Dogmatika

BUNGA RAMPAI IBADAH GEREJA ORTHODOX (lanjutan 2)

Agama Kristen Perjanjian Baru, berdasarkan keterkaitan sejarahnya yang dekat dengan agama Perjanjian Lama, mempertahankan beberapa bentuk dan banyak isi ibadah Perjanjian Lama. Bait Allah Perjanjian Lama di Yerusalem dimana Kristus Juruselamat dan Para Rasul Kudus-Nya beribadah pada semua perayaan sesuai Perjanjian Lama, pada awalnya juga merupakan tempat suci bagi orang-orang Kristen. Kitab-kitab suci dari Perjanjian Lama juga diterima dalam kerangka ibadah Kristen, dan kidung-kidung suci pertama dari gereja Kristen adalah mazmur-mazmur yang sama yang digunakan secara luas dalam ibadah Perjanjian Lama. Kendatipun himnografi Kristen semakin bertambah kuat, namun mazmur-mazmur ini tetap mempertahankan signifikansinya dalam ibadah Kristen pada masa-masa berikutnya bahkan hingga hari ini. Waktu-waktu sembahyang dan perayaan-perayaan Perjanjian Lama juga tetap disakralkan bagi orang-orang Kristen Perjanjian Baru. Akan tetapi, semua yang diterima orang Kristen dari Perjanjian Lama diberikan suatu makna yang baru dan signifikansi yang khusus yang sejalan dengan semangat pengajaran Kristen yang baru tetapi tetap berdasarkan kata-kata Kristus Juruselamat bahwa Ia datang “bukan untuk meniadakan humum Taurat tetapi untuk menggenapinya” yaitu “membuatnya penuh”, memenuhi segala sesuatu dengan suatu pemahaman yang baru, yang lebih dalam, dan lebih mulia (Mat 5:17-19). Pada saat yang sama ketika mereka masih menghadiri ibadah di Bait Allah di Yerusalem, para Rasul sendiri, dan juga orang-orang Kristen perdana, sudah mulai berkumpul di rumah-rumah untuk “memecah roti”, yang adalah murni ibadah Kristen, yang mana pusatnya ialah Ekaristi. Namun demikian, situasi sejarah memaksa orang-orang Kristen perdana untuk sepenuhnya memisahkan diri dari ibadah bait Allah Perjanjian Lama dan juga sinagoga-sinagoga. Pada tahun 70 M bait Allah dihancurkan oleh Bangsa Romawi sehingga setelah itu ibadah perjanjian Lama dan persembahan korbannya terhenti seluruhnya. Sinagoga-sinagoga sendiri, bagi orang Yahudi bukanlah tempat untuk ibadah, menurut pengertian sebenarnya (ibadah hanya bisa dilakukan di satu tempat, yaitu bait Allah di Yerusalem), tapi hanya merupakan tempat berkumpul untuk melakukan doa dan pengajaran, seketika berubah sedemikian rupa menjadi tidak ramah terhadap orang-orang Kristen, sehingga bahkan orang-orang Kristen keturunan Yahudi berhenti datang ke situ. Alasan untuk hal ini sangatlah jelas: kekristenan sebagai sebuah agama yang baru, sempurna, sepenuhnya rohani, dan juga universal dalam hal pengertian masa dan kewarganegaraan, telah secara alami mengembangkan bentuk-bentuk ibadah baru yang sejalan dengan semangatnya:ia tak terbatas hanya dengan kitab-kitab suci dan mazmur-mazmur Perjanjian Lama saja.Dasar ibadah umat Kristen diletakkan oleh Yesus Kristus sendiri, sebagian melalui teladan-Nya, sebagian lagi melalui perintah-perintah-Nya. Dalam melaksanaan pellayanan ilahi-Nya di atas bumi, Ia mendirikan Gereja Perjanjian Baru (Mat 16:18-19; 18:17-20; 28:20), dan memilih untuk gereja itu Para Rasul, dan melalui mereka, para penerus bagi pelayanan tersebut, yaitu para gembala dan pengajar (Yoh 15:16;20:21; Ef 4:11-14; 1 Kor 4:1). Dalam mengajarkan pada umat beriman tentang ibadah kepada Allah dalam roh dan kebenaran, Ia secara layak telah menjadikan diri-Nya contoh melebihi segala sesuatu. Ia berjanji untuk bersama-sama dengan orang percaya dimana “ada dua atau tiga orang berkumpul di dalam nama-Nya” (Mat 18:20), dan “untuk senantiasa menyertai mereka sampai akhir zaman” (Mat 28:20). Ia sendiri berdoa, pada waktu-waktu sepanjang malam (Luk 6:12; Mat 14:23), berdoa dengan tanda-tanda lahiriah yang Nampak, seperti menengadah ke langit (Yoh 17:1), berlutut (Luk 22:41-45), dan menundukkan kepala-Nya (Mat 26:39). Ia juga mendorong orang lain untuk berdoa, menunjukkan bahwa doa adalah sarana rahmat (Mat 21:22; Luk 22:40; Yoh 14:13;15:7), membagi doa menjadi doa umat (Mat 18:19-20) dan doa pribadi (Mat 6:6), mengajarkan doa kepada pada murid-Nya (Mat 6:9-10) dan memperingatkan para muridnya mengenai penyalahgunaan doa dan penghormatan kepada Allah (Yoh 4:23-24; 2 Kor 3:17; Mat 4:10). Selanjutnya, Ia juga menyatakan pengajaran-Nya yang baru tentang Injil dengan sabda yang hidup dan melalui khotbah, memerintahkan para murid-Nya untuk mengabarkan injil yang sama “kepada semua bangsa” (Mat 28:19; Mark 16:15), memberkati mereka (Luk 24:51; Mark 8:7), meletakkan tangan-Nya atas mereka (Mat 19:13-15), dan akhirnya, menegakkan kesucian dan martabat Bait Allah (Mat 21:13; Mark 11:15). Demi memberikan rahmat ilahi bagi mereka yang percaya kepada-Nya, Ia menetapkan sakramen-sakramen, memerintahkan agar mereka yang masuk dalam Gereja-Nya dibaptiskan (Mat 28:19); di dalam kuasa yang diberikan kepada mereka (para Rasul), ia mempercayakan pada mereka kuasa untuk mengikat dan melepaskan dosa manusia (Yoh 20:22-23);mengenai sakramen-sakramen, Ia secara khusus memerintahkan agar sakramen Ekaristi dilaksanakan sebagai peringatan akan Dia , sebagai suatu gambaran pengorbanan Salib di atas Golgota (Luk 22:19). Para Rasul, setelah mempelajari ibadah Perjanjian Baru langsung dari Guru Ilahi mereka, kendatipun tugas utama mereka adalah memberitakan sabda Allah (1 Kor 1:27), merincikan dengan jelas tatacara ibadah lahiriah. Demikianlah kita temukan penyebutan dari beberapa aspek ibadah lahiriah di dalam tulisan-tulisan mereka (1 Kor 11:23; 14:40), tetapi bagian yang lebih besar tetaplah berada dalam penerapan di Gereja. Penerus-penerus Para Rasul yakni para gembala dan pengajar Gereja, memelihara ketetapan-ketetapan rasuliah mengenai ibadah; dan dalam masa damai setelah penganiayaan yang hebat, berdasarkan ketetapan-ketetapan tersebut menetapkan secara tertulis sampai ke detail-detail terkecil, keseluruhan tatacara ibadah permanen yang telah dijaga oleh Gereja sampai saat ini.Sejalan dengan ketetapan sidang rasuliah di Yerusalem (Kisah Para Rasul pasal 15), hukum ritual Musa telah dicabut dalam Perjanjian Baru. Korban berdarah tidak dapat dilakukan lagi karena Korban Agung telah dipersembahkan untuk menebus dosa seluruh dunia. Tidak ada lagi suatu suku Lewi yang dikhususkan bagi keimamatan, sebab di dalam Perjanjian Baru semua orang yang telah ditebus dengan Darah Kristus telah menjadi setara satu dengan yang lainnya; siapapun memiliki akses terhadap keimamatan. Tidak ada lagi suatu bangsa yang secara khusus dipilih oleh Allah, sebab semua bangsa telah dipanggil kepada Kerajaan Sang Mesias, yang dinyatakan melalui penderitaan Kristus. Tempat untuk beribadah kepada Allah bukanlah di Yerusalem saja, melainkan di setiap tempat. Waktu ibadah menjadi terus menerus dan tidak berhenti. Pada pusat ibadah Kristen ada Kristus Sang Penebus, dan keseluruhan hidupnya di dunia, yang diberikan bagi keselamatan manusia. Demikianlah, segala sesuatu yang diadopsi dari ibadah Perjanjian Lama diliputi dengan suatu roh yang baru, suatu roh yang benar-benar Kristen. Semuanya itu ialah doa-doa, kidung-kidung, bacaan-bacaan, dan upacara-upacara ibadah Kristen. Tujuan utamanya ialah keselamatan dalam Kristus. Maka titik pusat dari ibadah Kristen menjadi Ekaristi—suatu korban pujian dan pengucapan syukur untuk pengorbanan Kristus di kayu salib.(bersambung…)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *