Liturgi

GEDUNG GEREJA ORTHODOX

            Gereja Orthodox melihat bahwa semua yang ada dalam struktur Bait Allah/ Kemah Suci sudah digenapi dalam Kristus, dan bahwa pada mulanya umat Kristen memang beribadah di rumah-rumah pribadi, maka pada zaman yang amat dini sekali umat Kristen tidak membangun bangunan rumah ibadah. Namun karena para Rasul perdana itu masih beribadah di Bait Allah (Kisah 3:1), maka jelas Gereja Purba tidak sama sekali membuang makna penting dari Bait Allah itu. Karena Gereja Orthodox melihat bahwa Kristus datang bukan untuk “merombak” Taurat, namun “menggenapinya” (Matius 5:17-19), maka bentuk-bentuk yang berasal dari praktek-praktek dalam Kitab Suci Perjanjian Lama itu tidak sama sekali dibuang, namun diartikan secara baru dan secara ajaran Injil. “Menggenapi” berarti memberi isi dari wadah yang lama, bukan membuang atau menghilangkan. Artinya sejauh data Alkitab (dan bagi Gereja Perdana Alkitab adalah :Perjanjian Lama) itu yang menjadi bukti, ibadah-ibadah di Bait Allah itulah satu-satunya cara ibadah yang diperintahkan Allah dan yang dilakukan oleh umatNya sejak zaman Musa sampai pada zaman rasul-rasul Kristus. Kerangka ibadah yang diperintahkan Allah inilah yang dipertahankan oleh Gereja awal meskipun isinya memang berbeda, karena sifatnya yang Kristologis. Ini terbukti bahwa di wilayah Dura-Europos di Syria, ditemukan suatu bangunan Gereja yang berasal dari abad kedua hampir 200 tahun sebelum pertobatan Konstantinus Agung pada abad keempat. Bentuknya secara garis besar mirip dengan struktur Bait Allah, lengkap dengan gambar-gambar, sama seperti Bait Allah/Kemah Suci itu dipenuhi dengan gambar Kerubim. Bentuk bangunan Gereja yang demikian itu selalu menjadi ciri Gereja Orthodox sampai kini. Dengan meneladani struktur bangunan Bait Allah ini, maka bentuk bangunan Gereja Orthodox masakini adalah sebagai berikut:

            Penggenapan yang diajarkan oleh Kristus itu menunjukkan adanya suatu kesinambungan sekaligus ketaksinambungan antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Khususnya dalam kasus bangunan Gedung Gereja Orthodox itu unsur kesinambungan dan unsur ketaksinambungan itu tampak jelas. Hal itu akan dirasakan ketika orang masuk pertama kali ke dalam bangunan Gedung Gereja Orthodox. Ia akan merasakan dunia Alkitab yang digambarkan dalam Perjanjian Lama itu hidup kembali dengan cara yang baru yaitu dengan cara yang diilhami berita Injil. Gereja Orthodox menerapkan secara konsisten fakta kesinambungan dan ketaksinambungan yang ada di dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru itu. Itulah sebabnya bagi orang-orang yang baru mengenal bangunan Gereja Orthodox, merasakan adanya sesuatu  yang kudus dan khusyuk ketika ia masuk ke dalamnya. Ini dikarenakan Gereja Orthodox menerapkan semua struktur bangunan ibadah yang ada dalam Kemah Suci atau Bait Allah di dalam Perjanjian Lama, dengan disemangati dan dengan tafsir yang sama sekali berbeda dari apa yang dimengerti oleh orang-orang Yahudi non-Kristen, yaitu dengan cara pandang Inkarnasi. Jadi yang mengilhaminya adalah berita Injil. Secara apa yang nampak mata orang masih mengenali unsur-unsur simbolisme Perjanjian Lama tetapi dalam isinya, berita Injil itulah yang diberitakan dalam simbolisme itu. Dengan ibadah dan praktek-praktek liturgisnya berakar dan berkesinambungan dengan praktek-praktek liturgis dan ibadah dalam Perjanjian Lama meskipun secara mendalam dan secara konsisten diilhami dan disemangati oleh berita Injil, maka di dalam bangunan Gereja Orthodoxpun, secara konsistenan dibangun dan dibentuk berpolakan struktur bangunan Gedung Bait Allah/Kemah Suci dalam  Parjanjian Lama. Sudah kita pelajari bahwa struktur Bait Allah/Kemah Suci Perjanjian Lama itu, memiliki tiga bagian yaitu: Pelataran, Ruangan Kudus (Bahtera) dan Ruangan Mahakudus. Sesuai dengan pola struktur bangunan  Bait Allah/Kemah Suci ini, maka Gereja Orthodox pun  membagi bangunannya menurut tiga bagian juga, yaitu bagian yang pertama disebut RUANG PRATAMA, bagian kedua disebut: RUANG BAHTERA, dan bagian ketiga disebut: RUANG MEZBAH. Arti simbolis dari ketiga bagian bangunan Gereja Orthodox ini sebagai berikut:

a. Ruang Pratama

Bagian ini adalah lambang zaman Perjanjian Lama. Artinya seseorang dari dunia luar yang tidak mengenal Wahyu Allah secara khusus dan benar, mulai dapat mengenal Allah secara benar melalui Wahyu  Allah yang ada di dalam Perjanjian Lama. Jadi sebelum Kristus datang, Perjanjian Lama ini yang datang lebih dahulu sebagai persiapan. Di Ruang Pratama ini terdapat terdapat banyak lilin yang menyala, yang meneladani penggunaan kandil-kandil dari Kemah Suci. Umat Orthodox menyalakan lilin-lilin di sana. Disamping lilin digunakan untuk lampu-lampu tugur, yang biasanya terbuat dari gelas berwarna-warni, juga ada lampu-lampu kandil yang dinyalakan oleh minyak zaitun. Ini adalah kesinambungan dengan lampu-lampu kandil dari Bait Allah/Kemah Suci. Dan biasanya lampu ini digantung di depan ikon-ikon di kiri-kanan Gereja. Pembakaran lilin dan lampu-lampu minyak (kandil) di depan Ikon adalah kelanjutan dari praktek pembakaran kandil-kandil dari  “Menorah” (Kaki Dian Dari Emas) dalam Ibadah Perjanjian Lama (Keluaran 25:31-40). Dan Kristus yang menampakkan diri itupun berada di tengah-tengah Kaki Dian Emas ini (Wahyu 1:12-13), dan di hadapan Takhta Allah di sorgapun ada Obor-Obor sebagai manifestasi dari kehadiran Tujuh Roh Allah (Tujuh Manifestasi Energi Ilahi) (Wahyu 4:5). Karena dalam Ibadah Perjanjian Lama Kandil itu dipasang di depan Gambar/Patung Kerub, dan Kandil itu di tengah-tengahnya ada Kristus yang dimuliakan, dan obor-obor itu tepat di depan Takhta Allah, maka taat pada perlambangan Kitab Suci ini Gereja Orthodox menaruh lilin dan menyalakannya, sebagai lambang kandil dan obor sorgawi, ditempatkan di depan Ikon, sebagaimana yang terjadi dalam Kemah Suci, dan Penampakan Kristus, serta Takhta Sorgawi itu. Ini adalah lambang bahwa Kristus adalah “Terang Dunia” (Yohanes 8:12; 1:9), bahwa kita rela dilepaslkan dari gelap ke dalam terang (Kolose 1:13), serta kita memohon hati kita untuk diterangi oleh Terang dari Roh Kudus agar mengerti kebenaran Sabda Ilahi (II Kor. 4:6). Jadi lilin dan kandil itu berfungsi sebagai lambang doa.

Jadi memang berbeda dengan unsur api yang digunakan juga dalam Agama Hindu atau agama-agama non-Kristen lainnya, dimana api memang merupakan persembahan kepada Dewa. Bagi Iman Kristen Orthodox api itu bukan untuk Allah, namun perlambangan untuk kita manusia ini. Allah itu tak butuh persembahan api, namun kita butuh lambang tentang makna terang kebenaran yang kita percayai. Sekali lagi bukan penyembahan berhala yang kita jumpai di sini, namun perlambangan Kitab Suci yang ditaati secara detail tanpa mempertanyakan lagi. Ini melambangkan kebenaran Allah, terang Allah yang tak terpadamkan sepanjang segala abad. Makna simbolis pemasangan lilin menyala ini adalah ketika orang mulai masuk ke dalam Perjanjian Lama, ia mulai mendapat terang tentang Kristus yang dinubuatkan dalam Perjanjian Lama. Ia mulai siap untuk masuk ke dalam terang yang sesungguhnya, yaitu: Kristus yang diberitakan di dalam Perjanjian Baru. Dengan memasang lilin yang menandakan ia siap untuk diterangi dengan terang yang lebih jelas lagi di dalam Perjanjian Baru, maka ia  membuat tanda salib, lambang bahwa Terang Kebenaran Allah hanya ditemukan di dalam Kristus. Terang Kebenaran Allah dalam Kristus  dan segala karyaNya itu  akan dialami seseorang secara pribadi, jika diterima secara pribadi. Sesudah itu, ia masuk ke dalam RUANG BAHTERA.

            Karena RUANG PRATAMA ini adalah merupakan simbol zaman Perjanjian Lama, maka di kiri-kanan temboknya,  terlukislah Ikon-Ikon dari tokoh-tokoh atau kisah-kisah kudus yang ada di dalam Perjanjian Lama. Dimulai dari kisah penciptaan dunia sampai kepada kisah-kisah yang lain sejauh tembok itu cukup untuk dilukisi. Kita telah tahu bahwa di dalam Bait Allah/Kemah Suci terdapat lukisan-lukisan Kerubim dan bahkan patung Kerubim dari emas. Ini adalah simbol dan ekspresi theologis dari cara penyampaian firman atau wahyu dalam Perjanjian Lama. Dalam Perjanjian Lama Allah menyatakan wahyuNya melalui para Malaikat, itulah sebabnya Kerubim yang digambarkan. Sebab merekalah makhluk-makhluk sorgawi yang pernah menampakkan diri dan dilihat manusia di bumi dalam saat Perjanjian Lama. Gambar-Gambar Kerubim dalam Bait Allah/Kemah Suci dilihat Gereja Orthodox sebagai persiapan akan adanya ikon-ikon – meskipun patung-patung tetap dilarang penggunaannya dalam Gereja Orthodox – di dalam Gereja Perjanjian Baru: Gereja Rasuliah Orthodox. Ikon-ikon (gambar-gambar theologis simbolis, lihat gambar sampul buku ini sebagai contoh) adalah menggambarkan Sang Kristus Yesus: Sabda Allah Menjelma, karena menjelma maka sekarang dapat digambar. Dan juga tokoh-tokoh yang terkait dengan peristiwa penjelmaan itu, Maria, Yohanes Pembaptis. Serta tokoh-tokoh yang menubuatkan dan memberitakan penjelmaan itu, Para Nabi dan Para Rasul. Mereka semua ini adalah saksi-saksi iman mengenai berita keselamatan yang mula-mula diberitakan Tuhan itu. Dengan demikian  mengekspresikan secara simbolis-theologis bagaimana Injil itu disampaikan. Injil disampaikan bukan melalui Malaikat lagi, tetapi secara kongkrit melalui penjelmaan Firman Allah menjadi manusia (Yohans 1:1,14; I Yoh.1:1). Firman Allah yang menjelma menjadi manusia itu sendiri yang mula-mula memberitakan Keselamatan itu, kemudian keselamatan itu disampaikan kepada kita melalui Para rasulNya, para NabiNya, Para orang kudusNya. Dengan demikian Ikon-ikon ini, secara simbolis theologis telah memberikan kepada kita suatu pengertian yang mendalam tentang kekongkritan dari pada berita Injil itu, yang secara kongkrit pula diberitakan melalui manusia-manusia yang nyata.

            Oleh karena itu ikon-ikon tersebut bukan hanya sekedar hiasan agamawi. Dengan bentuknya yang tidak naturalistik dan tidak realistik, melainkan simbolik, ikon-ikon itu merupakan simbol Iman, lambang ekspresi theologis iman Gereja. Dalam meletakkannya di dalam bangunan  gerejapun, diatur sedemikian rupa sehingga merupakan suatu ekspresi pemberitaan dari pada Injil tersebut. Untuk itu kita perlu mengerti susunan daripada peraga visual yang mempunyai makna religius dalam bangunan Gereja Orthodox ini, agar dapat mengerti artinya secara mendalam.

b. Ruang Bahtera

Bagian kedua ini adalah tempat umat melakukan ibadah-ibadahnya. Dalam Ruangan Bahtera, lambang zaman Perjanjian Baru itu sendiri, ini terdapat langit-langit yang selalu memiliki satu kubah besar seperti dalam masjid.  Ini adalah simbol theologis. yang menggambarkan sesuatu yang merangkul dan merangkum, dengan puncaknya yang bulat dan membesar, akhirnya ke bawah membulat lagi. Ini melambangkan bahwa keselamatan itu bukan dari manusia, tetapi semata-mata dari Allah yang rela datang untuk merangkul, memeluk dan merangkum manusia  berdosa. Keselamatan itu bukan usaha manusia pribadi, namun kasih karunia Allah dalam Yesus Kristus. Oleh karena itu gambar yang ada di bagian dalam kubah yang menaungi umat yang ada di bawahnya adalah Kristus sebagai Yang Maha Kuasa (Pantokrator), lambang dari kerelaan yang Mahatinggi melalui Penjelmaan FirmanNya itu untuk datang melingkari manusia, merangkul manusia. Karena di dalam penjelmaan Yesus Kritus itu Allah yang mencari manusia, maka puncak atap bangunan Gereja bukanlah suatu struktur yang mencuat ke atas, seperti suatu tugu atau seperti bangunan yang memanjang ke atas, karena itu melambangkan usaha manusia untuk mencari Allah, namun  kubah yang bulat merangkul ini. Jadi kubah ini adalah lambang yang paling tepat dari keberadaan Allah Yang Mahatinggi yang melalui FirmanNya yang menjelma itu yang telah turun untuk menaungi, melindungi, merangkul dan mengambil manusia di dalam diriNya sendiri. Dengan di langit-langit dari kubah bagian dalam  ini terdapat Ikon Kristus yang sangat besar, yaitu Ikon Pantokrator tadi, yang dilihat dari bawah oleh yang sedang beribadah, menunjukkan bahwa persekutuan orang percaya itu adalah: Persekutuan dengan  Kristus yang merangkul mereka dan manunggal dengan mereka, sebagai Kepala Gereja.

Karena Ruang Bahtera melambangkan zaman Perjanjian Baru, maka  Ikon-ikon yang ada di sekitar temboknya adalah gambar-gambar dari peristiwa-peristiwa Perjanjian Baru, mulai dari Kelahiran Kristus, bahkan kelahiran Maria yang meskipun tidak dituliskan di dalam Perjanjian Baru, itu digambarkan di sana. Namun itu itu tak hanya terbatas pada kisah dalam kitab Perjanjian Baru saja, tetapi juga peristiwa yang terjadi di dalam Gereja Perjanjian Baru, yaitu Gereja Rasuliah Orthodox sejak zaman semula, mulai dari sejarah awal sampai dengan konsili-konsili, kisah orang-orang kudus, dan semua saksi-saksi Kristus juga digambarkan di sana. Ini untuk mengingatkan  bahwa umat Kristen itu tidak sendirian, namun merupakan kesatuan yang utuh dengan Gereja sepanjang segala abad. Di situlah orang-orang Kristen dipersatukan di dalam penyembahan dengan orang Kristen yang sudah mendahului mereka di zaman yang lalu, yang semuanya itu akhirnya dipersatukan dengan Kristus yang ada di Sorga, yang ada di ketinggian dalam gedung Gereja itu digambarkan di dalam kubah itu sendiri. Inilah ekspresi-theologis kesatuan Gereja sebagai: Tubuh Kristus itu secara lengkap.

Dengan demikian di dalam batasan tembok-tembok gedung Gereja Orthodox, ada satu simbol kosmos (dunia) yang baru. Dunia yang dipenuhi dengan kekudusan dari orang-orang kudus Kristus, dunia yang dipenuhi dengan kehadiran Kristus, yaitu dunia yang baru dimana tidak ada lagi kesengsaraan dan kematian,  yang ada hanya kekekalan dan sukacita serta kebahagiaan. Sesuatu yang kita harapkan secara eskatologis, secara simbolis-simbolis dinyatakan di dalam batasan gedung Gereja Orthodox, karena di situ simbol-simbol tentang masa eskatologis, masa panunggalan antara seluruh umat manusia, Gereja sepanjang segala abad dengan Kristus diwartakan secara simbolis. Kerajaan Allah yang sedang dinanti-nanti itu sudah hadir di dalam pengalaman orang percaya pada waktu ia ikut ambil bagian didalam persekutuan umat percaya yang menyembah Kristus di dalam persekutuan darah dan tubuhnya dalam Perjamuan Kudus, di dalam bangunan Gedung Gereja tadi.

c. Ruang Mezbah

Sebagaimana dalam Kemah Suci/Bait Allah terdapat Tabir, maka antara Ruang Bahtera dan Ruang Mezbah (bagian ketiga) ini juga terdapat satu tabir kayu atau benda keras yang disebut dengan Ikonostasion, yang melambangkan tabir dari Bait Allah di dalam Perjanjian Lama. Bedanya adalah di dalam Ikonostasion ini kita melihat tabir yang menutupi pandangan antara umat yang ada di Ruang Bahtera dengan apa yang ada di dalam Ruang Mezbah ini ada pintu besar yang disebut: ”Pintu Indah” (”Gerbang Indah”) – di situlah terdapat tirai yang berwarna kirmizi seperti warna tabir Kemah Suci, ditutup pada saat tidak ada ibadah dan dibuka pada saat ada ibadah -, tepat di tengah-tengah Ikonostasion, sering disebut sebagai ”Pintu Gerbang Raja”. Karena di situ Sang Raja: Yesus Kristus keluar dan masuk, yang diekspresikan dengan masuk dan keluarnya Kitab Injil sebagai lambang kehadiran Kristus: Firman Allah yang mengajar dan Perjamuan Kudus (Roti dan Anggur) sebagai ekspresi Kristus Sang Imam Besar yang mempersembahkan Tubuh dan Darah Kristus sendiri yang diarak melalui Pintu Gerbang tengah ini, pada saat arak-arakan Liturgi Suci. Ini menunjukkan bahwa tabir yang menghalangi manusia masuk ke hadirat Allah itu telah dikoyakkan dan tak menghalangi manusia lagi, karena Kristus telah mengoyakkannya  pada waktu ia disalib. Disamping itu dikiri-kanan Gerbang Indah ini yaitu di sebelah Utara dan Selatan, ada dua pintu, karena Gereja Orthodox selalu membujur dari timur ke barat dan pintu depan menghadap ke barat serta gedung Gereja itu mengarah ke Timur. Ini sesuatu yang simbolik diambil dari Alkitab dimana Timur melambangkan: Taman Eden berada (Kejadian 2:8). Dengan gedung Gereja diarahkan ke Timur menunjukkan bahwa umat percaya ialah menghadap kepada Eden, karena kewarga-negaraan kita adalah di dalam sorga (Filipi 3:20-21). Ini juga simbol bahwa Sang Yesus Kristus akan datang seperti kilat yang memancar “dari Timur ke Barat” (Matius 24:27). Ini untuk mengingatkan akan kehadiran masa eskatologis itu tetap merupakan suatu harapan bagi Gereja di dalam penyembahannya. Timur secara realita jasmani adalah tempat terbitnya terang, ini berarti  adalah bahwa Gereja mengarahkan dirinya kepada Sang Terang Sejati (Yohanes 8:12), yaitu Tuhan Yesus Kristus, Sang Surya pagi dari tempat tinggi (Lukas 1:78). Dengan demikian Gereja selalu menyadari bahwa masa eskatologis itu sudah hadir di tengah-tengah mereka karena Kristus sudah datang. Namun masa eskatologis itu masih merupakan suatu yang harus diharapkan pemenuhannya segera setelah Yesus datang lagi yang kedua kali.

Jadi di dalam penyembahan itu, Gereja selalu disadarkan akan kesegeraan kedatangan Kristus. Adanya ikonostasion ini  merupakan kesinambungan dengan  tabir yang ada Kemah Suci di dalam Perjanjian Lama, namun terdapatnya pintu-pintu pada Ikonostasion menunjukkan ketidak-sinambungan antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Di pusat Ruang Mezbah tepat di arah Pintu Gerbang Raja itu dipasang Mezbah yang dari luar melalui Pintu Gerbang Raja umat dapat melihat, ini adalah: ”Meja Perjamuan Kudus”. Dengan demikian arah atau kiblat dari penyembahan Gereja adalah kepada Mezbah, yaitu arah Persekutuan dan Panunggalan dengan Kristus melalui Darah dan TubuhNya di dalam Perjamuan Kudus ini (I Kor. 10:16,17; Yohanes 6:53-58). Di Ikonostasion terdapat Ikon-Ikon yang dipasang secara beraturan sesuai dengan makna simbolis-theologisnya, karena memang di dalam Gereja Orthodox, ikon-ikon ini disebut sebagai ”theologia dalam warna”  atau ”theologia dalam lukisan”. Di sebelah kiri tepat di sisi Pintu Gerbang Raja itu dipasang Ikon Sang Kristus sendirian, sedangkan di sebelah kanannya tepat di sisi yang lain dari Pintu Gerbang Raja  dipasang Ikon Sang Perawan Maryam menggendong Bayi Yesus. Di  sebelah kiri Ikon Kristus, ditempatkan Ikon Nabi Yohanes Pembaptis, sedang disebelah kanan Ikon Sang Perawan Maryam diletakkan Ikon Tokoh Suci tertentu yang atasnya Gereja itu dinamakan. Misalnya: Jika  Komunitas Gereja itu bernama Paroikia Rasul Petrus, maka Ikon Petruslah yang dipasang di situ adalah, jika namanya Paroikia Roh Kudus, maka Ikon Peristiwa Pantekosta yang dipasang di situ; jika namanya Paroikia Kristus Juruselamat, maka Ikon Kristus yang dipasang, dan seterusnya. Demikianlah bentuk baku pemasangan Ikon-Ikon pada Ikonostasion. Jika Ikonostasion itu berukuran panjang, ikon-ikon lain yang dapat merefleksikan simbol-simbol theologis dari ajaran Gereja bisa dipasang. Dan hal ini terserah kepada kehendak jemaat setempat. Selanjutnya di Pintu Utara dan Pintu Selatan, selalu dipasang Ikon Malaikat Mikael dan Malaikat Gabriel.

Disamping adanya Mezbah di dalam Ruang Mezbah pada sudut sebelah kiri arah utara terdapat Meja Proskomidi bagi mempersiapkan Roti dan Anggur bagi Perjamuan Kudus, ini berkesinambungan dengan ”Mezbah Korban Bakaran” pada Kemah Suci, namun tak berkesinambungan karena tempatnya justru dalam Ruang Mezbah dan bukan untuk menyembelih Kambing namun untuk memotong-motong Anak Domba Allah dan mencurahkan DarahNya: Roti dan Anggur untuk Perjamuan Kudus. Alat-alat yang terdapat di atas Meja Proskomidi adalah Cawan tempat Anggur dan Piring Suci tempat Roti. Tombak Suci lambang tombak yang digunakan menusuk lambung Kristus, berfungsi sebagai Pisau pemotong Roti. Lalu Penutup Cawan dan Penutup Piring Suci. Supaya Piring Suci datar ini dapat ditutup dengan Penutup yang terbuat dari kain itu, maka ada penyengkang dari logam yang berbentuk Salib melengkung di bawahnya, membentuk empat kaki, yang disebut Bintang Suci, lambang dari Bintang yang ada di atas Bayi Yesus di Betlehem. Kemudian Cawan  dan Piring Suci yang masing-masing dengan penutupnya sendiri-sendiri itu, ditutup secara bersama oleh kain empat persegi yang lebar disebut: Aera (Tudung Suci). Demikianlah setelah ditutup dengan Tudung Suci ini, maka Roti dalam Piring Suci, dan Anggur dalam Cawan itu secara bersama melambangkan kelahiran Kristus di Betlehem.

Dari Meja Proskomidi inilah Roti dan Anggur diarak keluar melalui Pintu Gerbang Utara oleh Presbiter melewati Jemaat di Ruang Bahtera sampai masuk ke Pintu Gerbang Raja, untuk diletakkan di atas Mezbah yang ada di tengah. Mezbah itu sendiri adalah lambang ”Takhta Kristus”, namun sekaligus ”KuburanNya”. Karena di situlah Injil selalu ditakhtakan, dan di situ pula Roti dan Anggur itu dikonsekrasi sebagai Tubuh dan Darah Kristus. Di dalam Ruang Mezbah juga terdapat Ukupan yang merupakan kesinambungan dengan Korban Ukupan Perjanjian Lama, yang dari waktu ke waktu Presbiter akan mendupai ruangan dan benda-benda serta orang yang hadir di Gereja. Dupa adalah lambang doa-doa orang-orang kudus yang dipersembahkan kepada Allah (Wahyu 5:8; 8:3-4), dan yang membumbung secara berkenan kepada Allah. Karena Iman Orthodox meyakini akan kesatuan Gereja yang di Firdaus dan yang di bumi, yang ikon-ikon itulah lambang kehadiran umat beriman yang di Firdaus, maka setiap kali Gereja beribadah, mereka yang di Firdaus itupun ikut beribadah. Demikianlah yang didupai pada saat ibadah itu bukan hanya ikon-ikon saja namun juga masing-masing anggota jemaat yang hadir. Dan jika mereka didupai lalu mereka membuat gerakan tanda salib. Ini berarti ketika mereka berdoa, doa mereka itu disatukan dengan doa-doa orang kudus dan dengan dupa lambang doa yang membumbung ke hadirat Allah yang berkenan dan berbau harum. Dupa ini digunakan dalam seluruh ibadah Perjanjian Lama (Keluaran 30:7-8), ketika sudah masuk zaman Perjanjian Baru (Lukas 1:9-10), pada saat kelahiran Kristus (Matius 2:11), serta merupakan praktek ibadah yang konstan di sorga (Wahyu 5:8, 8:3-4). Karena orang kuduspun ikut berdoa, dan doa mereka disatukan dengan doa umat yang sedang beribadah, maka pada saat umat didupai maka orang-orang kudus sebagai saudara-saudara seiman yang tetap masih hidup yang dilambangkan dalam kehadiran ikon-ikon mereka itupun didupai. Ini menunjukkan keyakinan akan “Gereja yang Satu” baik yang di Firdaus maupun yang di bumi.

Sedangkan prosesi (arak-arakan) adalah meniru Israel jika mereka mengarak Peti/Tabut Perjanjian (Tabernakel) seperti halnya yang dilakukan Raja Daud (II Samuel 6:15), dan mendramakan secara Liturgis arak-arakan atau prosesi yang dilakukan oleh Yesus ketika memasuki Yerusalem pada masa sengsaraNya (Matius 21:1-11; Markus 11:1-10; Lukas 19:28-38; Yohanes 12:12-19) dengan lambang ikon-ikon Kristus, dan diperluas dengan ikon-ikon lainnya. Jadi ini bukan penyembahan ataupun ibadah kepada orang kudus maupun kepada gambar, sebab kalau itu dianggap ibadah dan penyembahan, jemaat yang didupai itupun berarti disembah dan diibadahi, berarti masing-masing anggota jemaat saling menyembah dan mengibadahi satu sama lain, sebab mereka juga didupai. Ini sungguh pengertian yang absurd. Jadi dalam pendupaan inipun implikasi ajaran Kitab Suci secara rinci itu dipraktekkan secara apa adanya, tak diubah, tak dikurangi, tak ditambah ataupun dibuang.

Di sisi belakang Mezbah terdapat Tabernakel (Artoforion = Penyimpanan Roti Perjamuan Kudus yang sudah dikonsekrasi) sebagai kesinambungan dari Peti Perjanjian dari Kemah Suci yang berisi Manna. Tepat di belakangnya terdapat Salib Besar dengan Ikon Kristus tersalib dilekatkan padanya, dan di antara Tabernakel dan Salib ini sering juga dipasang Menorah, Kaki Dian yang bercabang Tujuh, untuk menggambarkan Kristus yang berjalan-jalan di antara Kaki Dian (Wahyu 2:1) dan juga simbol Gereja harus selalu memiliki Tujuh Kaki Dian yaitu Tujuh manifestasi energi ilahi. Di kiri dan kanan Salib terdapat relief Kerubim terbuat dari logam bulat yang disebut “Exapteriga = Si Enam Sayap” yang melambangkan bahwa Kristus itu selalu diiringi Malaikat, namun juga merupakan kesinambungan dengan Patung Kerubim di atas Peti Perjanjian. Dan ditembok belakang di atas dekat dengan langit-langit terdapat Ikon “Platytera Toon Ouranoon” (“Lebih Luas dari Sorga”), yaitu Ikon Sang Perawan Maryam yang sedang berdoa dengan Ikon Kanak-Kanak Yesus yang  menempel tepat di tengah dadanya. Ini adalah simbol bahwa kehidupan Umat Kristen Orthodox itu harus selalu berpusatkan pada ajaran Kitab Suci sebagai bimbingan dan aturan kehidupannya, karena itu Injil ditakhtakan di Mezbah. Namun untuk mendapatkan kekuatan menjalankan perintah-perintah Kitab Suci itu, ia harus diberi kekuatan melalui kuasa Roh Kudus di dalam Sakramen, itulah sebabnya Artoforion terletak tepat sesudah Injil. Cara menjalankan perintah-perintah Allah ini adalah dengan rela memikul Salib Kristus dalam Energi Roh Kudus, itulah sebabnya Menorah dan Salib Kristus terletak tepat dibelakang Artoforion. Tujuan akhir dari semua itu adalah menjadi seperti Ikon Platytera yang ada di atas itu, yaitu keterbukaan kepada Allah, karena dalam Ikon ini tangan Perawan Maryam terbuka dalam sikap doa, dan kerelaan menempatkan Kristus sebagai pusat hidupnya, karena Ikon Kanak-kanak Kristus berada tepat di dada Maryam. Serta mencapai panunggalan dengan Kristus, sebagaimana Ikon Kanak-Kanak Yesus itu menempel dan melekat pada Maryam. Jadi Ikon Maryam itu adalah simbol panggilan Gereja untuk manunggal dengan Kristus sendiri. Ini dapat juga kita lihat keluar ke Pintu Gerbang Raja. Itu merupakan pintu keluar-masuk arak-arakan Injil dan arak-arakan Perjamuan Kudus. Artinya Umat secara bersama diarakkan kepada panunggalan dengan Kristus sendiri. Itulah merupakan arah akhir dari  pada orang Kristen: Manunggal dengan Kristus. Ke arah Mezbah yang di tembok timur yang paling ujung sendiri menghadap kepada jemaat, telah kita lihat Ikon Platytera, yang juga disebut: Ikon Maryam Sang Tanda. Ini adalah ekspresi  nubuat Nabi Yesaya: “Sebab itu Tuhan sendiri yang akan memberikan kepadamu suatu pertanda : Sesungguhnya, seorang perempuan muda (seorang dara) akan mengandung  dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamakan Dia Imanuel” (Yesaya 7:14). Karena Anak Dara yang akan melahirkan seorang Anak Laki-Laki yang disebut Imanuel itu sebagai pertanda, maka ikon Maryam dengan Kanak-Kanak Yesus yang ada di atas mezbah itu disebut Maryam Sang Tanda. Adalah menarik bahwa dalam Al-Qur’an, Maryam dan Isa itu disebut sebagai “Tanda” atau “Ayat:

”Dan perempuan yang menjaga kesuciannya (Maryam), lalu Kami hembuskan kepadanya Ruh Kami. Dia (Maryam) dan anaknya (Isa,Yesus), Kami jadikan tanda (wa aj’lnaaha wa aabnahaa aayatan = dan kami jadikan ia dan anaknya tanda) untuk semesta alam” (Al Anbia 91).

Ini semua bermakna bahwa tujuan akhir dari panunggalan orang percaya melalui panunggalan Sakramental di dalam Tubuh dan Darah Kristus adalah untuk manunggal dengan Kristus secara nyata. Panunggalan ini sudah terlebih dulu terjadi melalui masuknya Sang Sabda Allah ke dalam rahim Maryam, mengambil dari Maryam sel telurnya. Sang Sabda telah menjadi “Buah Rahim” Maryam (Lukas 1:41-43). Melalui pengambilan kemanusiaan oleh Firman Allah melalui  Maryam, kemanusiaan kita sudah manunggal dengan Sang Sabda, berarti manunggal dengan Allah. Maka di dalam diri Maryam, panunggalan antara Khalik – Makhluk itu telah terjadi. Sebagaimana Maryam telah manunggal dengan Penciptanya – karena Allah mencipta segala sesuatu melalui Firman itu – yang telah menjadi Anaknya, maka setiap orang melalui persekutuannya dengan Kristus yang diekspresikan dengan persekutuan (ikut ambil bagian)  di dalam Tubuh dan DarahNya melalui Perjamuan Kudus mempunyai tujuan akhir bagi manunggal dengan Kristus sebagaimana Maryam sudah manunggal denganNya.  Selanjutnya,  Ikon Kristus di sebelah kiri pintu Gerbang Raja, adalah lambang kehadiranNya. Kristus selalu hadir di tengah-tengah Gereja, namun kehadiranNya ini akan menjadi permanen pada waktu “Parousia” (Masa Esktologis:Yesus datang kedua kali), sehingga mata iman kita selalu diarahkan pada Masa  Eskatologis, saat Sang Kristus akan datang untuk kali yang kedua di akhir zaman. Masa Eskatologis itu sudah mulai masuk ke dalam dunia melalui Penjelmaan Sang Sabda, ketika Ia menjelma menjadi manusia melalui kelahiranNya oleh Sang Perawan Maryam. Ini disimbolkan dengan Ikon Maria yang menggendong bayi Yesus di sebelah kanan pintu Gerbang Raja tersebut.

Dalam Gereja Orthodox  Ikon Maria jarang dilukiskan berdiri sendiri. Ia selalu bersama Kristus, karena Maryam mempunyai nilai dan dihormati dalam theologi Gereja Orthodox hanya karena  hubungannya dengan Inkarnsi Sang Kristus. Tanpa itu ia sama dengan wanita yang lain yang tidak mempunyai arti secara khusus. Jadi semua Ikon Maryam dalam Gereja Orthodox selalu dimengerti sebagai simbol Inkarnasi Sabda Allah. Ikon Maryam yang ada di sebelah kanan Pintu Gerbang Raja ini menggambarkan sudah datangnya keselamatan itu di dalam penjelmaan Sang Sabda. Masa Eskatologis itu sudah mulai menampakkan diri dengan masuknya Sang Sabda (mengenakan daging kemanusiaan kita) melalui rahim Maryam. Dengan demikian, terdapat suatu ke-tegang-an rohani di dalam umat Allah menuju kepada panunggalan – yang dilambangkan menghadap kepada mezbah – , yaitu panunggalan dengan Kristus yang dilambangkan dengan ikon Maria Sang Tanda. Ke-tegang-an rohani ini adalah ke-tegang-an antara “Masa Sudah”, karena Sang Sabda  telah datang – dilambangkan dengan ikon Maria menggendong Bayi Yesus – berarti keselamatan itu “Sudah terjadi”, dengan “Masa Belum”, karena kehadiran Sang Sabda  secara permanen dalam panunggalan dengan UmatNya pada Masa Eskatologis itu – dilambangkan dengan ikon Kristus di sebelah kiri pintu Gerbang Raja – masih belum terjadi, masih menunggu saat yang akan datang. Dengan demikian Gereja selalu diingatkan, bahwa keselamatan itu adalah suatu proses. Keselamatan itu sudah terjadi, karena Sang Sabda sudah datang di dalam kelahiranNya melalui Maryam, namun keselamatan itu merupakan suatu yang akan dinyatakan pada akhir zaman yaitu pada masa eskatologis dikala Sang Sabda datang.

            Di antara ke-tegang-an yang sudah dan yang belum – yang disimbolkan oleh Ikon Maryam menggendong Bayi Yesus dan Ikon Kristus tersebut -, Gereja selalu dipanggil untuk menghadapkan dirinya kepada panunggalan yang terus-menerus dengan iman (menuju Sang  Sabda), digambarkan Umat menghadap kepada Mezbah dimana Presbiter membacakan Kitab Suci  dan menyampaikan Kotbah serta membagikan Tubuh dan Darah Kristus. Dengan disimbolkan Presbiter keluar membawa Roti dan Anggur Perjamuan dari dalam Mezbah, inilah simbol bahwa dengan menghadap Mezbah umat selalu dipanggil untuk mencapai Panunggalan dengan Kristus. Sehingga kaum beriman selalu diingatkan bahwa diantara masa yang sudah (“Saya sudah diselamatkan”), dengan masa yang belum (“Saya masih akan diselamatkan”) – dalam penggenapan keselamatan itu akan terjadi pada akhir zaman -,  mereka selalu dipanggil untuk memperbaharui dirinya di dalam ketaatannya akan Firman Allah dan di dalam panunggalan dengan Kristus melalui iman dalam partisipasi dengan Sakramen. Dengan demikian Ikon Maryam bersama Bayi Yesus dan Ikon Kristus  yang ada di kiri dan kanan Pintu Gerbang Raja adalah ekspresi theologis dari proses keselamatan yang bersifat tiga ganda: “sudah diselamatkan” (Kristus sudah datang dalam Inkarnasi: Ikon Maryam bersama Bayi Yesus), “sedang diselamatkan” (Umat masih harus selalu mengarahkan diri pada panunggalan: Pintu Gerbang Raja, Mezbah) dan “akan diselamatkan” (Kristus akan menyempurnakan keselamatan itu diakhir zaman: Ikon Kristus).  Ikon Yohanes Pembaptis di sebelah kiri  Ikon Kristus, adalah lambang sebagaimana yang pertama kali mengenal dan menyodorkan Firman menjadi Daging sesudah Maryam itu, adalah Yohanes Pembaptis, demikianlah Gereja selalu dipanggil untuk memberitakan Firman itu selama masih ada dunia ini. Gereja harus selalu memiliki semangat Yohanes Pembaptis di tengah-tengah sejarahnya dalam dunia ini. Ikon Nama Gereja setempat, mengingatkan Gereja itu  didedikasikan bagi melayani manusia, sesuai dengan teladan kehidupan Orang Kudus yang atasnya Gereja itu dinamakan,  atau  sesuai dengan hikmat dan makna dari peristiwa yang atasnya Gereja itu dinamakan. Ikon Para Malaikat: Mikhael dan Gabriel di pintu Utara dan Selatan  melambangkan  masuk dan keluarNya Kristus itu selalu diiringi oleh para Malaikat, tanpa terlihat oleh mata manusia, dengan demikian para Malaikat selalu hadir dalam setiap Ibadah Gereja.

Makna simbolis theologis dari struktur bangunan Gereja Orthodox ini sudah bersifat baku. Sehingga dengan simbol-simbol itu – serta beberpa praktek simbolis theologis lainnya – theologia Orthodox dapat bertahan untuk mempertahankan Iman Rasuliah tersebut didalam keutuhan dan kemurniannya tanpa berubah sedikitpun secara hakiki, walaupun  di tengah-tengah penyiksaan-penyiksaan yang terjadi. Gereja Orthodox mentafsirkan Alkitab selalu diilhami oleh segala sesuatu apa yang dilihat dan apa yang dialami di dalam kehidupan Gereja. Peraga-peraga Visual yang mempunyai arti simbolis-theologis tersebut menjadi penjaga dan pegangan bagi Umat Orthodox untuk tidak lari dalam pentafsirannya terhadap Alkitab dan Ajaran Rasuliah, dari kebenaran yang dimaksud oleh Alkitab dan Ajaran Rasuliah itu sendiri. Kemurnian makna Alkitab dijaga agar tidak jatuh pada ajaran-ajaran yang menyimpang. Melalui semuanya itu, berita Alkitab dijaga keutuhannya, serta semangat kehidupan Gereja mula-mula, tetap dijaga kelangsungannya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *