Berkat Rohani

Berkat 15 November 2020

Shalom Alaikhem be Shem Ha Massiakh,

Para Romo, Saudara2 dan Saudari2ku, serta Anak-anak Rohaniku semua, bagi umat Kristen Orthodox hari Minggu, adalah perayaan Hari Kemenangan Kristus. Yaitu Kemenangan atas kematian oleh Kebangkitan Nya ( Roma 6:9), Kemenangan atas dosa, yang intinya adalah ketidak-taatan, oleh ketaatan mutlakNya diatas Salib ( Filipi 2:8, Roma 5:19) yang sekaligus Kemenangan atas hutang-hutang ketaatan yang mendakwa kita karena ketak-mampuan kita untuk menggenapi tuntutan dan perintah2 hukum Allah dalam Taurat dalam ketidak-taatan kita (Roma 8:7) dan Kemenangan atas para makhluk roh jahat bawahan Iblis -” pemerintah dan penguasa”- ( Kolose 2:14-15) yang menguasai dan memusuhi manusia (Efesus2:2, 6:12, I Petrus 5:8) dan kemenangan atas Iblis, Raja dan Penguasa roh-roh jahat itu sendiri oleh penguburanNya ( Ibrani 2:16, I Yohanes 3:8). Itu kita lakukan dengan melakukan Liturgi – leitos = umat awam & ergos= karya/pekerjaan – sebagai wujud “Ucapan Syukur” (Eukharistia/Ekaristi) dalam Perjamuan Kudus ( I Korintus 10:16). Disitulah kita manunggal/menyatu dengan Tubuh dan Darah Kristus ( Yohanes 6:56, I Korintus 10:16) yang telah menang atas Kematian, Dosa, Tuntutan Hukum Taurat serta Iblis dan Roh-roh Jahatnya tadi. Sehingga kemenangan-kemenangan Kristus tadi secara kongkrit menjadi milik kita secara sakramental dan rohani, dan kita menerima “Kehidupan” Kristus itu sendiri (Yohanes 6:57-58). Melalui kuasa Roh Kudus yang bekerja dalam Darah Sakramental Kristus yang kita “minum” (I Korintus 12:13) secara ” Mysteri” kita menerima kuasa dan kekuatan, dalam peperangan kita melawan keinginan-keinginan daging dengan segala hawa hafsu bagi mematikan dan menyalibkannya ( Efesus 5:19-21, Kolose 3:5dst, Galatia 5:24), sehingga itu memberikan kekuatan kepada kita untuk mencapai kekudusan oleh karya Roh Kudus yang bekerja melaluinya. Itulah sebabnya Janasuci Ignatius dari Antiokhia pada abad kedua, yang adalah murid Rasul Yohanes dan pengganti ketiga dari Rasul Petrus yang selama 7 tahun menjadi pimpinan (Episkop) Gereja Antiokhia, sebelum Sang Rasul itu pergi ke Roma dan kemudian mati sebagai Martir disana, menyebut Ekaristi/ Perjamuan Kudus itu sebagai “Obat Ketak-binasaan” ( “the Medicine of Immortality”). Kita ke Gereja bukan sekedar untuk mendengarkan kotbah, namun terutama sekali untuk mendekati Mezbah/altar bagi menyambut dan manunggal dengan Tubuh dan Darah Sakramental Kristus dalam Ekaristi itu. Disitulah kita juga diingatkan untuk terus-menerus berperang melawan kehendak daging hawa nafsu kita melalui kekuatan yang diberikan Roh Kudus yang berkarya melalui sarana Sakramen Ekaristi yang kita sambut dengan Iman itu, Sambil kita berjuang menuju kekudusan oleh kuasa Roh tadi juga, melalui kehidupan Doa2, puasa, ketaatan pada firman, keikutsertaan dalam ibadah2 dan Perayaan2 Gereja, mempraktekkan cinta kasih pada sesama, serta menjadi pemberita dan saksi dari Injil Kristus dalam hidup sehari-hari kita. Amin

Archimandrite Rm Daniel Byantoro

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *