Dogmatika

BUNGA RAMPAI IBADAH GEREJA ORTHODOX (lanjutan 9)

Selain benda-benda suci yang sudah dijelaskan sebelumnya, ada juga benda-benda suci lain yang juga dipergunakan saat ibadah:

Pedupaan, suatu wadah yang terdiri dari dua mangkok setengah lingkaran yang satu menutupi yang lain, dan digantung pada tiga rantai kecil, digunakan untuk mendupai kemenyan, pada waktu-waktu tertentu saat ibadah

Krapilo (atau aspergillum)-dipersiapkan dari cabang-cabang halus yang berasal dari tumbuhan yang disebut “hisop/bunga karang” dan digunakan untuk memercikkan air suci

Bejana, sebuah wadah yang besar, biasanya berbentuk cawan dan digunakan untuk pencelupan bayi pada saat pelaksanaan baptisan kudus. Pada zaman dahulu,ketika baptisan dewasa masih sering terjadi, sebuah kolam khusus dengan bentuk salib yang dilengkapi dengan tangga dibuat di beranda untuk penyelaman mereka, dan disebut kolam baptisan.

Kotak mur (atau myrnitsa)-sebuah kotak kecil bersudut empat dimana di dalamnya disimpan sebotol kecil mur suci, dan benda-benda lain yang diperlukan untuk sakramen baptisan kudus yaitu: sebotol kecil minyak suci, spons untuk membersihkan bagian tubuh yang diurapi, dan gunting untuk memotong rambut saat tonsur.

Ripidi (dari kata Yunani “ripidion”, dari kata “ripis idos”-kipas besar),digunakan pada masa lampau untuk mengusir serangga dari Kurban Kudus, dan pada awalnya terbuat dari kulit yang tipis atau dari bulu merak dan kain lenan. Sekarang ini ripida terbuat dari logam berbentuk lingkaran dengan gambar seraphim bersayap enam, dipasang pada tangkai yang panjang. Kadang-kadang, ripida juga berbentuk persegi atau bintang. Pada masa kini ripida hanya memiliki makna simbolik yang melambangkan ikut sertanya makhluk-mahkhluk sorgawi dalam misteri keselamatan manusia yang diselesaikan oleh Tuhan dan Penebus kita. Ripida biasanya dibawa di atas Kurban Kudus dan di atas Kitab Injil pada saat pelayanan hirarki, juga di atas Salib pada saat ibadah malam Pengangkatan Salib, pada Minggu Peringatan Salib, dan pada tanggal 1 Agustus, dan di atas Kafan Suci. Di beberapa biara, ripida juga diizinkan untuk digunakan pada saat seorang arkhimandrit sedang melayani, sedangkan di Timur ripida bahkan digunakan pada saat pelayanan biasa dari imam, pada saat Arak-arakan Kecil dan Besar. Pada saat ordinasi seorang diakon, berdasarkan praktek kuno, ripidi diberikan kepadanya untuk menghalau serangga-serangga dari Kurban Kudus, yang merupakan tugasnya pada pelaksanaan Liturgi Ilahi.

Dikiri dan trikiri adalah tempat lilin bercabang dua dan tiga, yang digunakan pada saat pemberkatan umat oleh uskup pada Liturgi Ilahi dan beberapa kebaktian lain. Dikiri melambangkan dua kodrat Tuhan Yesus Kristus-ilahi dan manusia- sedangkan trikir melambangkan tiga pribadi dari Tritunggal Mahakudus. Hak untuk memberkati dengan dikiri dan trikiri juga diberikan kepada sebagian arkhimandrit.

Mahkota-mahkota, diletakkan di atas kepala mempelai laki-laki dan perempuan pada saat pelaksanaan sakramen pernikahan kudus. Mahkota-mahkota ini dibentuk seperti mahkota sungguhan dari logam, dengan salib kecil pada bagian atasnya, dan gambar Kristus pada makhota yang satu, serta gambar Bunda Allah pada mahkota yang lainnya. Pada masa lampau, dan di beberapa tempat bahkan pada masa kini, mahkota-mahkota ini dibuat dari tanaman hidup dan bungan-bungaan.

Ada banyak macam lampu: tempat lilin untuk satu batang lilin, yang ditempatkan di lantai (disebut “lampu yang bisa dipindah”), atau tempat untuk banyak lilin, yang berdiri di depan ikon-ikon, relik suci, dan benda-benda suci lainnya; lampada/lampu gantung; kandil yang disebut panikadilas; obor, yang digunakan saat arak-arakan—semua ini termasu dalam peralatan-peralatan gerejawi yang esensial untuk konsekrasi gedung gereja, dan bukan semata-mata berfungsi praktis saja tetapi memiliki makna simbolik; lampu-lampu tersebut menyimbolkan cahaya spiritual yang mengusir kegelapan rohani, cahaya Kristus yang menerangi semua. Sejumlah besar lampu ditentukan untuk dinyalakan pada saat perayaan-perayaan tertentu sebagai tanda kegembiraan rohani dan sukacita. Listrik, yang saat ini menerangi gereja-gereja, merupakan cahaya yang mati, dan tidak bisa menggantikan cahaya lampu-lampu yang “hidup” ini dalam keadaan apapun. Lilin-lilin kita haruslah terbuat dari lilin murni, sedangkan untuk penerangan dengan lampada/lampu gantung, minyak zaitun yang dikenal luas dan tersebar di sebelah Timurlah yang dipergunakan.

Kanun, atau meja panikhida, dipergunakan untuk ibadah doa bagi orang yang telah meninggal atau disebut panikhida. Di atasnya, sebuah “Golgotha” biasanya dibentuk dengan gambar peristiwa Penyaliban, dengan Bunda Allah serta Js. Yohanes Sang Teolog berdiri di sampingnya. Di depannya biasanya di atur tempat-tempat untuk lilin, biasanya berjumlah empat puluh, menandakan empat puluh hari peringatan bagi yang telah meninggal.

Sedangkan ibadah untuk pemberkatan roti, gandum, anggur, dan minyak pada saat doa sepanjang malam dilaksanakan pada sebuah meja khusus.(bersambung…)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *