Dogmatika

BUNGA RAMPAI IBADAH GEREJA ORTHODOX (lanjutan 12)

Satu aspek penting dari gedung gereja Orthodox masa kini adalah lonceng, yang ditempatkan baik itu di atap gereja, di menara kubah, dekat pintu masuk gereja di sebuah tempat lonceng khusus, atau di dekat gereja di dalam sebuah bangunan khusus yang disebut menara lonceng.Pada masa penganiayaan umat Kristen berkumpul untuk beribadah tidak seperti sekarang yaitu ditandai dengan bunyi lonceng, tetapi melalui kesepakatan sebelumnya, atau melalui isyarat khusus yang disampaikan oleh para penyampai pesan secara rahasia. Sejak abad ke-4, ketika orang Kristen mulai diizinkan untuk beribadah secara terbuka, cara-cara terbuka untuk memanggil umat untuk beribadah mulai muncul. Di Mesir dan beberapa biara di Palestina digunakan terompet; di biara-biara lain di Palestina malahan menggunakan palu yang dipukulkan di pintu kamar/sel setiap rahib.Penggunaan lonceng pertama kali menyebar di sebelah Barat. Demikianlah pada abad VII-IX lonceng sudah digunakan secara luas di Perancis, Italia, Jerman, dan Spanyol. Hal yang sama tidak bisa dikatakan berlaku di Timur, dimana penggunaan lonceng hanya terbatas. Sebagai contoh misalnya dalam perjanjian antara Khalifah Umar dan Patriarkh Sofronius dari Yerusalem setelah pengepungan Yerusalem tahun 628, penggunaan lonceng tidak diperbolehkan. Pada abad IX, penguasa Venesia yaitu Ursus Patricius, berdasarkan permintaan dari kaisar Yunani Basilius orang Makedonia, mengirimkan 12 lonceng kuningan besar untuk gereja yang baru dibangun. Para penulis Yunani, ketika berbicara mengenai cara memanggil umat untuk beribadah hanya menyebutkan penggunaan “bila”. Ada tiga jenis bila: bila besar dan bila kecil, yang terbuat dari kayu, dan “hagiosidiron” atau bila besi yang berbentuk melengkung dan terbuat dari sebatang kuningan atau besi. Diperkirakan penggunaan lonceng mulai menyebar di Timur pada saat kedatangan tentara salib, dan mulai disebut campana karena lonceng-lonceng tersebut pertama kali dibuat di sebuah provinsi bernama Campana di Italia pada abad VII. Setelah direbutnya Konstantinopel oleh bangsa Turki yang tidak menyukai bunyi lonceng, maka lonceng-lonceng di timur menjadi tidak berguna lagi, walaupun sudah mulai menyebar penggunaannya di Rusia. Dapat dikatakan bahwa tidak ada tempat lain dimana pembunyian lonceng mengalami perkembangan dan penggunaan dalam liturgy yang begitu luas selain di Rusia. Orang-orang Rusia, yang secara alami sangatlah menyukai music menyalurkan kepada bunyi lonceng seluruh kekuatan perasaan religious mereka dan menciptakan bermacam-macam bunyi lonceng yang begitu kaya dan luarbiasa, yang menyentuh jiwa secara amat mendalam dan menggugahnya dengan berbagai sensasi dan perasaan saat berdoa.Sekarang ini lonceng gereja tidak hanya berfungsi sebagai penanda bahwa ibadah akan dilaksanakan di gereja, melainkan juga mengekspresikan kegembiraan yang meluap-luap dari gereja dan untuk mengumumkan saat-saat tertentu dalam ibadah kepada mereka yang tidak hadir dalam gedung gereja, sehingga dengan demikian menggugah mereka yang berada di luar gedung untuk segera bergabung dalam doa bersama dengan mereka yang ada di dalam gereja.Di dalam Ustav dan buku-buku liturgis, lonceng juga dikenal dengan berbagai istilah antara lain: bilo, klepalo, kampan, stake, dan genta. Tidaklah sulit untuk melihat bahwa yang pertama dari sebutan di atas berasal dari zaman dimana belum ada lonceng dan umat beriman dipanggil untuk beribadah dengan sebilah papan atau lempeng besi yang dipukul dengan martil atau tongkat. Klepalos juga bisa terbuat dari batu. Bahkan setelah digunakannya lonceng, bila dan klepala juga masih tetap dilestarikan di beberapa tempat, dan digunakan pada beberapa waktu, misalnya pada waktu puasa pada Pekan Kudus.Di gereja-gereja biasanya terdapat beberapa lonceng yang bervariasi ukuran dan intensitas bunyinya. Di gedung-gedung gereja yang besar biasanya ada lonceng-lonceng seperti berikut ini:

1. Lonceng pesta perayaan,

2. Lonceng kebangkitan,

3. polyeleos,

4. Lonceng harian/mingguan, dan

5. Lonceng kecil.

Selain itu ada juga lonceng-lonceng lain yang lebih kecil untuk memanggil orang.Bunyi lonceng sendiri ada bermacam-macam sesuai dengan waktu dan kalender liturgy tahunan. Bunyi yang satu untuk hari-hari perayaan, yang satu untuk minggu biasa, yang satunya lagi untuk Puasa Agung, dan yang lainnya untuk upacara pemakaman.Ada dua macam bunyi lonceng yang utama: bunyi blagovjest dan bunyi proper. Blagovjest adalah jenis bunyi dimana satu lonceng atau kadang-kadang beberapa lonceng dipukul, tidak sekaligus, tapi bergiliran. Jenis bunyi blagovjest yang bergantian disebut juga “perezvon” atau “perebor”. Bunyi proper adalah jenis bunyi yang diperoleh ketika dua atau lebih lonceng dipukul secara bersamaan. Ketika bunyi beberapa lonceng berirama tiga, maka disebut “tri-zvon” atau “trezvon”. Pada beberapa kebaktian yang tidak terlalu besar, hanya bunyi blagovjest yang terdengar, sedangkan pada kebaktian yang lebih besar blagovjest diikuti dengan trezvon. Pada perayaan-perayaan khusus gereja, trezvon juga dibunyikan setelah ibadah: jadi di semua hari-hari masa Paskah, dan setiap hari Minggu setelah Liturgi Ilahi. Bunyi lonceng juga diperdengarkan pada saat prosesi. Pada semua sembahyang Matin pada masa perayaan, ketika polyeleos dinyanyikan, trezvon juga dibunyikan.

Selama Liturgi, bunyi sebuah lonceng diperdengarkan pada momen paling penting dari liturgy yang dikenal dengan nama kanon Ekaristi; yaitu mulai dari “Sungguhlah patut dan benar menyembah Sang Bapa, Sang Putra, dan Sang Roh Kudus” sampai dengan dinyanyikannya “Sungguhlah Patut ” sehingga untuk alasan inilah bunyi lonceng tersebut dikenal dengaan bunyi “Sungguhlah Patut”.Perezvon dibunyikan 1) pada saat pembacaan Injil Paskah pada liturgi hari pertama Paskah, diakhiri dengan trezvon pada akhir pembacaan; 2)pada Sembahyang Subuh Pengangkatan Salib, Minggu Salib, dan tanggal 1 Agustus, pada akhir Doxologi Agung, ketika salib dikeluarkan; 3) pada Jumat Agung pada saat Kain Kafan dikeluarkan, dan pada Sabtu Kudus pada saat Kafan dibawa mengelilingi gereja; dan 4) saat jenazah dikeluarkan, upacara pemakaman, dan penguburan umat yang meninggal.Satu jenis perezvon yang agak berbeda dibunyikan pada saat sebelum pemberkatan air pada hari-hari perayaan, dan juga saat penahbisan seorang uskup.Bunyi lonceng untuk berbagai kebaktian juga berbeda-beda nadanya: terkadang kedengaran ceria, terkadang murung. Bunyi lonceng pada masa Puasa Agung Catur Dasa terdengar “sepi” yakni lambat dan perlahan. Sebaliknya, bunyi yang terdengar gembira adalah bunyi yang menurut Ustav disebut sebagai “ bunyi dalam keindahan”.Durasi bunyi lonceng telah ditentukan bagi pembunyi lonceng, yaitu berdasarkan petunjuk Ustav, ia harus membacakan untuk dirinya sendiri baik “Yang Tak Bersalah” (kathisma ketujuhbelas) atau Mazmur kelimapuluh. Selama masa Puasa Agung, lonceng dibunyikan sebelum jam-jam sembahyang harian: sebelum sembahyang Jam Ketiga tiga kali, sebelum Jam Keenam enam kali, sebelum Jam Kesembilan Sembilan kali, dan sebelum Sembahyang Purna Bujana dua belas kali.Selain fungsi-fungsi gerejawi yang disebutkan di atas, kita juga menggunakan lonceng untuk memperingatkan adanya kebakaran, yang disebut “membunyikan tocsin”, dan selama badai salju untuk membantu para pengelana menentukan arah mereka di jalan.(bersambung…)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *