, dan Markus 7: 1-13 tanpa pemahaman yang mendalam, sebagian ada yang berusaha untuk menentang adat-istiadat itu terutama yang menyangkut “makan darah”. Karena terdapat ayat dalam Alkitab yang berbunyi: ”Sebab adalah keputusan Roh Kudus dan keputusan kami, supaya kepada kamu jangan ditanggungkan lebih banyak beban dari pada yang perlu ini: kamu harus menjauhkan diri dari makanan yang dipersembahkan kepada berhala, dari darah, dari daging binatang yang mati dicekik dan dari percabulan. Jikalau kamu memelihara diri dari hal-hal ini, kamu berbuat baik. Sekianlah, selamat.” (Kisah Rasul 15:28-29).

Dan ayat ini pun dicomot begitu saja tanpa pemahaman yang mendalam pula, sebagai pembenaran untuk menyalahkan mereka yang makan “sangsang”, bahkan ada yang melangkah terlalu jauh yang bahkan Kitab Sucipun tak mengatakannya sampai mereka mengatakan bahwa orang yang makan darah akan “masuk Neraka”. Padahal ayat yang dikutip di atas tidak mengatakan apa-apa tentang “Neraka” atau “Sorga” , ataupun tentang “kebinasaan” atau “keselamatan”. Ayat itu hanya mengatakan kalau orang Kristen menjauhkan diri di antaranya “dari darah” yaitu dari “makan darah”, maka “kamu berbuat baik”, bukannya “kamu akan masuk sorga”, atau “kamu akan diselamatkan.”


Ayat-ayat ini adalah kutipan surat keputusan para Rasul sebagai hasil Konsili (Sidang Raya/ Sinode Godang) Rasuliah di Yerusalem (Kisah Rasul 15:4,6) karena adanya gangguan di Gereja Antiokhia mengenai masalah harus atau tidaknya orang-orang Kristen non-Yahudi menjadi Yahudi dulu dengan jalan disunat, jika hendak menjadi Kristen (Kisah Rasul 15: 1-2).

Jalan tengah yang diambil oleh para Rasul adalah apa yang diputuskan sebagaimana yang tertera dalam isi Surat Keputusan yang kita kutip di atas, yaitu bahwa bangsa-bangsa non-Yahudi tidak usah jadi Yahudi dulu dengan jalan disunat kalau mau jadi Kristen tetapi mereka harus menjaga perasaan umat Yahudi dengan jalan “harus menjauhkan diri dari makanan yang dipersembahkan kepada berhala, dari darah, dari daging binatang yang mati dicekik dan dari percabulan.” Karena Agama Yahudi sangat menentang penyembahan berhala, padahal orang-orang non-Yahudi yang sekarang jadi Kristen itu pada umumnya adalah mantan penyembah berhala.

Juga Perjanjian Lama melarang orang Yahudi makan darah (Imamat 17: 10, 12), padahal orang-orang non Yahudi dalam persembahan mereka kepada berhala melibatkan makanan yang bercampur darah. Di samping itu memakan daging binatang yang mati dicekik (Imamat 17:13), bukannya disembelih sehingga darahnya mengalir keluar, yang menjadi praktik dari banyak budaya non-Yahudi, berarti sama saja dengan makan darah, karena darah binatang itu tetap tersimpan dalam tubuhnya. Juga dalam praktik penyembahan berhala seperti itu biasanya melibatkan semburit bakti (Ulangan 23:18, Roma 1: 23-27) , perzinahan dan pelacuran bakti (Ulangan 23:17-18), sehingga mereka diperintahkan untuk menjauhkan diri dari perzinahan.

Dengan demikian jika orang-orang Kristen non-Yahudi melakukan semuanya ini maka mereka tidak menjadi sandungan bagi umat Kristen Yahudi, berarti mereka “berbuat baik” bagi diri mereka sendiri dalam hubungannya dengan umat Yahudi, maupun bagi keutuhan dan kesatuan Gereja. Namun ini tidak ada sangkut-pautnya dengan keselamatan apalagi kalau sampai kita menghakimi orang dengan ancaman “masuk Neraka”.

Jika kita menafsirkan Kitab Suci di luar apa yang Kitab Suci sendiri katakan adalah sama saja dengan kita membuat Talmud baru, dengan demikian kita jadi tidak berbeda dengan para tua-tua Yahudi, yaitu para Rabbi, yaitu orang-orang Farisi dan para Ahli Kitab yang dikritik Tuhan Yesus.

Pemahaman Darah dan Korban dalam Alkitab


Ketika Adam jatuh ke dalam dosa dengan melanggar perintah Allah untuk tidak memakan buah dari pohon pengetahuan yang baik dan yang jahat karena kematian yang akan ditimbulkannya jika melanggar (Kejadian 2:17), maka “TUHAN Allah mengusir dia dari taman Eden supaya ia mengusahakan tanah dari mana ia diambil. Ia menghalau manusia itu dan di sebelah timur taman Eden ditempatkan-Nyalah beberapa kerub dengan pedang yang bernyala-nyala dan menyambar-nyambar, untuk menjaga jalan ke pohon kehidupan.” (Kejadian 3:23-24).

Akibat ketidak-taatannya pada perintah Allah, maka Adam dan Hawa terusir dan terhalau dari taman Eden, dengan demikian mereka terputus hubungan dengan Allah, serta bahwa oleh Allah “ditempatkan-Nyalah beberapa kerub …, untuk menjaga jalan ke pohon kehidupan “ sehingga jalan masuk kepada pohon kehidupan itu buntu, yang berarti Adam dan Hawa telah kehilangan hidup ilahi, yaitu kehilangan hidup kekal. Hilangnya hidup kekal pada manusia ini mengakibatkan kematian pada rohnya, dan kematian roh (Efesus 2:1) ini berakibat pada kematian tubuhnya (Kejadian 3:19).

Jadi kematian masuk ke dalam dunia karena adanya dosa ini, sebagaimana dikatakan: ”…. dosa telah masuk ke dalam dunia oleh satu orang, dan oleh dosa itu juga (masuknya) maut, demikianlah maut itu telah menjalar kepada semua orang, karena semua orang telah berbuat dosa.” (Roma 5:12), serta “Sebab upah dosa ialah maut” (Roma 6:23).

Padahal Allah “tidak berkenan kepada kematian seseorang yang harus ditanggungnya” (Yehezkiel 18:32), sehingga Allah mengatakan: ”Apakah Aku berkenan kepada kematian orang fasik? demikianlah firman Tuhan ALLAH. Bukankah kepada pertobatannya supaya ia hidup?” (Yehezkiel 18:23). Sang Pencipta ini adalah “Allah yang hidup” (Ibrani 10:31), dan Ia menciptakan manusia “menurut gambar dan rupa”Nya (Kejadian 1:26), berarti manusia memang diciptakan bukan untuk mati tetapi untuk hidup.

Kematian adalah benalu yang menempel pada kodrat manusia sebagai akibat dosa. Itulah sebabnya Allah berkehendak untuk mencongkel benalu itu, dengan janjiNya pada manusia bahwa Ia kan mengirim Juru Selamat, sebagaimana dikatakanNya kepada Iblis di depan Adam dan Hawa: ”Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu (keturunan Iblis adalah para musuh Kristus dari antara para pemimpin Agama Yahudi: Yohanes 8:44, Matius 3:7) dan keturunannya (“keturunan perempuan” adalah seseorang yang dilahirkan tanpa benih pria, merujuk kepada kelahiran oleh Perawan: Yesus Kristus); keturunannya (Yesus Kristus putera Sang Perawan, keturunan perempuan) akan meremukkan kepalamu (Yesus Kristus mengalahkan Kuasa Iblis , Ibrani 2:14, I Yohanes 3:8) , dan engkau akan meremukkan tumitnya. (merujuk pada penyaliban di mana kaki Yesus dipaku yang digambarkan sebagai tumitNya diremukkan)” (Kejadian 3:15).

Melalui penghancuran kuasa Iblis oleh penyaliban Putera Sang Perawan inilah, maka kematian dikalahkan, dan hidup kekal akan dipulihkan pada manusia. Untuk memberi “tanda” atas Janji keselamatan melalui Korban Kristus inilah maka sebelum Adam diusir dan dihalau dari Taman Eden, Kitab Suci mengatakan: ”Dan TUHAN Allah membuat pakaian dari kulit binatang untuk manusia dan untuk isterinya itu, lalu mengenakannya kepada mereka.” (Kejadian 3:21). Sebelumnya Adam dan Hawa “menyemat daun pohon ara dan membuat cawat “ (Kejadian 3:7), tetapi Allah tak berkenan akan usaha manusia menutupi dirinya sendiri akibat dosa. Maka Allah sendiri menyediakan penutup bagi dampak dosa manusia, yaitu dengan Allah sendiri membuat “pakaian dari kulit binatang untuk manusia “.

Jika ada “pakaian dari kulit binatang “ yang dibuat oleh Allah, berarti ada binatang yang dikorbankan oleh Allah, dengan demikian ada darah tercurah bagi manusia. Padahal Ibrani 9:22 mengatakan: ”Dan hampir segala sesuatu disucikan menurut hukum Taurat dengan darah, dan tanpa penumpahan darah tidak ada pengampunan.” Maka Adampun telah menerima pengampunan dari Allah, meskipun untuk dapat dipulihkan kembali kepada hidup kekal yang telah hilang itu dia harus menunggu sampai datangNya “Keturunan Perempuan” yang dijanjikan. Adam dan Hawa meskipun sudah menerima pengampunan, bersama para Nabi dan orang-orang benar dalam Perjanjian Lama lainnya itu: ”tidak memperoleh apa yang dijanjikan itu… Sebab Allah telah menyediakan sesuatu yang lebih baik bagi kita; tanpa kita mereka tidak dapat sampai kepada kesempurnaan.” (Ibrani 11: 39-40), artinya Adam dan Hawa harus menunggu sampai datangNya Kristus bersama kita yang percaya untuk mendapatkan kembali hidup kekalnya yang telah hilang itu.

(Bersambung)

.

.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *