Dogmatika

BUNGA RAMPAI IBADAH GEREJA ORTHODOX (Lanjutan 16)

Busana-busana suci menyimbolkan keadaan Kristus Jususelamat yang terhina, akan tetapi Gereja Kudus menghiasinya dengan perak, emas, dan batu-batu berharga. Dengan ini gereja menunjukkan bahawa tidak ada sesuatupun yang lebih berharga atau lebih mulia daripada penderitaan Tuhan kita. Demikian juga salib, dimana Tuhan kita menahankan segala derita dan siksaan yang terhebat, ditempatkan oleh Gereja di semua busana gerejawi sebagai suatu tanda kemenangan Tuhan atas dosa, kematian, dan alam maut, dan melaluinya menandakan bahwa Gereja tidak bermegah di atas hal-hal lainnya kecuali di atas salib Tuhan Yesus (Galatia 6:14).

Busana-busana gerejawi memiliki berbagai warna. Sudah menjadi kebiasaan bahwa pada hari-hari perayaan, warna-warna cerah digunakan, sedangkan pada hari-hari puasa, warna gelap. Sekarang sudah menjadi kebiasaan untuk memakai warna emas pada setiap hari Minggu, pada hari-hari peringatan Para Rasul Kudus dan para martir warna merah, pada hari-hari perayaan untuk menghormati Sang Theotokos warna biru, pada hari-hari peringatan para nabi warna hijau, dan pada minggu-minggu Puasa Agung dan Pekan Kudus, kecuali Jumat Agung dan Sabtu Kudus warna hitam. Sejak Paskah hingga Pentakosta, sejak Natal hingga Teofani, dan pada Transfigurasi busana putih digunakan.Pada Sabtu Kudus, segera sesudah pembacaan Epistel, pada saat dikidungkannya “Bangkitlah ya Allah”, Ustav menetapkan bahwa busana hitam diganti dengan yang berwarna terang. Pada Matin Paskah sudah menjadi kebiasaan bahwa busana gerejawi diganti pada setiap prosesi keluar untuk mendupai seluruh gereja, dengan demikian menyimbolkan kegembiraan Gereja. Sakramen baptisan juga diperintahkan untuk dilaksanakan dengan jubah putih, demikian juga dengan pemakaman, kecuali pada masa Pentakosta, dilaksanakan dengan jubah hitam.Seperti halnya para biarawan/biarawati memakai penutup kepala khusus seperti klobuk hitam, kamilavka, dan skufia, para imam yang menikah juga diberikan semacam penghargaan berupa skufia ungu, yang diikuti dengan kamilavka ungu. Nama skufia berasal dari kata “skifos” berarti “cawan” karena bentuknya seperti cawan. “Kamilavka”berasal dari nama bahan yang dipakai untuk membuatnya dulu di Timur, yaitu dari bulu leher unta, “kamilos” –“unta”, dan “avkhin”—“leher”.(Bersambung…)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *