Dogmatika

BUNGA RAMPAI IBADAH GEREJA ORTHODOX (Lanjutan 15)

Para Episkop, sebagai tambahan bagi busana imamatnya —epitrachelion, sticharion (atau podriznik), zone, dan gelang-gelang— pada masa kini memakai sakkos sebagai ganti phelonion. Sakkos adalah sebuah busana khusus yang menyimbolkan derajat hierarki—,omophorion, dan kemudian miter, salib, dan nanedrennik atau panagia.

“Sakkos” adalah sebuah kata Ibrani yang berarti kain kabung, mengandung arti kerendahan hati dan pertobatan (Yeremia 48:37). Ini adalah busana hirarkal bagian luar, berbentuk sama dengan stikharion tapi lebih pendek, berukuran agak lebar, dan dihiasi dengan lonceng-lonceng. Sakkos memiliki makna yang sama dengan phelonion, yang untuk alasan yang sama juga ketika dikenakan dibacakan doa dari Mazmur 132:9. Pada zaman dahulu, hanya beberapa episkop saja yang mengenakan sakkos, sedangkan yang lain mengenakan phelonion. Lonceng-lonceng pada sakkos menyimbolkan suara kabar baik tentang Firman Allah yang keluar dari bibir episkop.

Omophorion (dari kata omos—“bahu”—dan phero—“aku membawa”) adalah sebuah busana yang dikenakan oleh episkop di bahunya, atau badannya (dalam bahasa Rusia “Rama”), demikianlah sebutannya dalam bahasa Slavonik ialah “naramnik”. Bentuknya mengingatkan kita pada orarion yang dipakai oleh diakon, dan epitrakhelion yang dipakai oleh presbiter, hanya lebih lebar dan lebih panjang, yang dikenakan di atas sakkos dengan ujung yang satu menggantung di depan dada dan satunya lagi di belakang sang episkop. Omophorion awalnya terbuat dari wol dan menyimbolkan domba yang hilang, yaitu generasi manusia. Episkop yang mengenakan omophorion melambangkan Gembala yang Baik, Kristus Sang Juruselamat, memanggul domba yang hilang di pundak-Nya. Untuk alasan inilah, ketika memakai omophorion, kata-kata berikut ini dibacakan:

“Setelah mengambil kodrat kami yang telah tersesat di atas pundak-Mu ya Kristus, Dikau telah naik, dan membawanya kepada Allah dan Bapa”.

Karena signifikansinya, selama pelaksanaan liturgi, omophorion dilepaskan dan di pasang kembali beberapa kali. Pada saat-saat ketika Episkop sendiri menyimbolkan Kristus, ia mengenakan omophorion; ketika Injil Suci dibacakan dan arak-arakan besar berlangsung, atau ketika pengubahan Kurban Suci dilaksanakan, omophorion dilepaskan dari Episkop, sebab di dalam Kitab Injil dan di dalam Kurban Suci Kristus sendiri hadir bagi mereka yang berdoa.

Biasanya, setelah pelepasan pertama omophorion dari Episkop, suatu omophorion lain yang lebih kecil ukurannya dipakaikan kepadanya, yang disebut —sebagaimana kebalikan dari yang pertama, “omophorion besar”— omophorion kecil. Kedua ujung omophrion kecil menggantung di depan dada episkop, dan lebih pendek. Omophorion kecil inilah sebenarnya yang harus diakui sebagai bentuk kuno dari omophorion hierarkal.

“Miter” bersal dari kata Yunani mitros —“aku mengikat”, yang secara khusus berarti “ikat kepala”, “diadem”, atau “mahkota”. Di dalam buku-buku liturgi, miter disebut sebagai “topi” (shapka). Ia adalah sebuah perhiasan kerajaan, dan diberikan kepada Episkop sebab dalam pelayanannya ia mewakili Kristus Sang Raja. Miter juga melambangkan kekuasaan hierarkal. Ia juga berfungsi mengingatkan Episkop akan makhota duri yang diletakkan oleh para prajurit di atas kepala Kristus, sebagaimana juga kain peluh yang olehnya kepala Sang Juruselamat dibungkus di pemakaman-Nya. Ketika mengenakan miter, kata-kata berikut ini diucapkan:

“Tuhan telah meletakkan di atas kepalamu sebuah mahkota dengan batu-batu permata; engkau telah meminta kehidupan, dan Ia akan memberikanmu umur yang panjang”

Di gereja Rusia, miter juga diberikan kepada para arkhimandrit dan protopresbiter. Pada saat-saat tertentu dalam Liturgi Suci, miter dilepaskan. Episkop melepaskan miter pada saat Arak-arakan besar, sebelum Pengakuan Iman, sepanjang waktu selama udara digerak-gerakkan di atas Kurban Suci, mulai dari kata-kata “ambillah, makanlah” sampai dengan transformasi Kurban Suci, selama komuni, dan ketika ia sendiri membacakan Injil Suci (tapi tidak ketika ia sendiri mendengarkan bacaan). Para arkhimandrit dan protopresbiter melepaskan miter selama tipikon mengharuskan berdiri tanpa tutup kepala —yaitu pada waktu-waktu yang sama dengan Episkop–, dan juga “saat mendengarkan Injil Suci”, pada saat dinyanyikannya “Sungguhlah Patut dan Benar” dan “Bapa Kami” serta pada saat munculnya Kurban Suci pada akhir Liturgi Suci.

Salib. Pada saat baptisan, sebuah salib diberikan kepada setiap orang Kristen, tetapi dikenakan di bawah pakaian. Episkop, sebaliknya mengenakan salib di luar pakaian dan busana gerejawinya. Salib hierarkal biasanya terbuat dari emas dan dihiasi batu-batu berharga. Ketika mengenakan salib, kata-kata dari Injil diucapkan:

“Kemudian kata Yesus kepada murid-murid-Nya, barangsiapa yang igin mengikut Aku, haruslah ia menyangkal dirinya, memikul salibnya, dan mengikut Aku”

Salib yang sama juga diberikan kepada para arkhimandrit. Biasanya salib tersebut memiliki mahkota di atasnya dan dokoh/ liontin di bawahnya. Suatu salib yang sama, meskipun tanpa makhota dan dokoh, diberikan sebagai penghargaan yang sangat tinggi kepada sebagian abbas dan protopresbiter. Di Gereja Rusia juga ada sebuah salib emas tanpa hiasan-hiasan, yang telah diberikan dari waktu ke waktu sejak zaman kaisar Paulus II kepada semua protopresbiter dan kepada sebagian presbiter sebagai penghargaan. Di Gereja Rusia, sejak zaman Kaisar Nikolas II, semua presbiter yang baru ditahbiskan diberikan sebuah salib perak bersudut delapan. Di Timur, salib-salib semacam ini tidak dikenal. Yang ada hanya salib yang penuh dengan hiasan sebagai pembeda bagi Episkop, Arkhimandrit, dan beberapa Protopresbiter, yang dengan demikian disebut sebegai “stavrophorni” atau “penyandang salib”.

Nannedrenik atau Panagia (dari kata pan “seluruhnya” dan agia “suci”). Panagia juga dikenal dengan nama encolpion. Ini adalah sebuah ikon bulat kecil yang menggambarkan Sang Juru Selamat atau Bunda Allah, yang dikenakan di dada (dalam bahasa Slavonik,”nedra”), oleh para Episkop dan oleh sebagian Arkhimandrit. Panagia sebelumnya dibuat dalam bentuk yang bisa terlipat, di mana satu sisi terdapat ikon Bunda Allah dan di sisi lainnya salah satu ikon Sang Juru Selamat atau Tritunggal Mahakudus —sama seperti panagia refektori—, yang juga disebut sebagai “panagiriom” diatur, di mana ada bagian dari prosfora untuk menghormati Bunda Allah ditempatkan, yang juga disebut “panagia”. Di biara-biara sampai dengan hari ini ritus pengangkatan panagia dilaksanakan untuk mengingat penampakan dari Bunda Allah kepada para Rasul setelah pengangkatannya ke sorga. Terkadang relikui para janasuci juga ditempatkan di dalam panagia. Sebagian Episkop seperti para Patriarkh, dan semua kepala gereja otokefali, yaitu gereja-gereja independen mengenakan dua panagia. Di Rusia misalnya, Metropolitan Kiev mengenakan dua panagia sebagai pengingat bahwa mereka dulu mengepalai Gereja Rusia.

Selain daripada busana gerejawi yang disebutkan di atas, pada saat pelayanan hierarkal, mantia, tongkat, dan orletsi juga digunakan.

Mantia (mandion), atau pallium (sebuah busana luar) adalah sebuah busana monastic yang menutupi seluruh badan kecuali kepala. Dalam bentuknya yang menggelembung, busana ini menggambarkan kebersayapan para malaikat, sehingga ia disebut busana malaikat. Dengan menyelubungi seluruh tubuh, mantia menyimbolkan kuasa Allah yang melingkupi segalanya, sebagaimana juga kesederhanaan, kesalehan, dan kerendahan hati dari kehidupan monastic dan juga fakta bahwa baik tangan maupun anggota tubuh lainnya dari seorang rahib tidak boleh melalukan perbuatan-perbuatan duniawi yang penuh dosa, semuanya telah mati.

Pada pelaksanaan liturgi suci pun, para monastik haruslah mengenakan mantia (Kitab Kemudi/ Pedalion, bagian 2 aturan 18 dari Js. Nikeforus). Biasanya mantia monastik berwarna hitam dan tidak mempunyai ornamen apapun. Mantia hierarkal lebih khusus karena warnanya yang keunguan, dan padanya dijahit apa yang disebut sebagai tablet, atau pomati, dan spring, dan dikencangkan di bagian bawah sebelah depan dengan dua kancing. Tablet dan dua pengancing juga terdapat pada mantia hitam dari seorang arkhimandrit. Tablet adalah kain bersudut empat, biasanya berwarna merah tua (bagi para arkhimandrit berwarna hijau), yang dijahit pada tepi atas dan bawah dari mantia sebagai pasangan. Tablet ini melambangkan Perjanjian Lama dan Baru, darimana sang rohaniwan mengambil ajarannya.

Di atas tablet terkadang dijahitkan salib atau ikon yang dibordir dengan benang berwarna emas atau warna cerah lainnya. Selain tablet, pada mantia episkop juga terdapat spring. Ini adalah pita-pita dengan berbagai warna, umunya putih dan merah, yang dijahit di sepanjang mantia, melambangkan aliran-aliran pengajaran yang mengalir dari bibir seorang episkop. Pada mantia seorang episkop juga ada lonceng-lonceng kecil sebagaimana yang juga terdapat pada jubah luar imam besar Yahudi. Berdasarkan tradisi, pada beberapa Gereja Lokal, sebagian episkop seperti Patriarkh dan Metropolitan, memakai mantia berwarna biru atau hijau. Semua monastic, termasuk episkop, melayani dengan memakai mantia sepanjang waktu ketika Ustav/ Typikon tidak mengatur tentang berbusana gerejawi lengkap.

Krosier atau tongkat, adalah suatu tanda kuasa penggembalaan atas kawanan dan kepedulian seorang bapa terhadap mereka. Oleh karena itu, tongkat ini disebut “paterissa”, dari kata “patir” atau “bapa”. Tongkat ini diberikan kepada episkop sebegai tanda bahwa ia harus menggembalakan Gereja Kristus. Di biara-biara, tongkat semacam ini juga diberikan kepada arkhimandrit dan abbas sebagai tanda kuasa rohani mereka atas biara di mana mereka telah diangkat menjadi kepalanya. Tongkat ini dibuat dengan sebuah salib yang agak lengkung pada bagian atasnya. Terkadang kepala ular juga digambarkan sebegai pengganti salib, yang menandakan kebijaksanaan kuasa penggembalaan (“Hendaklah kamu cerdik seperti ular”-Mat 10:16). Ujung atas tongkat ini dimahkotai dengan salib. Pada tongkat seorang episkop, atau kadang-kadang juga tongkat arkhimandrit, di pegangannya tergantung sulok, sebuah kain kecil bersulam emas, yang dengannya bagian atas tongkat dibungkus sebagai hiasan. Episkop masuk dan keluar dengan tongkat di tangannya, sementara pada semua waktu yang lain tongkat tersebut dipegang oleh seorang pembaca yang disebut “penyandang tongkat” atau “pembawa krosier”. Ia tidak berhak, pada saat memegang tongkat tersebut, untuk bertumpu di atasnya, tetapi harus memegangnya dengan agak diangkat dengan kedua tangan. Selama arak-arakan kecil dan besar pada saat liturgi, tongkat ini dibawa di depan barisan. Pada semua waktu lain, pembaca memegang tongkat ini, dan biasanya berdiri di samping ikon Kristus di solea.

Orletsi (dari kata Rusia “oryel” berarti “elang”), adalah sebuah permadani kecil dengan gambar elang yang terbang di atas sebuah kota. Seseorang yang telah dipilih sebagai episkop akan diarahkan ke atas sebuah orlets selama konsekrasinya, dan kemudian akan menggunakan orletsi setiap liturgi suci. Di atas orletsi digambarkan sebuah kota, sebagai suatu tanda atas keepiskopan di kota tersebut, sebagaimana juga seekor elang, menandakan kemurnian pengajaran yang benar, suatu perupaan dari elang yang digambarkan dengan Rasul dan Penginjil Yohanes Sang Teolog. Untuk mendukung gagasan ini, elang tersebut memiliki lingkaran cahaya di kepalanya yang mengungkapkan cahaya pengetahuan teologi dan kasih karunia. Pada setiap liturgi orletsi diletakkan di bawah kaki episkop, dan mengingatkannya bahwa di dalam semua pemikiran dan tindakannya ia haruslah berada di atas semua yang duniawi dan berjuang menuju langit seperti elang.


(Bersambung…)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *