Dogmatika

BUNGA RAMPAI IBADAH GEREJA ORTHODOX (lanjutan 5)

Jenis yang paling kuno dari gedung ibadah Kristen ialah basilika. Berdasarkan tata letaknya, basilika Kristen terdiri dari sebuah persegi panjang, dimana panjangnya adalah dua kali lebarnya. Bagian dalamnya dibagi, dengan barisan pilar yang berjejer sederetan panjangnya, menjadi tiga atau lima “nave” (ruang tengah), atau area yang membujur. Berdasarkan jumlah “nave” tersebut, di sisi timur beberapa “asp” atau altar setengah lingkaran ditempatkan. Gereja-gereja yang lebih kecil tidak dibagi menjadi beberapa “nave” dan hanya satu altar setengah lingkaran yang diletakkan. Gedung gereja dibangun dengan altar yang menghadap ke timur, sedangkan di sisi sebelah barat dibangun” narthex” (ruang depan) atau “vestibula” dan di depannya ada “portico” atau serambi. “Nave” yang ditengah biasanya dibuat lebih tinggi dan lebar dari “nave” lainnya yang sederetan. Pada dinding diantara kolom-kolom nave tengah, diatas atap nave-nave yang di samping, dipasang jendela-jendela yang menerangi keseluruhan dalam basilika. Darimana asal basilika Kristen? Dari namanya sendiri mengindikasikan bahwa itu adalah sebuah “bangunan kerajaan”, sebagaimana istilah itu berasal dari kata Yunani ”βασιλεύς” yang berarti “raja” atau ”hakim”. Pada masa itu, basilika dianggap sebagai bentuk yang paling sempurna dari seni arsitektur; semua bangunan pemerintah, sebagaimana juga rumah-rumah orang kaya, semuanya dibangun dalam bentuk basilica. Sangatlah alami bagi kekristenan untuk bagi tempat ibadah mereka gaya arsitektur semacam ini yang pada zaman itu dianggap sebagai yang paling indah dan paling sempurna. Kemudian, telah diketahui umum bahwa orang-orang Kristen perdana, yang ketika itu belum memiliki gedung ibadah, berkumpul untuk merayakan Ekaristi di rumah-rumah orang kaya yang telah berpaling kepada Kristus, mereka ini menyiapkan ruangan terbaik bagi perkumpulan ini yang disebut οἶκος atau “ikosi”. Ruangan-ruangan ini memiliki bentuk persegi panjang dengan kolom-kolom yang membagi ruangan tersebut berdasarkan panjangnya menjadi tiga bagian. dalam bentuknya, basilika menyerupai sebuah bahtera. Ini menimbulkan suatu pikiran umat percaya bahwa Gereja adalah sebuah bahtera yang mana di dalamnya seseorang bisa mengarungi lautan kehidupan dan mencapai labuhan yang aman. Dari masa sejak pemindahan ibukota Kekaisaran Romawi dari Roma ke Konstantinopel, dan berakhirnya penganiayaan atas orang-orang Kristen, sebuah gaya arsitektur baru dalam pembangunan gedung ibadah Kristen muncul yaitu gaya Byzantin. Gedung ibadah yang dibangun dengan gaya ini didirikan dalam bentuk sebuah salib (σταυρὸν), atau dalam bentuk sebuah persegi panjang, mendekati bentuk bujursangkar. Ciri khas dari gaya Byzantin ini adalah adanya lengkungan puncak dan kubah. Pada awal abad IV kubahnya masih rendah, dan menutupi seluruh bagian atas gedung, dengan dipasang langsung pada tembok, tetapi kemudian hari kubahnya naik lebih tinggi lagi dan didudukkan pada pilar-pilar khusus, dan jendela-jendela ditempatkan di kubah tersebut. Keseluruhan kubah dimaksudkan untuk mengingatkan seseorang tentang ruangan besar di surga sebagai tempat kediaman yang tidak kelihatan dari Allah. Pembangunan gedung ibadah dalam bentuk lingkaran, yang juga merupakan karakteristik dari gaya Byzantin, kemungkinan berasal dari “baptisterium”, atau tempat pembaptisan, sebuah bangunan yang dirancang khusus untuk baptisan, yang mana di tengahnya, sebagaimana gaya pemandian umum Romawi, bejana-bejana bulat berisi air ditempatkan. Pendapat lain menyatakan bahwa bentuk gedung yang bundar berasal dari monumen Yunani atau rotunda, yang dibangun di atas makam tokoh-tokoh pemerintahan atau masyarakat yang dihormati. Gedung ibadah berbentuk salib dimaksudkan untuk mengingatkan bahwa pada dasar Gereja terdapat Salib Kristus. Bentuk yang bulat menandakan keabadian Gereja, sebab lingkaran tidak memiliki awal dan akhir. Pada masa penganiayaan orang Kristen di bawah pemerintahan Desius, di Roma saja ada sekitar 40 basilika yang dihancurkan. Salah satu jenis gedung ibadah basilika ialah basilika Js. Petrus dan Paulus di Roma, yang dibangun baru dengan gaya Renaisans. Di Roma juga dibangun dua basilika terkenal-gereja Maria Agung pada abad ke-5, dan basilika Js. Paulus, yang hancur akibat kebakaran pada tahun 1823 dan dibangun kembali dengan bentuk yang sudah berubah. Banyak basilika dibangun pada abad ke-4 dan 5 di luar wilayah Roma, khususnya di Bethlehem di atas gua Kelahiran Kristus, di Yerusalem di atas makam Kristus, di Tesalonika, Siria, dan di Cherson sendiri. Kita melihat periode paling gemilang dari gaya Byzantin pada gereja Hagia Sophia di Konstantinopel. Banyak gereja dengan gaya ini yang terdapat di Athos, di Athena, Tesalonika, Armenia, Serbia, dan bahkan di Barat, khususnya di Rowena dan Venesia. Di Barat, muncul juga suatu gaya Romawi yang spesifik. Suatu gedung gereja yang dibangun dengan gaya Romawi terdiri atas sebuah nave yang panjang dan lebar, yang diletakkan diantara dua nave sejajar yang ukurannya setengah kali lebih kecil. Dari sebelah timur, arah depan, dihubungkanlah sebuah nave melintang, yang disebut “transept”, yang memberikan bentuk salib kepada bangunan tersebut, walupun bukan seperti bentuk salib sama sisi pada gaya Byzantin. Ciri khas gaya Romawi adalah 1) lantai di bagian asp dan transept dibuat lebih tinggi daripada bagian tengah gereja, dan 2) kolom-kolom dari berbagai bagian gereja mulai diatur berbentuk setengah lingkaran dan dihias pada bagian atas dan bawahnya dengan berbagai gambar yang dipahat, dibentuk, atau dilapisi. Gaya Romawi ini menyebar di Barat mulai abad ke-10 sampai ke-13, dimana kemudian digantikan dengan gaya Gothik. Gaya Gothik, atau dikenal dengan sebutan “gaya lancet (tombak)” pada dasarnya sama dengan gaya Romawi, dan hanya dibedakan dengan bentuk-bentuk pyramidal yang runcing dan mengarah ke atas yang terlihat dalam berbagai aspek. Gaya ini berciri khas memiliki banyak jendela tinggi yang diletakkan rapat satu sama lain dan dipenuhi dengan gambar-gambar. Dari abad ke-15 suatu gaya lain mulai menyebar di Barat yaitu gaya Renaisans. Gaya ini menunjukkan pengaruh arsitektur pagan kuno. Gedung-gedung gereja di Barat mulai menyerupai bentuk kuli-kuil pagan di masa lampau. Dari gaya Romawi, gaya ini mempertahankan transeptnya, dari gaya Byzantine, lengkungan dan kubah-kubahnya. Fitur khas dari gaya Renaisans ini adalah kolom-kolom Yunani kuno di dalam dan di luar, ornament-ornamen dekoratif berbentuk dedaunan, bunga, angka-angka, orang, dan hewan (berlawanan dengan pola Byzantin yang diadopsi dari khazanah kekristenan), dan patung-patung para orang kudus. Gedung-gedung gereja Rusia Lama dibangun berdasarkan gaya Byzantin. Seperti misalnya di Kiev-Gereja Perpuluhan, Katedral Kebijaksanaan, Biara Gua Kiev, Biara Js. Michael; di Pskov-Katedral Tritunggal Mahakudus; di Vladimir-Katedral Tertidurnya Theotokos; di Rostov-Gereja Tertidurnya Theotokos, dan sebagainya. Tetapi gedung-gedung gereja Rusia berbeda dalam banyak hal dari Byzantin. Contohnya, karena ketiadaan marmer dan batu, tidak ada kolom-kolom. Gedung gereja dari batu sangatlah sedikit. Dalam pembangunan gedung gereja dari kayu, yang tersedia dalam jumlah yang sangat besar di utara, para pengrajin Rusia menunjukkan selera dan kebebasan mereka sendiri. Sebuah ciri khas yang membedakan kubah Rusia dari kubah Yunani ialah di atas kubah, di bawah salib, sebuah atap lengkung berbentuk bawang diletakkan. Bentuk pertama yang benar-benar bergaya Rusia disebut gaya “kemah besar(marquee)” atau gaya kolom. Gaya ini memiliki penampakan beberapa gereja terpisah yang digabungkan menjadi satu, masing-masing kelihatan seperti pilar atau kemah besar, dimahkotai dengan kubah dan atap lengkung/kupel/cupola. Selain daripada jumlah atap lengkung berbentuk bawang yang banyak, gaya marquee ini juga berciri khas yaitu penggunaan warna-warni yang beranekaragam. Contoh gereja semacam ini adalah Gereja Desa Para Pelayan, dan Gereja Js. Basil di Moskow. Selain gaya marquee, ada juga bentuk-bentuk lain dari gaya nasional Rusia: 1) sebuah kubus yang ditinggikan, yang menghasilkan lantai atas dan lantai bawah; 2) bentuk dua bagian-sebuah segi empat di bawah dengan sebuah segi delapan di atas; dan 3) sebuah bentuk tercipta dari susunan beberapa rangka persegi dimana masing-masing bagian terletak di atas bagian lainnya. Pada masa pemerintahan Kaisar Nikolas I, arstitek T.Tono sebuah gaya universal untuk pembangunan gereja-gereja militer yang akhirnya dikenal dengan “gaya Tonovski”. Salah satu contohnya adalah Gereja Anunsiasi di Benteng Penjaga di Petersburg. Dari berbagai gaya Eropa Barat, di Rusia hanya gaya Renaisans saja yang pernah dipakai. Bentuk dari gaya ini dapat dilihat pada dua katedral utama di Petersburg yaitu katedral Kazan dan katedral Isakian. Semua bangunan gereja biasanya berpuncak kubah, yang dimaksudkan untuk mengingatkan umat beriman tentang sorga, kemana semua pikiran dan harapan mereka harus ditujukan. Di atas kubah ditempatkan beberapa “kupola” atau “mahkota”. Satu kupola menyimbolkan Tuhan Yesus Kristus Sang Kepala Gereja; tiga kupola mengingatkan kita akan tiga Hypostasis dari Tritunggal Mahakudus; lima kupola menyimbolkan Tuhan Yesus Kristus dan Empat Penginjil; tujuh menyimbolkan Tujuh Konsili Ekumenis, tujuh sakramen, dan tujuh karuna Roh Kudus; Sembilan menyimbolkan Sembilan jenjang malaikat; tiga belas-Tuhan Yesus Kristus dan kedua belas rasul-Nya. Setiap kubah dimahkotai dengan salib, lambang kemenangan gereja.(bersambung…)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *