Berkat Rohani

Berkat Harian Bapa Rohani, 24 Desember 2020

Shalom Alaikhem be Shem Ha Massiakh

Para Romo, Saudara-saudara dan Saudari-saudariku serta Anak-anak Rohaniku semuanya, jika kita menghendaki kesenyapan dari kata-kata dan berkehendak untuk menyendiri hanya dengan Allah yang satu itu, maka jika kita melihat sesuatu yang kita anggap nampak terlihat mata ataupun secara mental dan angan-angan, baik itu didalam hati atau diluarnya, – misalnya: wajah atau bentuk penampakan Kristus, atau penampakan malaikat, atau gambaran dari orang Kudus, atau gambaran cahaya yang bersinar yang dibayangkan oleh pikiran – jangan pernah menerima hal itu, tetapi dengan penuh kemarahan akan hal itu tolaklah dan jangan mau percaya padanya, bahkan jikalau itu kita anggap baik, sampai kita tanyakan hal itu pada seorang bapak rohani Orthodox yang berpengalaman. Tingkah laku yang kita lakukan yang sedemikian itu adalah hal yang paling praktis, bermanfaat serta berkenan kepada Allah. Selalu dalam doa dan perenungan kita, harus kita jaga agar pikiran kita kosong dari warna-warna, dari gambaran-gambaran, dari bentuk-bentuk, dari penampilan-penampilan, dari kwalitas ataupun jumlah, tetapi semata-mata hanya mendengarkan kata-kata dari Doa Puja Yesus yang kita ucapkan :’ Ya Tuhan Yesus Kristus, Anak Allah yang Hidup, kasihanilah hamba, orang berdosa ini”, pelajari dari bunyi kata-kata doa tadi serta renungkan secara mendalam didalam gerak-gerak batiniah dari hati kita. Karena Bapa Suci Yohanes Klimakus mengatakan:” Permulaan dari doa adalah mengusir keluar pikiran-pikiran yang masuk sesegera mungkin ketika pikiran itu memunculkan diri. Langkah pertengahannya adalah adalah untuk menjaga pikiran itu terpaku pada kata-kata Doa Puja Yesus yang kita ucapkan itu.Dan kesempurnaan dari doa batin ini adalah keterpakuan dan ke-terpana-an batin kepada Tuhan Yesus Kristus. ( Pendakian psl 28). Juga Janasuci Nilus mengatakan mengenai hal yang sama ini demikian:” Doa tertinggi dari mereka yang sempurna adalah keterpakuan dan ke-terpana-an dari pikiran pada Tuhan Yesus Kristus serta terpaku dan terangkatnya pikiran itu sama sekali mengatasi apa saja yang bersifat alamiah dan ragawi, ” ketika “Roh sendiri berdoa untuk kita kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tak terucapkan” (Roma 8:26), di hadirat Allah, yang melihat hati seperti sebuah buku yang terbuka, yang menyatakan keinginannya dengan tanda-tanda tanpa suara yang tertulis didalamnya. Demikianlah terjadinya seperti yang dialami oleh Rasul Paulus yang “diangkat ketingkat yang ketiga dari “Sorga” ( = “ouranos” = ‘ langit” yaitu langit yang mengatasi atmosfir sebagai langit pertama dan antariksa yang mengatasi luar angkasa dari alam-semesta sebagai langit kedua) ” entah di dalam tubuh entah di luar tubuh, aku tidak tahu” (II Korintus 12:2). Demikian juga seperti yang dialami oleh Rasul Petrus, dimana ” naiklah Petrus keatas rumah untuk berdoa” dan ” rohnya diliputi kuasa ilahi” (“ekstasi”, yaitu mengalami keberadaan yang mengatasi hal-hal alamiah yang ragawi) – Kisah Rasul 20:9-10). Tahap dan derajat doa yang kedua dibawah tahap dan derajat doa yang lebih tinggi ini adalah apabila kata-kata Doa Puja Yesus itu diucapkan dengan pikiran dan hati yang penuh tobat yang mengikuti kata-kata Doa itu, pikiran kita sadar sepenuhnya akan Dia yang kepadaNya pikiran itu menghaturkan doanya itu. Tetapi doa yang terputus-putus dan terpotong-potong oleh kekuatiran-kekuatiran kehendak daging dan tercampur-baur dengannya itu jauh dari tingkat yang diharapkan bagi orang yang berdoa itu. Tetap tinggallah dalam hal ini dan jangan kita terima apapun sampai hawanafsu kita dapat ditundukkan, selalu pertanyakan pengalaman kita dalam doa itu dan bertanyalah pada bapa rohani Orthodox yang berpengalaman, supaya tak mudah ditipu, disesatkan serta tak jatuh pada ilusi rohani.
Kiranya Allah, Bapa kita, didalam Nama FirmanNya yang telah menjadi Manusia, Tuhan kita Yesus Kristus, oleh kuasa RohNya yang Kudus, menganugerahkan kita tingkat dan derajat doa yang sedemikian itu dalam pendakian dan perjuangan rohani kita. Amin.

Romo/Abuna Daniel Byantoro

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *