Dogmatika

BUNGA RAMPAI IBADAH GEREJA ORTHODOX (lanjutan 4)

Aturan liturgi masa kini menentukan bahwa sebagian besar ibadah dilaksanakan di dalam gedung gereja. Terkait istilah gedung ibadah (temple, templum,ναός) , istilah ini mulai digunakan sekitar abad IV. Sebelumnya, istilah ini digunakan oleh para penyembah berhala untuk merujuk kepada tempat-tempat dimana mereka berkumpul untuk berdoa. Di antara kita orang Kristen, istilah gedung ibadah merujuk kepada sebuah bangunan yang secara khusus disucikan untuk Allah, dimana umat percaya berkumpul untuk menerima rahmat Allah melalui sakramen Perjamuan Kudus dan sakramen-sakramen lain, dan untuk menaikkan doa-doa bersama kepada Allah. Karena orang-orang percaya adalah mereka yang menjadi bagian dari Gereja Kristus, berkumpul di dalam gedung ibadah, maka gedung ibadah itupun disebut juga sebuah “gereja(church)”, sebuah kata yang berasal dari kata Yunani “κυριακόν”, yang berarti “rumah Allah” atau dalam bahasa Latin domus Dei.Sebutan ini diambil dari Kitab Suci Perjanjian Lama (Kej 28:17,19,22). Dari kata Yunani κυριακόν dengan mengubah huruf κ dan υ kedalam aksara Rusia ц dan е , terbentuklah kata Rusia церковь, yang juga berarti rumah atau bait Allah (Uskup Agung Benyamin, Loh Yang Baru; lih.hal. 10). Gedung ibadah Kristen secara khusus sebagai tempat penyembahan mulai muncul dalam jumlah besar di kalangan Kristen setelah akhir masa penganiayaan oleh kaum penyembah berhala, yaitu pada abad IV. akan tetapi, gedung-gedung ibadah sendiri telah dibangun lebih dahulu setidaknya sejak abad III. Orang-orang Kristen perdana di Yerusalem masih beribadah di Bait Allah, tapi untuk pelaksanaan Ekaristi mereka berkumpul secara terpisah dari orang-orang Yahudi, “dari rumah ke rumah” (Kis 2:46). Pada masa penganiayaan orang Kristen oleh kaum penyembah berhala, tempat utama berkumpulnya orang Kristen untuk beribadah ialah katakombe. Ini adalah tempat penyimpanan khusus di bawah tanah, yang digali untuk keperluan memakamkan orang mati. Kebiasaan memakamkan orang mati di dalam katakombe telah menyebar pada masa pra-Kristen, baik di Timur maupun Barat. Menurut hukum Romawi, tempat-tempat pemakaman adalah tempat yang tidak dapat diganggu gugat. Undang-undang Romawi juga memberikan kebebasan kepada komunitas-komunitas pemakaman, tanpa mempersoalkan keyakinan mereka untuk berkumpul di tempat-tempat pemakaman anggota mereka, dan bahkan memberikan kebebasan bagi mereka untuk memiliki altar sendiri guna melaksanakan ibadah mereka. Demikianlah, menjadi jelas bahwa orang-orang Kristen perdana memanfaatkan hak-hak ini, yang mempertegas bahwa tempat utama untuk berkumpul dan beribadah, atau dengan kata lain, gedung-gedung ibadah perdana ialah katakombe-katakombe. Katakombe-katakombe ini telah dipelihara sampai masa kini di berbagai tempat. Salah satu yang menarik dan telah dipelihara secara luarbiasa terletak di pinggiran kota Roma, yang dikenal dengan nama “katakombe Kallistus”. Ini merupakan suatu keseluruhan dari jaringan koridor bawah tanah yang saling berhubungan satu sama lain, dengan ruang-ruang yang kurang lebih seluas ruang apartemen yang disebut kubikel yang terletak disana sini. Di dalam labirin ini, tanpa bentuan dari seorang penunjuk jalan berpengalaman seseorang akan dengan mudah tersesat karena koridor-koridornya terkadang terletak pada tingkatan yang berbeda; dari satu tingkatan bisa dengan mudah dan tanpa sadar bisa menyeberang ke tingkatan lainnya. Di sepanjang koridor terdapat ceruk-ceruk dimana orang-orang mati ditempatkan. Kubikel-kubikel membentuk ruangan bagi keluarga, sementara ruang bawah tanah yang lebih besar adalah tempat dimana orang-orang Kristen menjalankan ibadah mereka pada masa penganiayaan. Di dalam sini biasanya ada makam seorang martir, dan ini itu berfungsi sebagai altar dimana Ekaristi dirayakan. dari sinilah berasal kebiasaan menempatkan relik-relik suci ke dalam gereja yang baru dikonsekrasi, di dalam altar dan antimin, yang tanpanya Liturgi Ilahi tidak bisa dilaksanakan. Disepanjang sisi altar atau makam disediakan tempat bagi para uskup dan presbiter. Ruang terbesar di katakombe biasanya disebut “kapel” atau”gereja”. Di dalamnya seseorang bisa dengan jelas membedakan banyak bagian struktural dari gedung ibadah masa kini. Katakombe-katakombe ini dihias dengan lukisan dinding.

Lukisan-lukisan dinding tersebut kebanyakan adalah karakter-karakter simbolik seperti misanya “jangkar”, simbol pengharapan Kristen; “burung merpati” simbol Roh Kudus; “burung Phoenix” simbol Kebangkitan; “burung merak” simbol Keabadian; “ayam jantan” simbol kebangunan rohani dan pengingat akan penyangkalan Petrus; “anak domba” simbol dari Tuhan Yesus kristus sendiri; dan “salib” dalam berbagai bentuk monogram. Salib, dalam pandangan kaum penyembah berhala, adalah alat penghukuman yang memalukan, dan untuk alasan inilah orang-orang Kristen, untuk menghindari olok-olok dari kaum pagan menyembunyikan simbol Kekristenan ini, dan menggabungkan gambar ssalib dengan inisial nama Kristus. Lukisan-lukisan dinding lainnya bersifat alegoris, menyimbolkan perumpamaan-perumpamaan Kristus Sang Juruselamat. Kategori ketiga menggambarkan kisah-kisah dalam Kitab Suci seperti misalnya, Nuh di dalam bahtera; Yunus dan ikan besar yang menelannya; Daniel di gua singa; Musa di dekat semak yang menyala, dan mengeluarkan air dari batu; pemujaan para Majus; pemberitaan kelahiran Kristus; kebangkitan Lazarus. Kategori keempat dari lukisan-lukisan dinding ini terdiri dari gambar-gambar yang bersifat liturgis. Yang paling utama di antaranya ialah gambar ikan, yang menggambarkan Tuhan Yesus Kristus sendiri. Para Rasul adalah nelayan, dan kita seringkali menemukan simbol ikan di dalam Injil. Kemudian, kata Yunani untuk ikan ΙΧΘΥΣ mengandung huruf-huruf awal dari frasa Yunani “Ἰησοῦς Χριστὸς Θεοῦ Υἱὸς Σωτήρ” yang berarti ‘Yesus Kristus, Putra Allah, Juruselamat”. Sudah sejak abad I-II kita bisa temukan di katakombe-katakombe ikonografi tentang Kristus Sang Juruselamat, dan Bunda Allah, walaupun dalam jumlah yang sedikit. Gambar-gambar simbolik lebih disukai mengingat ancaman olok-olok dan penodaan dari kaum pagan.Bahkan sebelum kekristenan memperoleh status sebagai agama yang utama dalam masa pemerintahan Kaisar Konstantinus, orang-orang Kristen sudah mulai membangun tempat-tempat ibadah yang tidak tersembunyi. Tempat-tempat ibadah ini sering dihancurkan, tapi dalam selang masa damai diantara masa-masa aniaya, orang-orang Kristen membangunnya kembali.

(bersambung…)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *