Dogmatika

BUNGA RAMPAI IBADAH GEREJA ORTHODOX (lanjutan 1)

Oleh karena hubungan yang erat antara roh dan tubuh, manusia tidak dapat mengesampingkan ungkapan lahiriah dari gerakan-gerakan di dalam rohnya. Sebagaimana tubuh bertindak atas jiwa, menghubungkan kesan-kesan tertentu pada jiwa melalui indra-indra yang ada pada tubuh, demikian juga roh dengan cara yang sama menyebabkan gerakan-gerakan tertentu pada tubuh. Sama halnya dengan pikiran-pikiran, perasaan, dan pengalamannya yang lain, perasaan imaniah seseorang tidak bisa tinggal tanpa pengungkapan keluar. Keutuhan dari seluruh bentuk dan tindakan lahiriah yang mengekspresikan sikap iman batiniah dari jiwa mengandung apa yang disebut upacara keagamaan atau ibadah. Upacara keagamaan atau ibadah dalam satu atau lain bentuk adalah suatu ciri yang mutlak dari setiap agama; melalui ibadah tiap agama mewujudkan dan mengungkapkan dirinya, sebagaimana jiwa menyatakan kehidupannya melalui tubuh. Demikianlah, ibadah adalah ungkapan lahiriah dari iman melalui doa-doa, korban-korban dan ritual-ritual.Ibadah sebagai suatu ungkapan lahiriah dari kecenderungan batin manusia kepada Allah berasal dari suatu masa dimana manusia pertama mengenal Allah. Ia mengenal Allah ketika, setelah penciptaan manusia, Allah menampakkan diri kepadanya di Firdaus dan memberinya ketetapan-ketetapan pertama yaitu tidak memakan buah pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat (Kej.2:17) dan memelihara Sabat (Kej 2:3), dan memberkati ikatan perkawinannya (Kej 1:28). Ibadah purba dari manusia pertama di firdaus tidaklah berupa upacara-upacara gerejawi sebagaimana pada masa kini, namun berupa kebebasan mereka mengungkapkan rasa hormat mereka dihadapan Allah sebagai Pencipta dan Pemelihara mereka. Selain itu, perintah mengenai hari ketujuh dan menahan diri dari memakan buah pohon terlarang telah meletakkan dasar untuk penetapan hal-hal yang berhubungan dengan liturgi. Disinilah terletak awal dari perayaan-perayaan dan puasa-puasa kita. Di dalam pemberkatan Allah terhadap ikatan perkawinan Adam dan Hawa, kita melihat penetapan sakramen pernikahan.Setelah kejatuhan manusia pertama ke dalam dosa dan pengusiran mereka dari Firdaus, ibadah purba mengalami perkembangan lebih lanjut dalam bentuk upacara persembahan korban. Korban-korban ini ada dua jenis: yang pertama dilakukan dalam suasana khidmat dan riang sebagai ungkapan rasa syukur kepada Allah atas segala berkat yang diterima dari-Nya, dan yang kedua dilakukan ketika dirasa perlu memohon pertolongan kepada Allah dan mohon pengampunan atas dosa-dosa.Persembahan korban dimaksudkan sebagai pengingat yang terus-menerus bagi manusia akan dosa mereka dihadapan Allah, dosa asal yang terus membayangi mereka, dan fakta bahwa Allah dapat mendengar dan menerima doa mereka hanya dalam nama korban yang selanjutnya harus dipersembahkan untuk penebusan dosa-dosa mereka oleh Keturunan Perempuan yang dijanjikan Allah di Firdaus, yaitu Ia yang akan datang ke dalam dunia untuk melakukan karya penebusan manusia, Sang Juruselamat dunia, Kristus Sang Mesias. Dengan cara ini, ibadah umat pilihan itu memiliki sifat mendamaikan, bukan di dalam dan dari dirinya sendiri, melainkan karena ibadah tersebut merupakan suatu bayangan dari korban agung yang suatu hari nanti akan dipersembahkan oleh Sang Allah-Manusia , Tuhan kita Yesus Kristus, yang tersalib untuk dosa-dosa seluruh dunia. Pada zaman para leluhur mulai sejak Adam hingga Musa, ibadah dilaksanakan ditengah kaum keluarga masing-masing leluhur ini, dan dipimpin oleh para kepala keluarga itu sendiri, pada tempat dan waktu yang mereka tetapkan. Dari zaman Musa, ketika umat pilihan Allah, Israel Perjanjian Lama yang memelihara iman mereka kepada Allah Yang Esa itu semakin bertambah banyak, ibadah mulai dilaksanakan atas nama segenap bangsa itu dengan dipimpin oleh pribadi-pribadi yang ditunjuk khusus untuk hal ini, yang dikenal sebagai para Imam Besar, Imam, dan orang Lewi sebagaimana yang dikisahkan dalam Kitab Keluaran dan belakangan dalam Kitab Imamat.Tatacara ibadah Perjanjian Lama dari umat Allah disampaikan secara khusus dengan segala rinciannya di dalam hukum upacara yang disampaikan melalui Musa. Berdasarkan perintah Allah sendiri, Nabi Musa menetapkan untuk pelaksanaan ibadah suatu tempat (kemah pertemuan), waktu-waktu (perayaan dan puasa), pelaksana-pelaksananya, dan bentuk ibadah itu sendiri. Pada masa pemerintahan Raja Salomo, sebagai pengganti kemah pertemuan yang dapat dipindah-pindahkan itu, sebuah Bait Allah Perjanjian Lama yang indah dan agung dibangun di Yerusalem, dimana, di dalam Perjanjian Lama itu merupakan satu-satunya tempat dimana ibadah kepada Allah Yang Benar dilaksanakan.Ibadah Perjanjian Lama, yang ditetapkan dengan hukum sebelum kedatangan Sang Juruselamat dibagi menjadi dua bentuk: ibadah Bait Allah, dan ibadah di sinagoga. Ibadah yang pertama bertempat di dalam Bait Allah. Ibadah ini terdiri atas pembacaan Sepuluh Perintah Allah dan beberapa bagian lain dari Kitab Suci Perjanjian Lama, persembahan korban, dan akhirnya lantunan kidung-kidung. Akan tetapi, selain Bait Allah, sejak zaman Ezra sinagoga-sinagoga mulai dibangun, dimana kebutuhan akan hal ini sangat dirasakan khususnya oleh orang-orang Yahudi yang tidak dapat beribadah di Bait Allah tapi menginginkan suatu pendidikan keagamaan yang bersifat komunal. Di sinagoga orang-orang Yahudi berkumpul pada setiap hari Sabtu untuk berdoa, menyanyi, dan membaca Kitab Suci, dimana juga ada terjemahan dan penjelasan mengenai berbagai upacara keagamaan bagi mereka yang lahir di tempat pembuangan, yang tidak mengenal bahasa suci dengan baik.Dengan datangnya Sang Mesias ke dalam dunia, Kristus Sang Juruselamat, yang mempersembahkan diri-Nya sendiri bagi dosa-dosa seluruh dunia, ritual ibadah Perjanjian Lama kehilangan semua signifikansinya, dan digantikan oleh ibadah Perjanjian Baru, yang pada dasarnya terletak misteri puncak dari Tubuh dan Darah Kristus, yang ditetapkan dalam Makan Malam Terakhir oleh Tuhan Yesus Kristus sendiri, yang disebut Ekaristi Suci, atau Sakramen Pengucapan Syukur (“evkharistia” dalam bahasa Yunani berarti “Pengucapan Syukur”). Inilah Korban Tak Berdarah, yang menggantikan persembahan korban berdarah yaitu anak lembu dan domba dari Perjanjian Lama yang menggambarkan Korban Agung dari Anak Domba Allah, yang menanggung dosa dunia. Tuhan Yesus Kristus sendiri memerintahkan para pengikut-Nya untuk melaksanakan sakramen yang ditetapkan oleh-Nya (Luk 22:19; Mat 28:19), untuk berdoa baik secara pribadi maupun berjemaah (Mat 6:5-13; Mat 18:19-20), dan untuk memberitakan pengajaran Injil Ilahiah-Nya ke seluruh bumi (Mat 28:19-20; Mark 16:15).Dari pelaksanaan sakramen-sakramen dan doa-doa, serta pemberitaan Injil inilah ibadah Perjanjian Baru tersusun. Kerangka dan sifatnya kemudian ditetapkan sepenuhnya oleh Para Rasul. Sebagaimana nampak dari Kitab Kisah Para Rasul, pada masa mereka mulai bermunculan tempat-tempat khusus dimana orang-orang percaya berkumpul untuk berdoa, yang di dalam bahasa Yunani disebut “ekklesia”, atau “gereja”, sebab anggota-anggota Gereja berkumpul di dalamnya. Demikianlah, Gereja sebagai kumpulan orang-orang percaya yang disatukan dalam satu organisme Tubuh Kristus, memberikan namanya kepada tempat dimana perkumpulan mereka berada. Sebagaimana di dalam Perjanjian Lama, dimulai sejak zaman Musa, ibadah dilaksanakan oleh orang-orang tertentu yang ditunjuk untuk itu—imam besar, imam, dan orang Lewi–, demikian juga dalam Perjanjian Baru ibadah dilaksanakan oleh rohaniwan yang secara khusus ditunjuk melalui penumpangan tangan para Rasul: episkop,presbiter, dan diakon. Dalam Kisah Para Rasul dan surat-surat rasuli, kita temukan indikasi yang jelas bahwa tiga jenjang keimamatan dalam Perjanjian Baru tersebut berasal dari Para Rasul Kudus sendiri.Setelah Para Rasul ibadah terus berkembang, dengan penambahan doa-doa dan kidung-kidung suci baru, yang isinya sangat membangun. Penetapan akhir mengenai tatanan khusus dan keseragaman dalam ibadah Kristen dicapai oleh para pengganti Para Rasul, berdasarkan perintah yang diberikan kepada mereka:”tetapi segala sesuatu harus berlangsung dengan sopan dan teratur” (1 Kor 14:40)Demikianlah, pada masa kini, ibadah Gereja Orthodox meliputi doa-doa dan upacara-upacara suci dimana orang-orang Kristen Orthodox mengungkapkan iman, pengharapan, dan kasih, dan melaluinya mereka memasuki suatu persekutuan mistika dengan-Nya dan menerima dari-Nya kekuatan rahmat untuk suatu kehidupan yang kudus dan memuliakan Allah, sebagaimana layaknya seorang Kristen sejati.

(bersambung…)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *