Dogmatika

BUNGA RAMPAI IBADAH GEREJA ORTHODOX (lanjutan 10)

Altar, sebagaimana di gedung-gedung gerejaa Kristen kuno, sebagaimana juga hari ini, selalu dipisahkan dari bagian gedung gereja lainnya dengan sebuah pembatas khusus. Pada zaman kuno, pembatas ini tidak lebih dari sebuah pagar dengan bagian atas yang menonjol dan sebaris ikon yang diletakkan di atasnya. Dari asalnya yang berupa penghalang rendah, kemudian berkembang menjadi sebuah dinding tinggi yang seluruhnya ditutupi dengan beberapa susun ikon yang disebut ikonostasis. Js. Simeon dari Tesalonika yang pada abad ke-14 menulis tentang gedung gereja, tidak menyebutkan apa-apa mengenai ikonostasis yang tinggi seperti zaman sekarang ini. Dari sini dapat disimpulkan bahwa ikonostasis tinggi yang seperti pada zaman sekarang barulah muncul pada sekitar abad ke-15 sampai 16. Meskipun demikian, ada juga tradisi yang menyebutkan bahwa ikonostasis yang agak tinggi sudah diperkenalkan oleh Js. Basilius Agung, ini dimaksudkan agar pada saat ibadah perhatian dari klerus tidak teralihkan.

Pada ikonostasis, sebagaimana juga pada pembatas altar kuno, terdapat tiga pintu: pintu tengah yang agak lebar yang disebut “gerbang raja” (sebab melaluinyalah Kristus Sang Raja Kemuliaan, di dalam Kurban Kudus, masuk), dan pintu utara dan selatan yang agak sempit, yang disebut diakonal, sebab melalui pintu-pintu inilah pada Liturgi Ilahi para diakon keluar masuk. Hanya prosesi keluar yang khidmat yang diperbolehkan melewati gerbang raja.

Pada masa kini, ikonostasis sendiri terdiri dari lima deretan bertingkat.Pada tingkatan pertama yang paling bawah, disebelah kanan gerbang raja, ditempatkan ikon Kristus Sang Juruselamat, dan di sebelah kiri ikon Bunda Allah. Di sebelah kanan dari ikon Kristus ditempatkan ikon dari perayaan atau janasuci yang kepadanya gedung gereja itu dikonsekrasi—atau disebut ikon gereja. Ikon-ikon ini disebut “ikon lokal”. Pada dua panel pintu gernang raja ditempatkan gambar Kabar Sukacita bagi Sang Theotokos, dan keempat Penginjil;Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes, dua pada masing-masing panel. Pada pintu utara dan selatan ditempatkan ikon Penghulu Malaikat Mikhael dan Gabriel, atau Arkhidiakon Stefanus dan Filipus. Bagian atas dari ikonostasis sendir disebut “tablo”.Pada tingkatan kedua, tepat di atas gerbang raja, sebuah ikon Perjamuan Mistika ditempatkan yang mengajarkan bahwa barangsiapa yang ingin masuk ke dalam Kerajaan Sorga, yang disimbolkan dengan altar, haruslah dilayakkan untuk duduk makan di meja perjamuan Tuhan, yang dipersiapkan di dalam altar di atas meja suci, dan dipersembahkan bagi umat dari dalam gerbang raja. Di masing-masing sisi ikon Perjamuan Mistika di sepanjang tingkatan ditempatkan ikon-ikon Keduabelas perayaan Tuhan dan Sang Theotokos.

Di tingkat ketiga, di atas Perjamuan Mistika, sebuah ikon yang disebut “deisis” yang berarti “doa/permohonan” ditempatkan. Deisis menggambarkan Tuhan Yesus Kristus, dan disamping-Nya ada Bunda Allah dan Js. Yohanes Sang Pembuka Jalan, menghadap kepada-Nya dengan sikap tubuh memohon/berdoa. Di masing-masing sisi dari Deisis ditempatkan ikon dari Dua Belas Rasul.Di tingkat keempat, Bunda Allah digambarkan di bagian tengah bersama dengan Anak Sejak Kekal, sementara di sepanjang sisinya adalah pra nabi Perjanjian Lama yang menubuatkan inkarnasi Putra Allah. Mereka digambarkan dengan tanda-tanda yang sama dengan yang mereka gunakan untuk menggambarkan misteri inkarnasi: Harun dengan tongkat yang berbunga, Daud dengan Tabut Emas, Yehezkiel dengan gerbang yang tertutup, dst.Dan akhirnya, pada tingkat kelima yang tertinggi, Tuhan atas Hari Sabat digambarkan bersama dengan Anak Tunggal yang dipangkuan-Nya pada bagian tengah, dan Para Bapa Perjanjian Lama disepanjang sisinya. Puncak ikonostasis dimahkotai dengan Salib Suci—gambar dari tanda yang olehnya keselamatan telah diberikan kepada manusia dan pintu-pintu Kerajaan Sorga telah dibuka.Di bagian dalam altar, di depan gerbang raja, sebuah tirai digantungkan—dalam bahasa Yunani “katapetasma”—yang dalam buku-buku liturgi, dalam kaitannya dengan gerbang raja sebagai gerbang luar, kadang-kadang disebut sebagai “tirai dalam”, “pintu tinggi ”, “pintu dalam”, atau terkadang “zaponi”(tirai). Pembukaan tirai ini menandakan pengungkapan rahasia keselamatan kepada dunia, sebegaimana juga pembukaan gerbang raja menyimbolkan pembukaan gerbang Kerajaan Sorga kepada dunia.Ikonostasis, yang memisahkan altar dari bagian tengah gereja ditempatkan pada ketinggian yang sama dengan altar. Bagian yang tinggi ini tidak berhenti sampai pada ikonostasis saja, melainkan berlanjut ke depan hingga ke tengah gereja, dan disebut “soleas” (dalam bahasa Yunani, ‘soleas’ berarti “peninggian”). Dengan demikian, soleas adalah seperti kelanjutan dari altar di sebelah luar.Bagian soleas yang terletak berhadapan dengan gerbang raja biasanya berbentuk langkan sentengah lingkaran, dan disebut “ambon” yang dalam bahasa Yunani berarti “kenaikan”. Pada ambon inilah Kitab Injil dibacakan, litani dilafalkan, dan khotbah dibacakan. Demikianlah ambon menyimbolkan gunung, kapal, dan pada umumnya semua tempat tinggi dimana Tuhan naik untuk berkhotbah sehingga orang-orang dapat mendengar-Nya dengan lebih baik. Ambon juga menandakan batu dimana malaikat member salam kepada para pembawa rempah-rempah dengan kabar gembira tentang Kebangkitan Kristus.Pada masa kuno, ambon ditempatkan di tengah-tengah gedung gereja, dan ini mengingatkan kita pada mimbar masa kini, yang terbuat dari batu atau logam. Di sisi-sisi soleas, tempat-tempat yang disebut “klirosi” disiapkan bagi para pembaca dan penyanyi. Para Pembaca dan Penyanyi, yang dimasa lampau dipilih melalui undian, menjadi bagian dari “undian Allah”, dan dipisahkan dari umat lainnya untuk pelayanan khusus bagi Allah disebut “klerik” (dari kata Yunani “kliros” yang berarti “undian”. Dalam buku-buku liturgy, klirosi sebelah kiri dan kanan biasa disebut “choir/paduan suara” sebab para penyanyi yang berdiri disitu melambangkan paduan suara malaikat yang menyanyikan pujian bagi Allah.

Di dekat masing-masing klirosi biasanya berdiri sebuah gonfalon. Ini adalah sebuah ikon yang digantung pada sebuah tangkai dalam bentuk panji militer. Ini adalah, sebagaimana adanya, panji dimana para prajurit Kristus berkumpul dan melancarkan perang dengan musuh-musuh dari keselamatan kita. Panji-panji ini biasanya ditempatkan di bagian depan dari arak-arakan pada pesta-pesta perayaan gereja.Di sekeliling klirosi biasanya ditempatkan pembatas yang memisahkan mereka yang sedang melayani dengan umat yang sedang berdiri di gereja. Disini juga biasa diletakkan obor, yang dibawa serta bersama sebatang lilin yang dinyalakan pada bagian depan perarakan.(bersambung…)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *