Dogmatika

BUNGA RAMPAI IBADAH GEREJA ORTHODOX (lanjutan 7)

Perlengkapan tetap utama yang terdapat di altar ialah meja kudus; dalam bahasa Yunani trapeza.Pada abad-abad pertama kekristenan, di gereja-gereja bawah tanah atau katakombe, kubur seorang martir berfungsi sebagai meja kudus, sebab makam tersebut sebagaimana diperlukan memiliki bentuk segi empat yang memanjang dan terhubung ke dinding altar. Pada gereja-gereja kuno yang terletak di atas tanah meja kudus dibentuk dengan wujud menyerupai persegi dengan satu atau empat penopang. Meja-meja ini dibuat dari kayu dengan bentuk seperti meja biasa; tetapi belakangan dibuat dari logam berharga, dan terkadang juga dibuat dari batu atau marmer. Meja kudus ini melambangkan tahta Allah di sorga, di atas mana Yang Mahakudus sendiri hadir secara mistika. Meja ini juga disebut “meja persembahan”(dalam bahasa Yunani” thesiastirion”) karena di atasnyalah Korban Tak Berdarah dipersembahkan demi dunia. Meja kudus juga melambangkan kubur Kristus, sebab di atasnya terletak Tubuh Kristus. Empat sisi meja menyimbolkan bahwa korban yang dipersembahkan di atasnya adalah bagi keempat penjuru bumi, dan bahwa semua ujung bumi dipanggil untuk ambil bagian dari Tubuh dan Darah Kristus.

Sejalan dengan dua makna penting dari meja kudus, meja ini ditutupi dengan 2 jenis penutup: di bagian dalam ada penutup putih yang disebut “sryachitsa” (dalam Bahasa Yunani “katasarkion”) berarti “tutup yang layak”, yang melambangkan kain kafan dimana tubuh Juruselamat dibungkus, dan sebuah penutup luar yang disebut “inditia” (dari kata Yunani “endio”) artinya “aku memakaikan” yang terbuat dari bahan-bahan berharga yang cemerlang, yang menggambarkan kemuliaan tahta Tuhan. Pada saat penyucian gedung ibadah tersebut, penutup bagian dalam atau katasarkion di lilit dengan tali sebagai symbol dari belenggu Tuhan ketia Ia dibelenggu ketika Ia akan dibawa untuk diadili oleh Imam Besar Hanas dan Kayafas (Yoh 18:24). Tali tersebut dililit sedemikian rupa di sekkeliling meja sehingga pada setiap sisi terbentuk tanda salib, yang menyimbolkan bahwa salib yang oleh karena kedengkian orang Yahudi menyebabkan menyebabkan kematian Tuhan, tetapi juga menjadi alat kemenangan atas dosa dan alam maut.Benda yang paling penting di atas meja altar ialah antimin (dari kata Yunani “anti” –“sebagai pengganti” dan kata Latin “mensa”-meja,mezbah”, atau “antialtar”. Sekarang ini antimin terdiri atas sebuah kain sutera, yang diatasnya digambarkan persemayaman jenazah Tuhan Yesus Kristus di dalam kubur, keempat Penulis Injil, dan alat-alat yang dipakai dalam sengsara Kristus Sang Juruselamat. Di dalam antimin, di dalam sebuah kantong khusus diletakkan potongan relic suci. Sejarah penggunaan antimin bermula sejak masa-masa awal kekristenan. Orang-orang Kristen perdana memiliki kebiasaan melaksanakan Ekaristi di atas makam para martir. Ketika pada abad ke-4 orang Kristen diberikan kebebasan untuk mendirikan gereja di permukaan tanah, maka berdasarkan kebiasaan yang sudah ada, mereka mulai memindahkan relic-relik para martir dari berbagai tempat ke dalam gedung-gedung gereja. Seiring bertambahnya jumlah gereja, semakin sulit juga bagi mereka untuk memperoleh relic yang utuh untuk setiap gereja. Maka mereka mulai menempatkan potongan-potongan relic dibawah meja altar. Dari sinilah antimin berasal. Pada dasarnya, antimin adalah sebuah altar portable. Utusan-utusan yang pergi ke tempat-tempat yang jauh untuk memberitakan Injil, dan para Kaisar yang pergi berperang dengan klerus dan gereja bergerak, perlu membawa altar bergerak yaitu antimin bersama mereka. Serangkaian sumber informasi mengenai antimin, dengan menggunakan istilah antimin, berasal dari abad ke-8, sedangkan antiminnya sendiri yang telah diturunkan kepada kita dalam bentuk material berasal dari abad ke-12. Inkripsi yang ada mengindikasikan bahwa antimin berfungsi sebagai pengganti meja altar yang telah dikonsekrasi; disitu tertulis nama uskup yang mengkonsekrasi “altar ini”, tempat tujuannya (untuk gereja mana), dan penjelasan tentang relic (“ini adalah relic dari…”). Dari sejak abad ke-17 berbagai gambar yang lebih kompleks muncul pada antimin, seperti misalnya penempatan jenazah Juruselamat di dalam kuburan, dan bahan dari lenan diganti dengan sutra. Sebenarnya, relic ditempatkan di setiap meja altar yang dikonsekrasi oleh seorang uskup (di dalam sebuah tempat khusus yang kecil di bawah altar atau di dalam rongga di papan bagian atas dari meja altar). Altar semacam ini tidak memerlukan antimin. Gedung-gedung gereja yang belum dikonsekrasi oleh uskup, menjadi terkonsekrasi dengan adanya antimin yang mengandung relik suci, yang dikirimkan oleh uskup. Akibatnya sebagian gereja memiliki altar dengan relik suci tetapi tidak memiliki antimin, sedangkan altar yang lain tidak memiliki relik suci tetapi mempunyai antimin. Demikianlah di gereja-gereja Rusia pada masa-masa awal setelah masuknya kekristenan. Tetapi seiring berjalannya waktu, pertama di kalangan Yunani, kemudian di kalangan Gereja Rusia, antimin mulai diletakkan di atas altar-altar, bahkan yang sudah dikonsekrasi oleh uskup tetapi yang belum memiliki relik suci. Antimin yang diberikan oleh uskup kepada presbiter, menjadi tanda yang jelas dari otoritas presbiter tersebut untuk melayankan Liturgi Ilahi, dengan ketundukan kepada uskup yang mengeluarkan antimin tersebut.Antimin diletakkan di atas meja altar, dan dilipat empat kali. Di dalamnya terletak “bunga karang” atau dalam bahasa Yunani “mesa”. Ini melambangkan bunga karang yang dicelupkan ke dalam anggur asam dan diunjukkan ke bibir Tuhan ketika Ia tergantung di salib, dan ini digunakan untuk menyeka bagian-bagian Tubuh Kristus dan bagian-bagian yang dipisahkan untuk menghormati para kudus, umat yang masih hidup dan yang sudah wafat, pada saat pencelupannya ke dalam cawan suci pada akhir liturgy.Antimin yang dilipat empat kali juga dibungkus dengan kain sutra khusus yang berukuran sedikit lebih besar, dan disebut “eileton”, dari kata Yunani “eileo”, berarti “aku membungkus”. Eileton ini melambangkan kain lampin yang membungkus tubuh Tuhan pada saat kelahiran-Nya, sebagaimana juga kain kafan yang membungkus tubuh-Nya pada saat pemakaman-Nya.Sekarang ini, di atas antimin diletakkan kitab Injil.

Kitab Injil ini biasanya berhias dan dijilid dengan mewah, dengan gambar-gambar di sampul depannya-kebangkitan Kristus di tengah, dengan keempat Penginjil di masing-masing sudutnya. Pada zaman dahulu, Kitab Injil ini tidak disimpan di meja altar, melainkan pada suatu partisi khusus di dekat altar-tempat penyimpanan peralatan-peralatan- dan diarak dengan khidmat ke altar sebelum dibacakan (Arak-arakan Kecil).Di samping Kitab Injil, di atas altar juga diletakkan Salib (bah. Yunani “Stavros”), sebab di atas altarlah dipersembahkan Korban Tak Berdarah yang memperingati pengorbanan Tuhan di kayu salib. Salib ini, sama seperti Kitab Injil, juga disebut “altar”. Biasanya juga ada sebuah salib yang diletakkan di belakang altar.Di atas meja altar di gereja-gereja kuno biasanya diletakkan apa yang disebut ciborium oleh para penulis Latin, atau kivorion dalam bahasa Yunani, atau sjen dalam bahasa Slavik; semacam kanopi yang ditopang oleh empat tiang. Kanopi semacam ini terdapat pada gereja-gereja Rusia kuno. Ini melambangkan sorga yang terbentang di atas bumi ke mana kurban dipersembahkan demi dosa-dosa dunia. Selanjutnya, kanopi ini juga melambangkan “tabernakel Allah yang tak berwujud” yaitu kemuliaan Allah dan rahmat-Nya yang menyelimuti-Nya, Ia yang memakai cahaya sebagai pakaian dan bersemayam diatas tahta kemuliaan-Nya.Di bawah kanopi ini, di atas altar di bagian tengah tergantung sebuah peristerion-sebuah wadah berbentuk burung merpati yang di dalamnya disimpan Misteri Kudus yang telah dikonsekrasi untuk keperluan perjamuan bagi mereka yang sakit dan bagi pelaksanaan Liturgy Prasidikara. Pada masa kini, gambar burung merpati ini digunakan di berbagai tempat, tetapi telah kehilangan signifikansi praktisnya yang asli yaitu sebagai wadah dimana Misteri Kudus disimpan, tetapi hanya digunakan sebagai simbol Roh Kudus.Untuk penyimpanan Misteri Kudus, di atas altar sekarang diletakkan sebuah tabut, yang juga disebut sebegai tabernakel. Tabernakel ini dibuat dalam bentuk yang menyerupai makam Tuhan, atau menyerupai gereja. Di sinilah biasanya minyak mur suci disimpan.Di meja altar juga ditempatkan kandil-kandil sebagai perlambang Terang Kristus yang menerangi dunia. Demikianlah para presbiter yang baru ditahbiskan diperintahkan: Jangan meletakkan apapun di atas meja kudus selain daripada Kitab Injil, dan Misteri Kudus, dan benda-benda kudus lainnya”.Di belakang altar juga diletakkan kandil bercabang tujuh sebagaimana di Perjanjian Lama juga ada kandil bercabang tujuh di Ruang Kudus.Di belakang altar, tepat di samping dinding di bawah lengkungan altar suatu tempat tinggi di letakkan, yang mewakili tahta uskup, di masing-masing sisi juga ada tempat untuk para presbiter. Tempat-tempat ini diletakkan di posisi yang agak tinggi sehingga disebut tahta tinggi. Disinilah, pada saat pembacaan epistle, uskup yang melayani naik, sebagai perlambang Tuhan yang mulia. Di setiap sisinya duduklah para presbiter, yang melambangkan para Rasul. Tempat mereka ini dalam bahasa Yunani disebut “kothronos”.Di sebelah utara altar–walaupun di zaman kuno tempat ini merupakan tempat khusus yang tersambung dengan altar– meja persembahan (bah. Yunani “πρόθεσις/prothesis”) di letakkan. Ini adalah sebuah meja yang di tutupi, sebagaimana dengan meja altar, dengan penutup yang mahal, di mana di atasnya Kurban Kudus dipersiapkan pada awal liturgy. Meja ini disebut meja persembahan sebab di masa kuno, ke meja inilah umat beriman membawa atau mempersembahkan roti, anggur, dan semua yang diperlukan demi berlangsungnya Liturgi Ilahi. Dari semua yang dibawa, presbiter lalu memilih yang terbaik untuk pelaksanaan Misteri, dan sisanya digunakan pada apa yang kemudian dikenal sebagai “agapes” atau “perjamuan kasih”, yang pada masa lampau digabungkan dengan pelaksanaan Ekaristi.

Meja persembahan juga dikenal dengan nama “meja kurban”, sebab di atasnyalah roti dan anggur dipersiapkan untuk pelaksanaan Kurban Tak Berdarah. Pada saat persiapan Kurban Kudus, kelahiran dan penderitaan Sang Juruselamat diperingati. Demikianlah, meja kurban menyimbolkan Bethlehem atau lebih khusus lagi palungan dimana Tuhan dibaringkan saat kelahiran-Nya dan Golgotha dimana Ia mengambil bagian dalam cawan penderitaan.(bersambung…)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *