Dogmatika

BUNGA RAMPAI IBADAH GEREJA ORTHODOX (lanjutan 3)

Sangat sedikit informasi yang masih terpelihara mengenai bagaimana tepatnya ibadah Kristen dilaksanakan dalam tiga abad pertama selama masa penganiayaan biadab yang dilakukan oleh para penyembah berhala. Keberadaan gedung-gedung gereja yang permanen tidaklah dimungkinkan. Untuk pelaksanaan ibadah, orang-orang Kristen berkumpul di rumah-rumah pribadi dan gua-gua pemakaman di bawah tanah—yaitu katakombe-katakombe. Kita tahu bahwa orang-orang Kristen perdana melaksanakan doa –doa sepanjang malam di katakombe- dari petang hingga pagi, khususnya pada setiap hari Minggu dan perayaan-perayaan lain,termasuk juga pada hari-hari peringatan para martir dan diakhiri dengan Ekaristi. Pada masa purba ini pun sudah ada tatacara yang tetap. Eusebius dan Jeronimus mencatat tentang buku “Pengidung Mazmur” yang berisi kidung-kidung gereja. Hippolitus, uskup Ostia yang wafat pada tahun 250,meninggalkan sebuah buku dimana ia menjelaskan secara rinci tradisi rasuliah tentang tatacara pentahbisan pengidung, subdiakon, diakon, presbiter, dan uskup dan juga terkait sembahyang, atau upacara-upacara singkat. dan peringatan bagi mereka yang wafat. Tentang sembahyang, ia berkata bahwa sembahyang harus dilakukan pada pagi hari, jam ketiga, keenam, dan kesembilan, pada petang hari, dan pada saat ayam berkokok; jika tidak memungkinkan untuk berkumpul, biarlah masing-masing menyanyi, membaca, dan berdoa dirumahnya sendiri. Secara alami, ini memberikan kesan adanya buku-buku liturgi yang terkait dengan jam-jam sembahyang tersebut.Zaman keemasan ibadah Kristen dimulai pada abad IV setelah berakhirnya penganiayaan. Di sini muncullah serentetan penulis kidung gereja yang luarbiasa, para penyusun doa-doa yang dalam dan keseluruhan ritus liturgikal, yang sekarang memiliki bentuk yang tetap dan seragam di berbagai tempat.Dari pribadi-pribadi yang telah memperkaya dan memperindah liturgi ilahi kita, sangat penting untuk menyebutkan para penulis kidung gerejawi berikut ini:1. Js. Basilius Agung (+379) dan Js. Yohanes Krisostomus (+407) di Timur, dan Js. Ambrosius dari Milan (339-397) di Barat. Masing-masing mereka ini menuliskan bagi gerejanya suatu tatacara Liturgi Ilahi. Js. Basilius Agung menambahkan dan melengkapi ibadah-ibadah harian dan sembahyang senja Pentakosta dengan doa-doa yang disusunnya sendiri, dan Js. Yohanes Krisostomus memperkenalkan Litia pada Sembahyang Sepanjang Malam. Js. Ambrosius memperkenalkan kidung antiphon di Barat, dengan berpatokan pada cara pelaksanaannya di Timur.2. Js. Gregorius Sang Teolog (+391) menulis banyak hal menentang para pengikut Arius, dan meninggalkan bukan hanya surat-surat tapi juga ceramah-ceramah. Secara khusus beliau menulis banyak karya puitis. Dalam puisi-puisinya, ada banyak ungkapan yang dikemudian hari banyak digunakan oleh para penulis kidung gereja lainnya. Js. Yohanes Damaskus secara khusus menggunakan banyak ungkapan dari Js.Gregorius dalam kanon-kanon Paskha dan stikheranya.3. Js. Efraim dari Siria (323-378) berkarya di Siria, di provinsi Edessa. Ada banyak kidung yang dianggap berasal dari beliau—kidung untuk perayaan Kelahiran Kristus, untuk menghormati Sang Theotokos, untuk menghormati Gereja Kristus, dan untuk peristiwa-peristiwa lain. Kidung-kidung tersebut masih dinyanyikan oleh orang-orang Siria.4. Js. Kiril dari Aleksandria (+444). Sebagian meyakini bahwa kidung “Ya Theotokos dan Perawan, Bersukacitalah!” ditulis olehnya. Ia juga menyusun dan memperkenalkan ritus Sembahyang Raja pada Jumat Agung.5. Kaisar Justinian (527-565) menurut tradisi suci adalah penulis kidung “Ya Anak Tunggal dan Sabda Allah” yang dilagukan pada saat Liturgi Ilahi.6. Js. Anatolius, patriakh Konstantinopel (+458), menyusun stikhera kebangkitan. Catatan: beberapa sarjana meyakini bahwa stikhera ini, yang ditandai sebagai karya Anatolius, sebenarnya sama sekali bukanlah karyanya, tapi bercorak timur karena digunakan dalam tipika timur. Pada masa patriakh Anatolius, menurut mereka, jenis kidung seperti ini belum ada (Liturgika, Arkhim. Kyprian, hal.72).7. Js. Romanus sang Pengidung (akhir abad V), diyakini menyusun lebih dari 1000 kontakion dan ikosi. Dalam hal kedalaman dan keagungan bahasanya, ia melampaui para penyair Yunani. Puisi-puisi gereja Byzantium mendapatkan kesempurnaannya melalui beliau. Kontakion-kontakion yang ditulisnya bagi perayaan-perayaan dan orang-orang kudus memberikan dasar bagi kidung-kidung baru, yaitu kanon, yang secara bertahap menggantikan kontakion-kontakion Js. Romanus tersebut.8. Js. Sava yang Disucikan (532), pendiri Lavra Palestina yang agung, menyusun ustav (tipikon) liturgikal yang pertama, yang dikenal dengan judul “Yerusalem” dan telah beredar secara luas di Timur.9. Patriakh Sergius dari Konstantinopel, yang diyakini menulis kompilasi akhatis bagi Bunda Allah pada sekitar tahun 626. Namun, sebagian orang meragukan kepengarangannya atas akhatis ini,tapi menurut catatan Arkhim. Kyprian (Kern), hal tersebut lebih dikarenakan keengganan menerima bahwa penulis dari komposisi yang begitu Orthodox tersebut merupakan seorang patriakh yang mempertahankan keyakinan bidat monotelit, ketimbang karena hal-hal ilmiah lain (hal.76).10. Js. Sofronius, patriakh Yerusalem (+638), mengarang satu bagian penting dari Triodion dan ritus Sembahyang Raja pada peringatan Kelahiran Kristus, dan secara meyakinkan menyusun ritus Pemberkatan Air yang dilaksanakan pada malam peringatan Teofani, dan sebagai sebagai akibat dari diperkenalkannya begitu banyak kidung dalam ibadah-ibadah, merevisi dan memperbaiki aturan-aturan dari Js. Sava yang Disucikan.11. Js. Andreas, uskup agung Kreta (+713), menyusun kanon agung pertobatan yang dinyanyikan dan dibacakan pada minggu pertama dan kelima dari masa Catur Dasa. Ia juga menulis kanon-kanon lain, kanon tiga kantikel, dan himne-himne lain. Ia berasal dari biara Js. Sava yang Disucikan12. Js. Yohanes Damaskus (675-749-50), adalah seorang himnografer yang sangat produktif dan terkenal. Ia menyusun kanon-kanon Paskha, Kelahiran, dan lainnya; kidung Delapan Irama, kidung pemakaman, antifon pagi, dan Kalender, serta merevisi dan memperbaiki aturan Js. Sofronius.13. Js. Kosmas, uskup Maiuma (700-760), seorang sahabat dari Js. Yohanes Damaskus dan juga saudara angkat dan teman sekolahnya. Mereka berkarya di biara Js. Sava. Js. Kosmas mengarang banyak kanon untuk perayaan-perayaan, kanon tiga kantikel untuk empat hari dari Minggu Sengsara, dan kidung “Lebih Terhormat dari Kerubim”, dan juga ikut ambil bagian bersama Js. Yohanes Damaskus dalam penyusunan kidung-kidung Delapan Irama. Ia juga menyusun kanon-kanon untuk peringatan Tertidurnya Theotokos, Kelahiran Kristus, Teofani, Penyerahan Kristus ke Bait Allah, Pentakosta, Pengubah-muliaan Kristus, Penghormatan Salib, dan Masuknya Tuhan ke Yerusalem.14. Js. Theodore (759-826) dan saudaranya Yusuf (+825-30), uskup Tesalonika dan biarawan Studite; keduanya adalah pengaku iman dalam hal mempertahankan Ikon-ikon Suci. Mereka mengumpulkan semua kidung masa Catur Dasa yang ada pada waktu itu dan menambahkan kanon-kanon tiga dan empat kantikel, stikhera, dan troparia yang mereka karang sendiri dan mengkompilasinya menjadi sebuah buku yang sekarang kita kenal sebagai Triodion Catur Dasa. Selain itu, Js. Theodore menulis suatu aturan liturgy khusus untuk biaranya, yang kemudian diteruskan kepada gereja-gereja dan biara-biara Rusia dan kemudian menjadi terkenal dan diakui sama seperti Aturan Yerusalem dari Js. Sava yang Disucikan.15. Js. Teofan yang Ditulisi (+843), seorang pengaku iman, Metropolitan dari Nikea. Dia dipanggil “yang Ditulisi” karena kaum ikonoklas mencap wajahnya dengan kata-kata hujatan yang keji karena kegigihannya dalam mempertahankan penghormatan bagi ikon. Ia adalah penulis lebih dari 100 kanon, diantaranya yang terkenal ialah kanon untuk pemakaman, untuk perayaan Tengah-Masa Pentakosta, untuk hari kedua Pentakosta sebagai penghormatan terhadap Roh Kudus, dan untuk Minggu Orthodox, sebagian kanon untuk Sabtu Lazarus, dan berbagai kanon dan stikhera lainnya bagi pengormatan para kudus.16. Js. Yusuf sang Himnografer (810-886), dapat dianggap sebagai salah satu himnografer yang paling produktif. Ia menyusu kanon-kanon untuk ibadah harian dalam Kidung Delapan Irama, dan untuk hari-hari peringatan pra orang kudus lainnya. Ia dipercaya telah menulis 175 kanon, 30 kanon tiga kantikel, dan 6 kanon empat kantikel, total seluruhnya adalah 211 buah kidung. Melalui kerja keras dari Js. Yusuf dan Js. Teofan yang Ditulisi, sejumlah besar kanon akhirnya terkompilasi yang melengkapi Kidung Delapan Irama dari Js. Yohanes Damaskus sebagaimana keadaannya saat ini.17. Js. Yohanes, uskup Eukhaitia (+1100), mengarang banyak kanon, diantaranya kanon termasyhur kepada Yesus Yang Termanis dan kepada Malaikat Pelindung, dan melengkapi Menaion. Semua kidung gereja dan doa-doa ini aslinya ditulis dalam bahasa Yunani, yang pada waktu itu dipergunakan secara universal dan umum dikalangan Kristen Timur di kekaisaran Byzantium. Dasar penerjemahan semua kidung dan doa-doa ini dari Bahasa Yuniani ke Slavonik, yang mana hasil terjemahannya tetap digunakan sampai sekarang di gereja-gereja Rusia , diletakkan oleh Para Pencerah Bangsa Slav, yaitu orang kudus bersaudara, Js. Kiril dan Methodius, Yang Setara Dengan Para Rasul. Setelah Rusia menerima kekristenan pada tahun 988, dan datangnya kedua orang kudus tersebut ke Rusia, mereka mulai mengarang kidung-kidung dan doa-doa di dalam bahasa Slavonik gereja, yang lebih memperkaya ibadah-ibadah yang diterima dari orang-orang Yunani. Di Rusia, ritus-ritus liturgikal juga disusun berdasarkan peringatan hari-hari nasional khusus Rusia, ikon-ikon pelaku mujizat yang bermunculan pada masa-masa yang berbeda di tanah Rusia, dan lain-lain.

(bersambung…)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *