Dogmatika

BUNGA RAMPAI IBADAH GEREJA ORTHODOX (lanjutan 13)

Ibadah Orthodox dilaksanakan oleh orang-orang khusus yang ditunjuk untuk tugas ini melalui penahbisan yang sah oleh Tuhan sendiri, yang meliputi hirarki gereja, atau klerus. Dalam Perjanjian Lama, sesuai dengan perintah Allah, nabi Musa memilih dan menguduskan orang-orang khusus untuk pelaksanaan ibadah: imam besar, para imam, dan orang-orang Lewi. Imam besar yang pertama ialah Harun saudara Musa, dan para imam pertama ialah putra-putra Harun. Mereka yang berani melaksanakan ibadah ini tanpa ditunjuk secara sah mendapatkan hukuman (mereka yang memberontak bersama Korah, Datan, dan Abiram). Imam Besar dan para Imam dibantu oleh Kaum Lewi. Demikianlah hierarki dalam Perjanjian Lama terdiri dari tiga tingkatan.

Di dalam Perjanjian Baru, Tuhan Yesus Kristus, setelah menyelesaikan tugas ilahi-Nya di bumi, menetapkan sakramen-sakramen dan mengajar manusia untuk menyembah Allah di dalam roh dan kebenaran, kemudian meninggalkan baik pengorganisasian gereja maupun pelaksanaan ibadah yang kelihatan kepada para rasul-Nya, memberikan pada mereka kekuatan yang penuh rahmat dan kuasa untuk melaksanakan sakramen-sakramen, mengajar orang dalam iman dan kesalehan, dan memimpin gereja. “Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga Aku sekarang mengutus kamu. Dan sesudah berkata demikian, Ia mengembusi mereka dan berkata: Terimalah Roh Kudus. Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni, dan jikalau kamu menyatakan dosa orang tetap ada, dosanya tetap ada.” (Yoh 20:21-23; 17:18; Mat 16:19; 18:18).

Dari keseluruhan murid dan pengikut-Nya yang begitu banyak, Tuhan Yesus Kristus hanya memilih dua belas Rasul, yang kepada mereka Ia memberikan kuasa untuk mengajar, melaksanakan ibadah, dan memimpin orang percaya secara rohani menuju keselamatan (Mat 23:19). Kuasa yang diterima Para Rasul dari Tuhan, secara bertahap diteruskan kepada para penerus mereka melalui pentahbisan. Yang pertama, sebagaimana kita lihat dari Kisah Para Rasul pasal 6, mereka menetapkan sebuah jenjang hirarki gerejawi yang lebih rendah untuk membantu mereka yaitu diakon. Pelayanan dari para diakon pertama ketika itu terdiri atas menolong orang-orang miskin, dan membantu para Rasul dalam pelaksanaan sakramen-sakramen. Ketika jumlah orang percaya semakin bertambah, Para Rasul memilih bagi diri mereka sendiri pembantu-pembantu baru, memperlengkapi mereka dengan kuasa untuk berkhotbah, melaksanakan ibadah, dan memimpin komunitas-komunitas gereja. Mereka yang dikuduskan untuk pelayanan ini melalui doa-doa dan penumpangan tangan oleh Para Rasul disebut “presbiter” atau” penatua”. Akhirnya, sebagai dampak dari semakin bertambahnya jumlah orang Kristen, Para Rasul, yang menyadari bahwa tidak mungkin bagi mereka untuk secara pribadi menunjuk para diakon dan presbiter di berbagai tempat, menetapkan sebuah jenjang tertinggi yang baru di dalam Gereja yaitu para “episkop”, yang kepada mereka Para Rasul memberikan seluruh kuasa mereka-kuasa bukan hanya untuk mengajar, melaksanakan sakramen, dan memimpin, namun juga untuk mereka menahbiskan para presbiter dan diakon, serta mengawasi perilaku mereka. Kata “episkop” dalam bahasa Yunani berarti “wali” atau “pengawas/penilik” (dari kata kerja “episkopeo” berarti “aku mengawasi”.Sejak awalnya baik Para Rasul dan kemudian para penerus mereka yaitu para Bapa Rasuli, yang secara suksesif meneruskan kuasa dan otoritas mereka kepada orang-orang lain yang terpelajar dalam hal Kitab Suci, dan meminta agar umat percaya menaati mereka sebagai penilik pada wilayah mereka masing-masing.

Js. Ignatius Sang Penyandang Allah (107 M), seorang Bapa Rasuli, dengan keras mengecam mereka yang tidak menaati episkop, presbiter, dan diakon mereka. Js. Ireneus (202 M), episkop Lyon, secara jelas membedakan superioritas hak-hak seorang episkop dan kelimpahan rahmat yang ada padanya, dan menyatakan bahwa para presbiter menerima anugerah rahmat dari para episkop. Ia menyatakan suksesi para episkop dan asal-muasalnya berasal dari Para Rasul sendiri. Menurut kata-kata Js. Siprianus dari Kartago, penunjukan para episkop didasarkan pada hukum ilahi dan diberikan kepada kita melalui Para Rasul Kudus, yang pertama-tama memperoleh keepiskopan mereka dari Tuhan Yesus Kristus. Para Rasul, menunjuk para episkop yang telah diuji secara rohani, sekaligus menyiapkan bagi mereka para penerus yang ketika mereka wafat, akan meneruskan pelayanan tersebut sehingga dengan cara itu suksesi dalam jenjang-jenjang gerejawi dapat terus terjaga, dan Tradisi Apostolik serta berita kebenaran tetap lestari, dengan demikian, melalui mata rantai tahbisan, semua episkop akan menjadi penerus Para Rasul.Dalam Perjanjian Baru, ada tiga jenjang keimamatan Gereja Kristen: yang tertinggi, episkop; di tengah, presbiter/penatua, dan yang terendah, diakon. Ketiga jenjang ini secara umum bergelar klerus.Masing-masing jenjang ini juga memiliki variasi masing-masing, tergantung pada tugas-tugas klerus yang bersangkutan, dan jabatan yang ia pegang. Demikianlah, para episkop dari wilayah-wilayah dan kota-kota yang penting dan bergelar episkop agung/arkhiepiskop, sedangkan para episkop dari sebuah metropolia atau ibukota disebut metropolitan atau exarkhi.Para episkop dari ibukota-ibukota kuno Roma, Konstantinopel, Aleksandria, Antiokhia, dan Yerusalem, sebegaimana juga beberapa kepala gereja lokal bergelar Patriarkh (bapa pemimpin). Para pembantu episkop yang memimpin dioses-dioses yang padat penduduknya bergelar wakil episkop/vicar bishop. Para presbiter yang mengepalai komunitas –komunitas paroki yang besar dan katedral memiliki gelar “protoierei” atau “protopriest/imam pertama”, dan memiliki hak lebih tinggi dari imam lainnya pada saat Liturgi Ilahi. Para imam dari gereja patriarkat, sinodal, ataupun istana mempunyai gelar kehormatan “presbiter”, yang pertama diantara mereka disebut “protopresbiter/presbiter pertama”. Para rahib dari jenjang imamat disebut “hieromonk”, mereka yang mengepalai biara disebut “abbas” atau “igumen”; dan mereka yang mengepalai biara-biara yang lebih besar disebut “arkhimandrit”. Pada masa kini, gelar-gelar tersebut bukan hanya diberikan berdasarkan posisi yang dimiliki, namun juga berdasarkan lamanya pelayanan, dan jasa-jasa khusus, sebagai penghargaan atau pembeda bagi klerus yang berdedikasi. Hal yang sama juga berlaku bagi para diakon tua di katedral-katedral yang digelari “protodiakon/diakon pertama”. Diakon monastik bergelar “hierodiakon” dan yang tertua “arkhidiakon”.Seseorang harus benar-benar menyadari bahwa dalam hal rahmat, tidak ada perbedaan antara seorang patriarkh dan seorang metropolitan, exarkhi, episkop agung, atau episkop, dalam hal rahmat mereka semua sederajat satu dengan yang lain. Perbedaan di antara mereka hanya terletak pada keutamaan kehormatan dan otoritas administratif. Setiap episkop, terlepas dari gelar apapun yang disandangnya kita sebut “imam tinggi”, “hirarki”, “yang dikuduskan”, arkhipastor”, dan “tuan/guru”. Demikian halnya dengan para imam, terlepas dari gelar kehormatan atau jenjang mereka, semuanya sederajat dalam hal rahmat. Demikian juga dengan para diakon. Jenjang keimamatan hanyalah tiga.Kaum klerus haruslah dibedakan dengan para pelayan gereja, yang hadir pada saat liturgi suci dan membantu para episkop, presbiter, dan diakon. Mereka ini ialah para subdiakon, pembaca atau pengidung, dan ponomar. Perbedaan antara klerus dan pelayan gereja ialah bahwa para klerus itu dikuduskan atau ditahbiskan, oleh episkop di altar pada saat Liturgi Ilahi dan menerima melalui penahbisan ini suatu rahmat imamat yang khusus; sedangkan para pelayan gereja ditunjuk untuk pelayanan mereka bukan melalui penahbisan, melainkan melalui hirotesia, yaitu penumpangan tangan oleh episkop, yang menandakan suatu berkat sederhana, diluar altar, yaitu di bagian tengah gereja sebelum Liturgi Ilahi pada saat sembahyang pada jam tersebut.

Subdiakon adalah pembantu diakon pada saat episkop sedang melayani. Ia membantu episkop untuk memakai busana gerejawi, memberikan baskom untuk mencuci tangan, dan menyodorkan dikiri dan trikiri, dan secara umum melayani episkop pada saat liturgi.Ponomar, istilah ini merupakan bentuk yang berubah dari gelar paramoni yang berarti “penjamu” yaitu seorang pelayan gereja yang ditugaskan di altar-pada masa kuno disebut pembawa lilin: ia memberikan pedupaan, menyalakan lampada, menyalakan dan membawakan lilin, dan membunyikan lonceng. Di dalam Ustav atau Typikon ia disebut “paraeklesiarkh” dan “penyulut kandilo” yaitu seorang yang menyalakan lampada. (bersambung…)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *