Dogmatika

BUNGA RAMPAI IBADAH GEREJA ORTHODOX(lanjutan 6)

Tata letak bagian dalam gereja telah ditetapkan sejak zaman kuno demi pelaksanaan ibadah Kristen dan makna simboliknya. Sebagaimana bangunan-bangunan lainnya, gedung gereja juga harus memenuhi tujuan-tujuannya sebagaimana telah dimaksudkan. Gedung gereja haruslah menampung, yang pertama, sebuah ruang yang layak bagi para rohaniwan yang memimpin kebaktian; kedua, suatu area dimana umat beriman dapat berdiri untuk berdoa, dan yang ketiga, sebuah tempat khusus bagi para katekumen, yaitu mereka yang belum dibaptis, yang mempersiapkan diri untuk baptisan, dan para petobat. Sepatutnya, sebagaimana di dalam Bait Suci Perjanjian Lama, ada tiga bagian-Ruang Mahakudus, Ruang Kudus, dan Pelataran-, demikian jugalah gedung gereja Kristen sejak awal sudah dibagi dalam tiga bagian: altar, bagian tengah, dan ruang depan.Bagian terpenting dari sebuah gedung gereja Kristen adalah altar. Istilah “altar” berasal dari bahasa Latin “alta ara” atau mezbah tinggi. Berdasarkan kebiasaan gereja kuno, altar selalu diletakkan dalam posisi setengah lingkaran di sisi timur gereja. Orang Kristen menganggap arah timur memiliki simbolisme yang luarbiasa. Di sebelah timur terletak Firdaus; di sebelah timur juga keselamatan kita tercapai. Di sebelah timur matahari jasmaniah terbit, memberikan kehidupan kepada semua makhluk hidup di bumi-demikianlah juga di timur terbit Sang Surya Kebenaran, pemberi hidup kekal bagi seluruh manusia. Timur selalu dianggap sebagai symbol kebaikan, sebagai lawan dari Barat yang dianggap sebagai simbol kejahatan, tempat kediaman roh-roh yang najis. Tuhan Yesus Kristus sendiri dipersonifikasikan dengan gambaran Timur-“Tunas/Timur adalah namanya” (Zakh 6:12; Maz 67:34);”Surya pagi dari tempat tinggi” (Luk 1:78-, bahkan nabi kudus Maleakhi menyebutNya”Surya kebenaran” (Mal 4:2). Inilah sebabnya ketika bersembahyang, orang-orang Kristen selalu menghadap ke Timur (lihat Kanon 90 dari Js. Basilius Agung). Kata “altar” (dalam bahasa Yunani “vima” atau “itration”) menandakan suatu tempat yang ditinggikan, menggambarkan firdaus dimana nenek moyang kita pertama-tama tinggal, bukit dimana Kristus berkhotbah, dan Gunung Sinai, dimana Tuhan menetapkan perjanjian dengan bangsa Israel. Altar adalah tempat khusus bagi para rohaniwan yang sebagaimana para malaikat di sorga melayani di hadapan tahta Raja Kemuliaan. Kaum awam tidak diperbolehkan memasuki altar (kanon 69 dari Konsili Ekumenis Keenam, dan kanon 44 dari Konsili Laodikea); izin memasuki altar hanya diberikan kepada klerus jenjang rendah yang membantu dalam pelaksanaan ibadah. Kaum perempuan tidak diperkenankan sama sekali untuk memasuki area altar. Hanya di biara perempuan sajalah seorang biarawati yang sudah di tonsur diizinkan memasuki altar untuk pemeliharaanya serta untuk membantu rohaniwan. Altar, sebagaimana nampak dari namanya (berasal dari bahasa Latin alta ara, artinya “mezbah tinggi”)ditempatkan pada posisi yang lebih tinggi dari semua bagian gedung gereja yang lain melalui satu, dua, atau lebih anak tangga. Dengan jalan inilah altar menjadi lebih kelihatan bagi mereka yang sedang berdoa, dan secara jelas menyatakan makna simboliknya sebagai “dunia atas”. Setiap orang yang memasuki altar harus melakukan tiga kali sujud pada setiap akhir minggu dan pada pesta-pesta perayaan Sang Theotokos, atau tiga kali membungkuk pada setiap hari Minggu atau pesta-pesta perayaan Tuhan kita.

(bersambung…)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *