Berkat Rohani

Berkat Harian Bapa Rohani, 29 Januari 2021

Shalom Alaikhem be Shem Ha Massiakh

Para Romo, Saudara-saudara dan Saudari-saudariku serta Anak-anak Rohaniku semuanya, Kitab Suci mengatakan bahwa Allah:”….oleh Kasih karunia-Nya yang besar….telah menghidupkan kita…. sekalipun kita telah mati oleh kesalahan-kesalahan kita….” (Efesus 2:4-5). Ini berarti kita yang secara rohani telah mati oleh kesalahan-kesalahan, dan oleh dosa, dihidupkan kembali bersama Kristus oleh “Kasih Karunia” Allah, bukan saja waktu kita mulai percaya dan dibaptiskan menyatu dengan kematian, penguburan serta Kebangkitan Kristus ( Kolose 2:12-12, Roma 6:3-4), tetapi juga ketika sudah percaya lama, namun karena keteledoran kita beriman, jiwa kita mengalami keadaan mati, sehingga Kasih Karunia yang kita terima dalam Sakramen Baptisan itu meskipun tidak bisa hilang namun terkubur oleh kesalahan-kesalahan, dosa dan hawanafsu kita. Jika oleh pertobatan kita dihidupkan kembali oleh Kasih Karunia itu, tak mungkin kita tidak menyadari akan kenyataan itu, tetapi masih mungkin kita tak memberikan perhatian kepadanya, dan dengan demikian, sesudah mengalami kehidupan dalam keadaan dihidupkan oleh Kasih Karunia itu untuk sementara, kita menukik lagi kedalam lingkaran rutin kegiatan-kegiatan tubuh dan roh yang biasa kita lakukan. Kuasa Kasih Karunia yang membangkitkan dan menghidupkan ini tidak membuat telah lengkap dan telah selesainya tindakan pertobatan dari dosa-dosa kita, itu baru hanya memulai pertobatan itu, dan masih ada pekerjaan yang harus kita lakukan; dan pekerjaan ini adalah sesuatu yang sangat rumit. Karena Kitab Suci mengajarkan bahwa meskipun Allah itulah ” yang mengerjakan didalam kamu baik’ kemauan maupun pekerjaan” menurut kerelaanNya ( Filipi 2:13) yaitu menurut Kasih karunia-Nya; namun kita tetap diperintahkan :”kerjakan Keselamatanmu dengan takut dan gentar” (Filipi 2:12). Dan semua hal yang terkait dengan pekerjaan ini dapat dicapai dalam dua gerakan kehendak – perpalingan dari dunia jasmaniah yang diluar kedalam diri batiniah kita, dan perpalingan selanjutnya dari diri sendiri kepada Allah. Dalam gerakan kehendak yang pertama, kita mendapatkan kembali kuasa atas diri kita yang hilang terkubur dalam hawanafsu tadi, dan dalam gerakan yang kedua kita membawa diri kita sebagai persembahan kepada Allah – sebanding dengan persembahan sukarela dari korban Bakaran dalam Perjanjian Lama. Dalam gerakan yang pertama kita memutuskan untuk meninggalkan dosa, dan dalam gerakan kedua, kita mendekat kepada Allah, kita mengucapkan nazar untuk semata-mata menjadi milikNya di sepanjang hidup kita.
Kiranya Allah Bapa kita, di dalam Nama FirmanNya yang telah menjadi Manusia Tuhan kita Yesus Kristus, oleh kuasa RohNya yang Kudus, menghidupkan kita kembali diri dan roh kitab yang mati terkubur oleh hawanafsu, sehingga kita boleh berbalik kepada Allah, dan mempersembahkan hidup kita ini semata-mata untuk Dia. Amin.

+Romo/Abuna Daniel Byantoro

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *