Dogmatika

BUNGA RAMPAI IBADAH GEREJA ORTHODOX

(dikompilasi oleh Γρηγόριος Χριστόδουλος, GOI)

Ibadah Orthodox adalah keseluruhan doa-doa, kidung, dan ritus-ritus suci yang dilaksanakan di dalam Gereja Allah di atas bumi oleh para hierarki sebagai perwakilan-perwakilan yang sah dari Kristus (lihat Surat Ibrani).Ibadah dilakukan untuk umat beriman, dan dalam kesatuan dengan mereka, berdasarkan suatu tatacara yang telah ditetapkan.Melalui ibadah, umat percaya dipanggil untuk mengungkapkan iman mereka kepada Allah, sebagaimana juga dengan pengharapan dan kasih mereka kepada-Nya; mereka memasuki suatu persekutuan mistika dengan-Nya, dan mereka menerima kuasa rahmat untuk menjalani suatu kehidupan Kristen yang menuntun kepada keselamatan.Ibadah memiliki signifikansi yang luarbiasa pada manusia. Ibadah ialah ungkapan kehidupan doa dari Gereja Kristus. Liturgi ilahi Orthodox dari Byzantium kuno mentakjubkan bapa-bapa pendahulu kita dengan keindahannya yang agung, dan membawa mereka kepada Kristus, kepada iman Orthodox.Sesuai dengan kata-kata Rasul Kudus Paulus, orang-orang Kristen haruslah melakukan segala sesuatu “dengan sopan dan teratur” (1 Kor 14:40). Keteraturan susunan liturgi ilahi Orthodox telah dikembangkan selama berabad-abad. Para penulisnya adalah Para Rasul Kudus, para Bapa Suci, dan para juru kidung Gereja. Ritus ibadah sendiri dibentuk oleh para asketik dan para pahlawan rohani, baik gurun-gurun dan biara-biara.Demikianlah kekayaan doa-doa, gagasan-gagasan, gambaran-gambaran, dan berbagai pemikiran yang telah terakumulasi selama berabad-abad, yang dijaga dan dilestarikan dalam buku-buku gereja yang tebal dan berjilid kulit, haruslah bergaung kembali dalam jiwa umat percaya masa kini melalui ibadah yang sungguh-sungguh. Dan barangsiapa yang mencintai doa-doa gereja, ketika ia telah memahami isinya, akan pula mencintai keselarasan susunannya.Kita harus ingat bahwa elemen terpenting dalam liturgi ilahi ialah partisipasi pribadi yang hidup dari mereka yang datang untuk berdoa dan mereka yang melaksanakan liturgi ilahi, para pelayan, pembaca, dan pengidung. Hanya apa yang dirasakan dan dialami oleh para pelaksana liturgi ilahi itulah yang akan menjangkau hati mereka yang berdoa.Bentuk yang paling utama dari ibadah Kristen Orthodox adalah Liturgi Ilahi. Kata liturgi berasal dari kata Yunani ““leitos,” yang berarti “umum, orang banyak”, dan “ergon” yang berarti “pekerjaan”. Demikianlah, bagi orang-orang Yunani kuno, kata “leitourgia” berarti “pekerjaan umum”, suatu kebaktian umum yang dilaksanakan untuk orang banyak dan oleh orang banyak. Istilah ini dipakai baik dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru, walaupun dengan arti yang tidak sama. Dalam Perjanjian Lama, kata “liturgi” berarti kebaktian umum di dalam Kemah Suci, untuk menghormati Allah dan untuk kebaikan umat (lih. 2 Taw 35:3). Dalam Perjanjian Baru, istilah ini digunakan untuk menjelaskan pelayanan Zakharia di Bait Allah di Yerusalem (lih. Luk 1:23); kemudian untuk menjelaskan pelayanan di Bait Suci dimana bejana-bejana suci telah diperciki dengan darah Kristus (lihat Surat kepada orang-orang Ibrani); dan untuk menjelaskan pelayanan Kristus Sang Juruselamat, yang melaksanakan tugas keimaman melalui pelayanannya kepada orang-orang di sekitarNya (1 Kor 9:1, Ibr 12:24). Kata “liturgi” digunakan secara khusus dengan sangat jelas pada Ekaristi oleh Klemens dari Roma (abad kedua) dalam suratnya yang pertama kepada orang-orang Korintus, yang mana pelayanan para rasul, presbiter, dan episkop dijelaskan dengan istilah prosferin ta dora = leitourgein (untuk melaksanakan persembahan dan liturgi). Dari sini, istilah ini dipakai untuk menjelaskan ibadah Ekaristi kita, yaitu dengan nama Liturgi Ilahi. Nama ini mengindikasikan sifat “umum” dari ibadah Kristen sebagai suatu “pekerjaan umum” dimana semua harus mengambil bagian. Dalam makna yang lebiih luas, kata “leitorgia” menjelaskan kebaktian apapun yang ditetapkan oleh Gereja Kudus untuk memuliakan Allah Tritunggal.Ibadah-ibadah Orthodox kita merupakan ungkapan keagamaan kita, ungkapan rohani kita, iman kita kepada Allah Tritunggal, dan bakti kita kepada-Nya. Persepsi dan tujuan semacam ini dalam ilmu liturgi disebut “latreutikal” berasal dari kata Yunani latreuein, atau ibadah, penyembahan kepada Allah Tritunggal. Sebagai tambahan, dalam Liturgi Ilahi seseorang dapat memperhatikan tujuan sakramentalnya, yaitu bersama bergabung dalam karya penebusan Sang Juruselamat, dan sebagai saluran rahmat kepada dunia dan pribadi-pribadi umat beriman.Ibadah-ibadah juga memiliki sifat didaktik yaitu mengandung pengajaran. Siklus ibadah kita mengandung himnografi yang sangat kaya, yang saling jalin-menjalin dengan pembacaan-pembacaan Kitab Suci baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru dengan pelajaran-pelajaran dari tulisan-tulisan para Bapa Gereja, antologi para pemati-raga (asketik), dan kehidupan orang-orang kudus, yang daripadanya kita bisa memperoleh suatu kekayaan rohani yang luar biasa.Demikianlah, Liturgi Ilahi adalah sumber pengetahuan tentang Allah, dan memampukan seseorang untuk memperdalam pengetahuan teologinya.Secara khusus, banyak yang bisa diambil dari kidung-kidung peribadatan misalnya Ochtoechos, dari stikhera dan dogmatikanya yang dinyanyikan “Sekarang dan selalu” dan “Ya Tuhan ku berseru”, dimana disana diuraikan pemikiran-pemikiran mengenai inkarnasi Putra Allah, penebusan manusia, ketetap-perawanan Sang Theotokos, dan lain sebagainya. Antifon ibadah kebangkitan juga memberikan bahan yang berharga untuk pembelajaran mengenai Roh Kudus. Dalam Triodion Catur Dasa kita menemukan bahan-bahan yang menguraikan tentang asal muasal dosa manusia, perjuangan melawannya, puasa, dan doa. Pentakostarion menceritakan kembali tentang Kebangkitan Kristus, demikian juga buku-buku liturgi lain juga mengandung materi teologis yang kaya.Penulis kidung-kidung gerejawi tersebut adalah para guru rohani dan pujangga yang diinspirasi oleh Roh Kudus yang menguraikan pengajaran mereka tentang berbagai gagasan dogmatik dengan cara yang sama seperti para penulis teologia Gereja menguraikan pengajaran-pengajaran mereka dalam traktat-traktat teologis.Arkhimandrit Kyprian (Kern) menyatakan,”bahwa ibadah dalam pengertian seluas-luasnya, yaitu, kidung-kidung, bacaan dari Kitab Suci dan buku-buku patristik yang membangun, kekayaan tak terperikan dari ikonografi dan tindakan-tindakan simbolik dalam misteri-misteri, pada ibadah-ibadah harian, dan pada liturgi suci secara umum, sebagaimana juga dengan pengetahuan-pengetahuan umum terkait dengan perayaan-perayaan pribadi dan ritus-ritus suci, semuanya adalah sumber dari pembangunan teologis kita dan pengetahuan akan Allah” (Liturgics [Литургика], hal. 5, Paris, 1964.)Sumber utama yang menjadi dasar dimana seseorang dapat menunjukkan bahwa ibadah Orthodox bermula dan berasal dari Tuhan kita Yesus Kristus adalah Kitab Suci Perjanjian Baru. Melalui kedatangan-Nya ke dunia Tuhan kita Yesus Kristus mengakhiri Perjanjian Lama. Meskipun demikian, tidak semua hal-hal khusus dihapuskan oleh-Nya dan murid-murid-Nya; ibadah Bait Suci Perjanjian Lama tetap dilanjutkan, dan orang-orang Kristen pertama yang adalah orang-orang Yahudi, tetap pergi ke Bait Allah dan bersembahyang pada jam-jam yang telah ditetapkan. Namun, secara bertahap orang-orang Kristen mulai berkumpul bersama untuk bersembahyang dan melakukan apa yang dikenal sebagai liturgi ilahi dalam Perjanjian Baru. Demikianlah, dalam Kitab Injil kita memiliki perintah dari Tuhan yang Ia berikan pada saat Perjamuan Malam sebelum disalibkan, untuk melaksanakan Ekaristi sebagai peringatan akan diri-Nya. Demikian juga di dalam Injil kita memiliki perintah untuk melaksanakan Baptisan. Dalam Kisah Para Rasul diceritakan bahwa Rasul Petrus dan Yohanes dikirim ke Samaria, dan melalui penumpangan tangan mereka orang-orang Samaria menerima Roh Kudus; inilah sakramen Krisma. Sakramen Perminyakan Bagi Orang Sakit juga ditetapkan oleh Para Rasul (lihat Surat Yakobus). Demikianlah kita lihat dari Kitab Suci dan Tradisi Suci bahwa asal usul dari elemen-elemen utama dalam liturgi ilahi kita bersumber dari Tuhan kita Yesus Kristus dan Para Rasul-Nya.Benar bahwa rujukan-rujukan tentang hal-hal ini sangat singkat, tapi itu dapat dilengkapi dengan peninggalan-peninggalan lain yang masih bertahan yang membentuk Tradisi Suci. Diantaranya ialah Konstitusi Rasuli, keputusan-keputusan Konsili Ekumenis dan konsili-konsili lokal, dan surat-surat kanonik dari Bapa-Bapa Gereja.Sumber-sumber interpretatif utama dari liturgi Orthodox adalah karya-karya patristik sebagai berikut:

1. Homili-homili Katekisasi dan Sakramen, oleh Js. Kirildari Yerusalem (+368). Js. Kiril menjelaskan ritus-ritus suci dan simbolisme dari Baptisan, Perminyakan Suci, dan Ekaristi.

2. Tentang Hirarki Gereja. Tulisan ini, yang dihubungkan dengan Js. Dionysius dari Areopagus, ditulis pada awal abad kelima. Diantara hal-hal lain, tulisan ini membahas tentang liturgi, beberapa sakramen, dan tonsur monastik.

3. Tentang Sakramen-sakramen, oleh Js. Ambrosius dari Milan (+397). Ambrosius memiliki peranan penting dalam sejarah upacara-upacara keagamaan Gereja, khususnya di Barat.

4. Tentang Tradisi Liturgi Ilahi, oleh Js. Proklus, Patriakh Konstantinopel (+447)

5. Mystagogia (Tentang Sakramen-sakramen), oleh Js. Maximus Sang Pengaku Iman (+622). Beliau menjelaskan simbolisme dalam gedung gereja dan dalam liturgi, penjelasan beliau adalah penjelasan pertama yang berciri khas Byzantium. Dalam berbagai penjelasannya, beliau seringkali mengutip dari risalah Tentang Hierarki Gereja yang ditulis oleh Js. Dionysius dari Areopagus.

6. Tentang Ritus-ritus Suci Ilahi, oleh Js. Sophronius, patriakh Yerusalem (+644). Beliau ini menyajikan suatu penjelasan yang terperinci mengenai segala hal yang dilakukan pada saat liturgi ilahi. Sebagai tambahan, beliau juga adalah salah satu dari para penulis nyanyian-nyanyian gereja awal yang kidungnya disertakan dalam Triodion Catur Dasa, sebagaimana juga dalam Menaion Perayaan.

7. Pemikiran-pemikiran tentang Ihwal Gerejawi, oleh Js. Herman, patriakh Konstantinopel (+740)8. Penjelasan tentang Liturgi Ilahi, oleh Nikolas Kabasilas, uskup agung Tesalonika (+1371)9. Tentang Bait Allah dan Liturgi Ilahi danTentang Upacara-upacara Suci oleh Symeon, uskup agung Tesalonika (+1429).Perlu dicatat bahwa karya-karya yang disebutkan di atas memberikan kesaksian tentang fakta bahwa sepanjang sejarahnya, ibadah Gereja Orthodox telah memiliki tradisi kesusastraan yang kaya. Selain peninggalan-peninggalan penafasiran dan penjelasan mengenai ibadah yang disebutkan disini, ada juga berbagai kumpulan dan risalah-risalah mengenai upacara-upacara liturgis.

(bersambung….)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *