Dogmatika

BUNGA RAMPAI IBADAH GEREJA ORTHODOX (Lanjutan 14)

Jika untuk hal duniawi, pada acara-acara yang penting dan khidmat, manusia berpakaian tidak seperti biasanya, tetapi yang lebih baik daripada yang biasanya (Mat. 22:12-12), maka sudah sewajarnyalah dalam pelayanan kepada Tuhan Allah, para klerus dan pelayan gereja harus mengenakan bagi diri mereka sendiri suatu busana khusus, yang tujuannya adalah untuk mengalihkan pikiran dan hati mereka dari hal-hal yang duniawi dan mengangkatnya ke hadapan Allah. Busana liturgi khusus untuk para klerus telah diperkenalkan sejak zaman Perjanjian Lama. Sangat dilarang untuk memasuki tabernakel atau Bait Allah di Yerusalem untuk melayani tanpa jubah khusus yang setelah melayani harus dilepaskan saat akan meninggalkan Bait Allah, dan pakaian yang biasa dikenakan lagi (Yehezkiel 44:19). Pada masa kini, para klerus dan pelayan gereja juga mengenakan busana suci khusus ketika melaksanakan pelayan-pelayanan gerejawi berdasarkan ketiga jenjang hirarki gereja, yaitu busana diakon, presbiter, dan episkop. Pelayan gereja mengenakan sebagian busana diakonal.

Menurut pengajaran Gereja, setiap jenjang hirarki Gereja yang lebih tinggi, memiliki pada dirinya sendiri rahmat, dan hak serta keistimewaan, yang juga terdapat pada jenjang yang lebih rendah. Pemikiran ini nampak dengan jelas dalam hal bahwa jubah liturgi yang secara khusus merupakan milik jenjang yang lebih rendah, juga dimiliki jenjang yang lebih tinggi. Demikianlah, tata urutan pemakaian busana liturgi adalah sebagai berikut: pertama, jubah dari jenjang yang lebih rendah dikenakan, kemudian jenjang yang lebih tinggi, demikian seterusnya. Maka episkop terlebih dulu mengenakan busana diakon, kemudian melapisinya dengan jubah presbiter, dan akhirnya mengenakan busananya sendiri sebagai episkop; demikian juga presbiter lebih dulu memakai busana diakon, kemudian barulah busana presbiter.

Marilah kita mulai lihat busana liturgi dari seorang pembaca atau pengidung. Busananya adalah sebuah phelonian pendek, yang pada masa kini hanya dipakai oleh pembaca hanya pada saat tonsurnya. Penampakannya mirip dengan phelonian presbiter, tapi agak pendek sehingga hanya menutupi bahu. Busana ini dikenakan di leher seseorang yang akan di tonsur sebagai tanda bahwa sekarang mengenakan kuk keimamatan dan ia dikuduskan untuk melayani Allah.

Sekarang seorang pembaca melaksanakan tugasnya dalam suatu jubah lain yang disebut “stikharion”.Stikharion adalah suatu jubah panjang lurus dengan lengan baju yang lebar. Karena presbiter dan episkop memakai stikharion di bawah jubah lain, maka bentuknya mengalami perubahan, dan disebut “podriznik “ (jubah dalam). Stikharion biasanya terbuat dari bahan yang berwarna putih atau cerah untuk mengingatkan klerus yang memakainya akan kemurnian hidup yang dituntut darinya melalui pelayanannya. Stikharion juga melambangkan “pakaian keselamatan dan jubah kegembiraan” yaitu hati nurani yang penuh kedamaian dan sukacita rohani di dalam Tuhan yang keluar daripadanya. Itulah sebabnya pada saat memakai stikharion ketika liturgi dibacakan kata-kata ini:”Jiwaku bersukacita di dalam Tuhan sebab Ia telah memakaikanku pakaian keselamatan dan dengan jubah kegembiraan Ia telah menyelubungiku; Ia telah memahkotai aku seperti seorang pengantin laki-laki dan Ia telah menghiasku selayaknya pengantin perempuan yang dengan keelokan”.

Pakaian subdiakon dan diakon, sebagaimana juga yang telah disebutkan, juga termasuk orarion atau orar. Ini adalah sejenis pita panjang yang lebar yang diselempangkan oleh subdiakon dalam bentuk salib/silang, sedangkan diakon mengenakannya pada bahu kiri. Penggunaan orarion menandakan kerendahan hati, kesucian tubuh, dan kemurnian hati, seorang subdiakon. Untuk alasan inilah para subdiakon, ketika sudah dilantik dengan orarion, tidak bisa memasuki ikatan pernikahan (Kanon Apostolik XXVI dan Kanon VI dari Konsili Ekumenis Keenam).Pada saat penahbisan seorang subdiakon ke jenjang diakon, orarion dilepaskan, dan episkop meletakkannya ke atas bahu kiri dari diakon yang baru ditahbiskan. Hanya pada saat liturgi, setelah “Bapa Kami” barulah diakon menyelempangi dirinya sendiri dengan bentuk salib dengan orarion itu, dan mempersiapkan dirinya untuk menerima komuni dengan Tubuh dan Darah Tuhan. Diakon biasanya memakai orarion pada bahu sebelah kiri, dan pada saat pengucapan litani-litani dan seruan-seruan diakonal yang lain, mengangkat ujung orarion, memegangnya dengan tiga jari tangan kanannya, menandakan saatnya untuk ritual ini atau itu kepada para penyanyi atau kepada presbiter sendiri. Pada masa kuno, diakon mengelap bibir dari umat yang menerima komuni dengan orarion.

Kata “orarion” berasal dari kata Latin “oro” artinya “aku minta” atau “aku berdoa”, atau dari kata Yunani “ora” artinya “waktu”, atau dari kata Latin “os” artinya “bibir”. Orarion menyimbolkan sayap-sayap malaikat, sebab pelayanan para diakon melambangkan pelayanan para malaikat di hadapan tahta Allah. Demikianlah, pada orarion terkadang disulamkan kata-kata pujian malaikat “Kudus, Kudus, Kudus”. Pada saat memakai orarion, tidak ada doa yang dibaca oleh diakon.

Gelang-gelang atau Epimanikia juga berkaitan dengan jubah diakon. Gelang-gelang ini digunakan untuk menyatukan ujung-ujung dari lengan jubah dalam, sekaligus juga untuk menguatkan tangan, membuatnya lebih mampu dalam melaksanakan tugas suci. Epimanikia ini mengingatkan seorang klerus bahwa ia haruslah meletakkan pengharapannya bukan pada kekuatannya sendiri, melainkan pada tangan kanan Allah, kekuatan-Nya dan pertolongan-Nya. Untuk alasan inilah pada saat memakai epimanikion di tangan kanannya, imam membaca doa berikut ini:”Tangan kanan-Mu ya Tuhan, dimuliakan dalam kekuatan; tangan kanan-Mu ya Tuhan, telah menghancurkan musuh, dan di tengah kemuliaan-Mu telah Engkau menjatuhkan lawan-lawan”. Ketika memakai epimanikion di tangan kiri, doa ini dibacakan:”Tangan-Mu telah membuat aku dan membentukku; berikanlah aku pengertian dan aku akan belajar perintah-perintah-Mu”. Gelang-gelang ini mengingatkan juga bagaimana tangan Tuhan kita yang begitu murni dibelenggu.

Berikut ini adalah yang berhubungan dengan jubah seorang presbiter.

Epitrakhelion adalah sebuah busana yang melingkari leher mulai dari belakang dan memanjang ke depan kebawah melewati dada. Epitrakhelion ini bukan lain adalah orarion diakon, yang melingkari leher sehingga kedua ujungnya menjuntai di depan. Pada masa kuno, pada saat penahbisan seorang diakon ke jenjang presbiter, alih-alih memakaiakan epitrakhelion, episkop hanya akan sekedar memindahkan ujung belakang orarion ke bahu sebelah kanan, sehingga kedua ujungnya menggantung di depan. Ini dibuktikan dengan bentuk epitrakhelion yang penampakannya seperti orarion yang dilipat dua. Epitrakhelion melambangkan rahmat imamat yang besar, yang dicurahkan kepada imam. Ketika memakai epitrakhelion, doa yang dibacakan ialah: “Terberkatilah Allah yang mencurahkan rahmat-Nya keatas imam-Nya, seperti minyak mur di atas kepala, yang melelah ke janggut, yang meleleh ke janggut Harun dan ke leher jubahnya” (Maz 133:2). Tanpa epitrakhelionnya, seorang presbiter, sebegaimana seorang diakon tanpa orarion tidak dapat melaksanakan tugasnya; ia melaksanakan tugas-tugasnya dengan memakai epitrakhelion.

Zone (atau ikat pinggang) adalah sejenis pita yang dengannya seorang presbiter mengikat pinggangnya di atas podriznik dan epitrakhelion agar lebih nyaman dalam melaksanakan tugasnya. Zone mengingatkan akan Tuhan Yesus Kristus yang mengikat pinggang-Nya sebelum Perjamuan Mistika, dan melambangkan kekuatan Allah yang menguatkan presbiter dan episkop dalam pelayanan mulia mereka kepada Allah dan juga kesiapan mereka untuk melaksanakan tugas. Ketika memakai zone, kata-kata berikut ini diucapkan: “Terberkatilah Allah yang mengikat pinggangku dengan kekuatan, dan yang telah membuat jalanku tidak bercela, yang membuat kakiku seperti kaki rusa jantan, dan menempatkanku di tempat yang tinggi”.

Nabedrenik dan palitsa adalah busana yang diterima seorang presbiter sebagai penghargaan, nabedrenik ialah penghargaan presbiter pertama, sedangkan palitsa sudah merupakan bagian dari busana episkop, walaupun juga bisa diberikan kepada arkhimandrit dan igumen, dan sebagai penghargaan bisa juga diberikan pada para presbiter pertama. Nabedrenik ialah sebuah kain panjang bersudut empat yang digantung pada paha seorang klerus dari dua sudutnya dengan pita panjang yang diselempangkan melewati bahu. Palitsa adalah sebuah kain bersudut empat yang dibuat baik dalam bentuk bujursangkar atau wajik, yang digantung pada satu sudutnya di paha sebelah kanan. Di dalam buku-buku liturgi, palitsa biasanya disebut “epigonation”, yang secara hurufiah berarti “diatas lutut”. Baik nabedrenik maupun palitsa menyimbolkan pedang roh, senjata rohani yaitu Firman Allah, yang olehnya sang gembala dipersenjatai untuk melawan musuh keselamatan dan umat manusia. Nabedrenik adalah sebuah penghargaan yang diperkenalkan oleh Gereja Rusia, di Timur secara umum, hanya palitsa yang dikenal. Ketika mengenakan palitsa, doa berikut inilah yang dibacakan: “Ikatlah pedangmu pada pinggang hai pahlawan, dalam keagungan dan semarakmu, dan tariklah busurmu, dan majulah dengan jaya, dan jadilah raja, oleh sebab kebenaran dan kerendahan hati dan kebenaran, dan tangan kanan-Mu akan menuntunMu dengan ajaib, sekarang dan selalu serta sepanjang segala abad. Amin (Maz 44:4-5).

”Palitsa” adalah bentuk yang berubah dari kata “politsa” yang berasal dari kata “pola”—tepi atau ekor kecil, suatu sambungan pakaian. Nabedrenik dipakai di paha sebelah kanan, maka jika palitsa dihadiahkan kepada seseorang, nabedrenik akan digantungkan pada paha kiri sedangkan palitsa pada paha kanan. Pada masa kini palitsa merupakan bagian yang sangat penting dari busana gerejawi, bukan hanya bagi episkop, tapi juga bagi para arkhimandrit, dan kadang-kadang juga para abbas. Palitsa diberikan kepada protopresbiter sebagai penghargaan yang tinggi.

“Phelonion” adalah sebuah kata bahasa Kreta yang berarti jubah yang membungkus semua. Ini adalah sebuah busana yang panjang dan lebar yang menutupi seluruh tubuh, tidak memiliki lengan, dan memiliki sebuah lubang yang diperuntukkan untuk kepala. Phelonion dikenakan di atas busana-busana lain dan menutupi mereka. Karena dihiasi dengan banyak salib, maka phelonion juga disebut “polystavrion” (dari kata Yunani “polys” yang berarti “banyak” dan “stavros” berarti “salib”) atau “jubah yang tertutup salib”. Jenis kuno dari phelonion, yang sampai hari ini masih dilestarikan di Yunani, diubah sedemikian rupa di Rusia: pada sisi sebelah depan, sebagian kain dipotong, itulah mengapa mustahil memenuhi ketentuan Ustav yang menyatakan bahwa pada waktu tertentu imam harus membiarkan phelonion menjuntai. Demikian halnya, imam haruslah memegang Kitab Injil Suci tidak hanya dengan tangannya, tapi juga dengan phelonionnya. Pehlonion menyimbolkan jubah yang dipakaian kepada Tuhan kita oleh para prajurit yang mengolok-olokNya, dan mengingatkan sang imam bahwa dalam pelayanannya ia mewakili Tuhan, yang mempersembahkan diri-Nya sebagai kurban demi membenarkan manusia, dan bahwa ia harus membungkus dirinya dengan kebenaran di dalam segala lakunya dan bersukacita di dalam Tuhan. Kata-kata Mazmur yang dibacakan oleh imam ketika mengenakan phelonion berbicara seperti demikian “Imam-imam-Mu ya Tuhan, akan berpakaian kebenaran, dan orang-orang kudus-Mu akan bersukacita “(Maz 132:9).Para imam mengenakan phelonion pada upacara-upacara yang lebih khidmat. Selanjutnya, menurut Typikon, selama kebaktian imam berganti pakaian beberapa kali, yang sulit di lakukan di gereja-gereja parokia sebab ada bagian-bagian kebaktian yang dipersingkat. Berdasarkan Ustav phelonion hanya dipakai pada saat-saat yang lebih khidmat selama ibadah misalnya saat arak-arakan kecil pada Vesper, pada saat polyeleos, pada saat pembacaan Injil, pada saat doxology. Pada beberapa kebaktian, imam haruslah mengenakan bukan hanya phelonion saja tetapi busana gerejawi lengkap. Semua imam, tidak peduli berapa banyak yang melayani, haruslah berbusana lengkap pada pelaksanaan Liturgi Ilahi dan pada Ibadah Pagi pada Hari Paskah. Hanya rektor saja yang berbusana lengkap pada

1) saat melayani Ibadah Senja pada Hari Pertama Paskah,

2)pada saat dibawa keluarnya Salib pada peringatan Pengangkatan Salib, Minggu Salib, dan tanggal 1 Agustus,

3)pada Jumat Agung pada saat dibawa keluarnya Kain Kafan, dan pada Sabtu Kudus pada prosesi dengan Kain Kafan, dan

4) pada saat pemberkatan air di hari raya Teofani.(bersambung…)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *